
Selepas mandi aku duduk di ranjang selagi melirik ke arah ponsel yang kutinggalkan di meja, di layarnya sendiri tertera nama Natalie yang telah menghubungiku sebanyak 20 kali.
Aku yang melihatnya sedikit heran jadi kuputuskan untuk meneleponnya balik.
Panggilan tersambung.
"Natalie ada apa? aku baru selesai mandi."
"Di rumahku tiba-tiba saja padam listrik, ibu dan adikku sedang pergi keluar, bagaimana ini?"
Aku menjawabnya dengan nada datar.
"Kau kan bisa keluar menggunakan senter ponselmu."
"Aku terlalu takut, jadi kuputuskan untuk bersembunyi di dalam selimut... tolong aku."
Aku tidak tahu ini kejahilannya atau apa, yang jelas aku pergi untuk memeriksanya.
Para penghuni apartemen yang lain tampak berada di luar dan di antara mereka kulihat security juga sedang sibuk menenangkan para penghuninya.
Aku bertanya padanya.
"Ada sesuatu yang terjadi?"
"Sepertinya ada kerusakan listrik, syukurlah tidak ada siapapun yang berada di lift."
"Berapa lama lagi akan menyala."
"Entahlah, sejak tadi pihak PLN belum datang juga."
Aku buru-buru berlari ke kamar Natalie, karena tidak bisa menggunakan lift aku menaiki tangga dengan lampu senter dari ponselku, sebelumnya aku telah diberitahu kode rumahnya jadi itu membuatku mudah masuk ke tempat tinggalnya.
Syukurlah jika itu pintu mereka menggunakan baterai cadangan saat listrik mati.
"Natalie?"
__ADS_1
"Aku di sini, masuklah."
"Apa kau yakin?"
"Tentu."
Memasuki kamar gadis sebenarnya sesuatu yang salah, kendati demikian aku juga tidak bisa membiarkan Natalie menangis.
Aku sudah tidak peduli lagi dan masuk ke dalam kamarnya, hampir seluruh kamarnya terlihat seperti gadis biasanya.
"Sudah tak apa, cepat keluar dari selimut."
"Arta."
Dia menyibak selimut ke samping lalu melompat ke arahku, sakit eratnya pelukannya aku kesulitan bernafas.
Awalnya kukira ini hanya kejahilannya saja, tapi syukurlah aku datang kemari. Aku memegangi tangannya lalu berjalan bersamanya ke luar apartemen.
"Pelan-pelan saja?"
Kami menuruni tangga sampai akhirnya bisa keluar dari sana, Natalie hanya duduk selagi bersandar di bahuku.
"Terima kasih sudah datang."
"Aah... iya."
Sepertinya Natalie takut sendirian saat gelap.
Tak lama kemudian ibu dan adiknya keluar dari mobil lalu mendekat ke arahku.
"Natalie, kamu baik-baik saja?"
"Aku tidak apa?"
"Syukurlah," balas ibunya menarik nafas lega sebelum akhirnya melirik ke arahku.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Arta."
Aku mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Kurasa listriknya akan lama menyala, aku pikir kami akan menginap di hotel saja sementara waktu."
"Ya."
Aku membantu Natalie berdiri kemudian menyerahkannya pada ibunya.
"Sampai nanti Arta."
"Sampai nanti."
"Dadah kakak."
"Dadah."
Aku hanya melihat kepergian mereka dari kejauhan, terkadang Natalie membuatku sangat khawatir meskipun aku tahu dia adalah gadis yang kuat.
Semenjak itu aku mulai bermimpi aneh, tentang seorang gadis kecil yang menangis di depan taman hiburan. Aku menghampirinya untuk bertanya namun sebelum gadis kecil itu membuka mulutnya aku malah lebih dulu terbangun karena alarm ponsel yang berbunyi keras.
Sebenarnya siapa gadis itu?
Sekali lagi aku bertanya demikian sampai ibuku datang membangunkanku.
"Hari ini bukannya study tour, jika belum bangun kamu akan terlambat loh"
"Aku sudah bangun," balasku demikian.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi lalu keluar dari pintu selagi membawa barang bawaanku. Tepat di sana Natalie telah menungguku.
Kami berada di satu kelompok bersama Nurman jadi tidak ada alasan untuk saling berjauhan.
Karena kami hanya bertiga, Natalie akan tidur bersama ibu Sania jadi semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1