
Pagi berikutnya di atap sekolah, Nurman menyodorkan minuman dingin padaku yang bersandar ditembok selagi merasakan hembusan angin sepoi-sepoi, jika diperhatikan kantong mata di matanya telah menghilang seutuhnya dan dia terlihat seperti siswa pada umumnya.
"Terima kasih."
Kami berdua bersulang sebelum meminumnya.
"Bagaimana soal kencanmu?"
"Kacau sekali, aku ditarik-tarik ke sena ke sini lalu pergi ke berbagai tempat yang mereka sukai.. terkadang Mei selalu mengeluh soal tinggi badannya."
"Begitu, pasti merepotkan," ucap Nurman selagi menatap jauh ke orang-orang yang berisitirahat di taman sekolah.
Ekpresinya tanpa terlihat tertekan.
"Apa kau baik-baik saja, khususnya soal kompetisi yang akan kau ikuti?"
"Sedikit, aku perlu membalas mereka dengan menjadi pemenangnya. Dulu aku dikucilkan karena tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka tapi sekarang aku akan maju dengan keinginanku sendiri."
Walau pun tanpa melakukannya sekolah ini sebentar lagi akan menjadi sekolah internasional, saat pendaftaran siswa baru dibuka aku yakin akan banyak siswa dari luar negeri yang datang khususnya dari Australia.
Kudengar di sana bahasa Indonesia dipelajari secara mendalam bahkan tak hanya itu bahasa daerah seperti bahasa Jawa dan Sunda pun diajarkan dibeberapa fakultas tinggi.
Kurasa kedepannya kami akan memiliki hubungan yang baik.
Tepat saat aku memikirkannya Erin dan Natalie muncul dengan kantong kresek yang mereka bawa dari kantin, hari ini kami memutuskan untuk mencoba variasi makanan dari kantin lalu memberikan ulasan pada pemiliknya.
Bisa dibilang ini sebuah permintaan yang diajukan ke klub kami.
__ADS_1
"Kita bisa memakan semuanya dengan gratis adalah sebuah keajaiban," ucap Erin yang mendapatkan anggukan Natalie.
"Jika mereka menyuruhku untuk membayar aku akan melemparkan satu juta pada mereka."
Itu tindakan tidak sopan, jadi jangan ditiru.
Aku dan Nurman menggelar tikar kemudian menjatuhkan seluruh makanan tersebut tepat di tengah-tengah, kebanyakan adalah makanan ringan seperti keripik serta makanan manis yang dijual murah.
Natalie menambahkan.
"Semua ini makanan yang tidak laku di kantin, aku sudah mencari tahu bersama Erin kebanyakan siswa di sekolah ini melewatkannya."
"Bagiku ini terasa enak," tambah Nurman lalu membuka laptop dari tasnya lalu menambahkan.
"Aku akan mencari di dunia maya, terkadang rumor di internet bisa menjatuhkan beberapa merek perusahaan hingga menurunkan penjualan."
Dia memang jenius.
"Aku akan menanyakan hal ini pada teman-temanku, aku yakin kita bisa mengetahui dengan mudah kenapa makanan ini kurang digemari."
Tingkat level bersosialisasi berbeda jauh denganku.
"Aku cukup membeli semuanya, jadi masalah selesai."
Natalie hanya ingin mengatakan itu.
"Pencarianku nol besar, bagaimanapun denganmu Erin?"
__ADS_1
"Aku dapat satu."
Kami semua berkerumun di dekatnya, Natalie memeluk Erin sementara aku dan Nurman mengintip dari samping.
"Katanya ada seseorang yang melarang siswa membelinya?"
"Siapa?" jelas perkataan itu yang kami pikirkan sekarang.
"Dia si kembar bersaudara."
Kedua idol itukah.
"Kita bisa menanyakannya setelah pulang sekolah," atas pernyataanku semuanya mengangguk mengiyakan dan kembali menikmati makanan yang ada di depan kami selagi mengobrol ringan.
Aku melirik mereka bertiga lalu bergumam tanpa terdengar siapapun.
Sejak dulu aku tidak pernah berpikir akan memiliki kehidupan di mana dikelilingi teman-teman baik seperti sekarang.
Dunia ini selalu memiliki sebuah kejutan yang tidak terduga.
"Buka mulutmu Arta? Aku akan menyuapimu."
"Aku bisa melakukannya sendiri."
"Ayolah jangan malu-malu, Nurman dan Erin tidak keberatan kita sedikit mesra."
"Benar sekali."
__ADS_1
"Orang yang punya pacar, mati saja."
Perkataan Nurman masih monoton seperti biasanya, kusarankan dia mencari kata yang baru yang lebih bervariatif.