
Seusai latihan aku mentraktir minuman dingin untuk Natalie.
Natalie meminumnya sedikit lalu mendekatkan wajahnya padaku.
"Barusan Arta lihat, aku bisa menguasai sepedanya."
"Aku melihatnya," kataku lemas selagi berjongkok di depan Natalie untuk memeriksa luka di kakinya.
Aku sudah bilang untuk jangan memaksakan diri tapi dia malah seperti ini.
"Sakit."
"Tahan sedikit, aku harus membersihkan lukanya dulu sebelum menenteskan obatnya."
"Langsung diplester saja."
"Mana mungkin bisa kulakukan."
Setelah beberapa saat aku akhirnya selesai melakukannya.
"Arta terima kasih."
"Paling tidak jangan menendang wajahku lagi saat aku mengobati lukamu."
"Barusan cuma reflek."
Aku bisa melihat jejak kaki Natalie ada di wajahku. Aku menarik nafas panjang sebelum mengulurkan tanganku.
"Mari pulang, aku yang akan bawa sepedanya."
"Aku dibonceng."
Aku mengangguk sebagai jawaban, dengan luka seperti itu dia tidak mungkin berjalan.
Aku mengambil posisi di depan sementara Natalie berada di belakangku selagi melingkarkan tangannya yang ramping di pinggangku, dia bahkan menyadarkan pipinya di sana juga.
"Nyaman sekali."
"Kau mengatakan sesuatu Natalie?"
__ADS_1
"Bukan apa-apa."
Sepeda yang akan digunakan dalam perlombaan merupakan sepeda dengan dua kursi karena itu sepeda ini hanya digunakan untuk latihan saja.
Di ruangan klub Erin tampak memegangi tangan Natalie dengan nada khawatir.
"Kamu terluka Natalie, apa kamu terjatuh atau mungkin digebukin orang? Beberapa orang ada yang tidak setuju jika kamu berpacaran dengan Arta."
"Yah, jikapun ada, bukannya harusnya aku yang diincar."
"Wajahmu terlalu menakutkan untuk ditantang berkelahi."
Aku hanya bisa duduk dipojokan selagi memeluk lututku dengan wajah suram, orang ini jadi lebih kejam.
Nurman tertawa terbahak-bahak dan aku melemparkan kertas ke arahnya.
"Aku sedang menonton video lucu."
"Berisik."
Sudah jelas dia menertawaiku.
Bagi kami malah mobil yang sangat sulit.
Erin tampak kehilangan kata-katanya sebelum membuka mulutnya kembali.
"Berjuanglah, apa mungkin Natalie ikut lomba goes untuk pasangan?"
"Benar, aku dan Arta akan mengikutinya."
"Begitukah, kurasa aku juga akan ikut... Nurman kau jadi pasanganku?"
"Ogah."
Erin langsung mencekik lehernya.
"Lepaskanku, aku tidak suka berolahraga apalagi bersepeda... lebih baik kau mengajak pemuda itu, siapa namanya Arta?"
"Ronaldo," kataku singkat.
__ADS_1
"Benar Ronaldo, tunggu... bukannya itu nama pemain bola?"
"Kalian ini, aku belum mengenal baik Renaldi apa yang akan dipikirkannya jika aku mengajaknya?"
"Lalu apa yang dipikirkannya jika kau bersepeda denganku?"
"Ugh, dia akan mengira kita pacaran."
"Lagipula saat dia tahu kau gadis yang sedikit tomboi dia akan menjauh darimu."
Erin duduk di sebelahku selagi memeluk lututnya seperti yang kulakukan sekarang.
Natalie segera menenangkannya.
"Jangan khawatir Erin, pria juga menyukai gadis yang sedikit tomboi... benarkan Arta?"
Aku segera mengalihkan pandanganku, jika aku menjawab 'Iya' Natalie akan langsung berpenampilan aneh keesokan harinya dan jika aku bilang 'Tidak' maka Erin akan mencekikku, manapun merupakan hal merepotkan.
Kedua gadis di ruangan ini segera memolototiku.
"Aku tidak tahu."
Keduanya mendesah pelan.
Lagipula inilah jawaban aman untuk semuanya. Tak lama kemudian ponsel Nurman berbunyi hingga kami diam-diam mendengarkan.
"Kau berada di sana, aku sebentar lagi ke sana."
Kami serempak saling berbisik satu sama lain.
"Dari cewek."
"Sudah jelas begitu."
"Um."
"Karena tidak ada yang datang ke klub, aku pulang duluan," Nurman menutup pintu.
Kami jelas tidak membiarkan kesempatan ini hilang, kami memutuskan untuk mengikutinya dari belakang.
__ADS_1