
Beberapa bulan selanjutnya aku terus menjalankan proyek untuk membantu semua klub, bersama anggotaku kami mendatangi banyak klub lainnya dan menawarkan diri untuk membantu di sana.
Erin adalah seseorang yang pandai berolah raga serta memiliki tubuh atletik karena itu, dia adalah bantuan yang kami butuhkan.
Kami membantu klub tenis, catur dan juga beberapa klub secara bertahap. Tidak ada yang khusus tentang itu walau kami membantu itu masih tidak akan menjadikan klub mereka jadi juara di setiap pertandingan, lagipula yang membuat hal itu adalah kerja keras mereka sendiri.
Nurman yang pergi mengikuti lomba sains kembali dengan berita baik, dia memenangkan kompetisinya dan kembali setelah satu Minggu di luar negeri. Bagaimanapun proyek miliknya sesuatu yang tidak bisa dilakukan kebanyakan siswa sepertinya.
Di ruangan klub itu, Nurman mengecek kembali apa yang dihadapannya sementara kami hanya memperhatikannya dengan seksama.
"Bangunlah Mimi."
Saat dia membuka matanya kami jelas terlihat sangat senang, Mimi awalnya hanya hidup dalam bentuk 2D sebagai sistem dari kecerdasan buatan akan tetapi sekarang dia menjadi sesuatu yang nyata.
Aku mungkin akan mengatakannya dia seorang android atau robot semacamnya, penampilannya masih seperti sebelumnya.
"Dia hidup," kataku sedangkan Mimi memiringkan kepalanya sampai pintu ruangan terbuka yang mana yang menerobos masuk itu adalah Ibu Sania dan Mei.
Masing-masing dari mereka membawa minuman dingin serta setumpuk pizza hangat.
Mei berteriak dengan semangat.
"Untuk sekolah yang akan menjadi sekolah internasional tahun depan dan juga kenaikan kalian menjadi kelas tiga, bersulang."
__ADS_1
"Bersulang."
Entah kenapa waktu terasa lebih cepat saat kita bersenang-senang. Kami pulang lebih telat dari biasanya, ponselku menunjukkan tepat pukul 9 malam di mana seharusnya kami selalu sudah berada di rumah antara pukul 7-8 malam.
Mulai besok sampai dua Minggu ke depan kami diberikan libur akhir semester, sampai saat itu kurasa aku bisa bersantai.
Natalie yang berada di sampingku meregangkan tangannya.
"Sampai sekolah dimulai lagi aku akan tinggal di rumahmu, aku sudah meminta izin pada bibi dan ibuku dan mereka bilang oke."
"Oke jidatmu, kenapa orang tua bisa seceroboh itu membiarkan dua orang siswa SMA tinggal di satu atap."
"Yah, kita tidak tinggal berdua jadi semuanya tidak masalah bukan."
"Memang benar."
"Permisi."
"Aneh, karena lampunya masih gelap."
Aku menekan tombol penerangan dan selanjutnya.
"Kejutan."
__ADS_1
Keluargaku dan keluarga Natalie berada di satu tempat mengenakan atribut pesta serta menembakan kofetti pada kami berdua.
"A-apa ini?"
"Pesta kenaikan kalian berdua, kami berniat merayakannya sekarang."
Ini mirip seperti pesta ulang tahun, aku tidak tahu aku bisa memakannya atau tidak terlebih dua perayaan dalam satu hari sungguh berlebihan.
"Cepat potong kuenya kalian berdua."
Aku dan Natalie menggangguk mengiyakan dan bersama-sama memotongnya.
Ibu Natalie mendesah pelan dengan wajah kecewa.
"Sebenarnya aku ingin menyerahkan formulir ini, hanya saja sayangnya kalian belum memenuhi batas umur untuk mengajukannya."
Aku sangat terkejut sedangkan Natalie hanya diam dengan wajah memerah.
"Sejak kapan?" tanyaku tanpa mendapatkan jawaban.
Yang dipegang Rosalie adalah sebuah pengajuan pernikahan ke KUA. Hanya adikku dan adik Natalie saja yang sangat menikmati pesta ini, mereka sama-sama memakan kue dan ibu kami mengobrol sesuatu yang tidak penting.
"Aku tidak sabar untuk menggendong cucu."
__ADS_1
"Aku juga."
Aku tidak tahu harus bilang apa kurasa dengan tidur semuanya akan kembali sedia kala.