
Aku membantu Mawar berdiri dan duduk di kursinya, wajahnya tampak memerah meski begitu kami lebih mengkhawatirkan keadaannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku demikian.
"Aku baik-baik saja."
Erin bergegas membuat teh untuknya.
"Silahkan."
"Terima kasih, aku akan mengikat dulu tali sepatunya."
Itu memang harus segera dilakukan.
"Jadi apa yang bisa kubantu untuk ketua OSIS?"
"Panggil saja Mawar, aku ingin meminta bantuan kalian?"
"Bantuan seperti apa itu?" balas Natalie kembali.
"Sebenarnya kucingku hilang, aku mohon temukan dia."
Erin memotong.
"Ciri-cirinya?"
"Dia kucing oranye sebesar ini, dan ada tanda lahir di kakinya berwarna putih."
Kami langsung terdiam, kucing yang dia maksud sudah jelas kucing yang dipotret oleh Natalie.
"Maksudnya kucing ini?" Natalie menunjukkan ponselnya namun yang dia tunjukkan bukan kucing tersebut melainkan foto aku dengannya yang sedang di cafe.
"Maaf, apa kamu sedang pamer ke arahku yang masih jomblo?" perkataannya tampak suram.
Natalie akhirnya menyadari kesalahannya lalu menunjuk foto kucingnya.
"Ini dia."
Dia langsung melupakan hal barusan.
__ADS_1
"Ah, benar... ini kucingku, di mana kamu menemukannya?"
"Sekitar sini, kita bisa pergi untuk melihatnya."
"Terima kasih banyak."
Kami memutuskan untuk pergi ke lokasi yang akan ditujukan Natalie, saat Mawar hendak berjalan lagi dia terjatuh ke lantai.
"Bagaimana bisa coba?" teriakku.
"Ini mungkin yang disebut dengan kesialan," kata Nurman menegaskan layaknya seorang ilmuwan terkenal.
Di sisi lain Erin meminum air lalu menyemburkannya ke arah Mawar.
"Apa yang kau lakukan?" teriakku.
"Mungkin saja ada roh jahat yang menempel padanya, aku berusaha mengusirnya."
"Ini malah lebih seperti pelecehan."
"Aku akan mengelapnya."
Aku buru-buru membantu Mawar lalu membersihkan kaca matanya dengan pakaianku, saat aku melakukannya kacanya langsung retak.
"Aaaaahh," aku memegangi kepalaku frustasi.
"Jangan khawatir, hal ini sudah biasa," kata Mawar mengambil kacamatanya lalu meletakkannya di wajahnya.
Bagiku ini tidak wajar, bahkan bagian di mana hanya Natalie yang tidak membuat masalah, itu sangatlah langka.
"Kenapa Arta melihatku seperti itu?"
"Kukira kau akan melakukan sesuatu padanya."
"Aku ini cewe baik-baik, lihat aku bisa meminjamkan tisu padanya."
"Terima kasih, dibanding ini, aku harus menemukan kucingku segera mungkin."
Entah kenapa kami semua merasa bersalah padanya.
__ADS_1
Di jalanan umum, kami terus memanggil kucing miliknya, hingga akhirnya kami menemukannya duduk di atas tong sampah.
"Syukurlah aku menemukanmu Kitty."
Kucing itu mengeong sebagai balasan.
"Aku pikir, dia terpilih menjadi ketua OSIS karena kesialan juga."
"Kami juga berfikiran demikian," jawab Nurman.
"Apa aku harus menyemburnya lagi."
Orang ini mau ditangkap sepertinya.
Masalah ini akhirnya selesai dengan cepat.
Inginnya seperti itu, akan tetapi keesokan harinya Mawar kembali ke ruangan klub dan meminta bantuan lagi.
Aku bertanya padanya.
"Saat klub ini tidak ada, bagaimana kau mengatasi kesialanmu?"
"Ini bukan kesialan, aku hanya sedikit ceroboh."
Jika benar, level cerobohnya berada di tingkat paling atas.
"Aku biasanya membiarkannya berlalu begitu saja, aku tidak memiliki teman."
Seketika udara di sekitar kami terasa begitu suram.
"Maaf sudah bertanya."
"Duduklah di sini, aku akan menyemburmu dengan air, sebelumnya aku makan jengkol dan pete."
"Sudah kukatakan jangan lakukan itu."
"Aku buruk soal hal seperti ini, aku masih banyak pekerjaan," Nurman melarikan diri.
Yang tersisa hanya kami bertiga.
__ADS_1