
Beberapa hari berikutnya aku kembali ke Rusunku dan menemukan Natalie tengah duduk di depan pintuku, ia tertidur.
Aku sudah memberitahukannya soal kedatanganku hari ini, tapi setidaknya harusnya dia tidak perlu menungguku seperti ini.
Saat aku hendak membangunkannya dia membuka matanya lalu melompat untuk memelukku.
"Natalie?"
"Arta pergi tanpa berpamitan, aku kita Arta tidak akan kembali lagi kemari."
"Tentu saja aku akan kembali lagipula aku bersekolah di sini."
"Kau membuatku khawatir."
"Anu, bisakah kau berhenti memelukku seperti ini, tetangga mungkin akan salah paham."
Natalie menggelengkan kepalanya lalu berkata.
"Aku ingin sedikit lebih lama."
Apa hubungan pertemanan itu seperti ini? Aku tidak terlalu mengerti tapi aku tahu bahwa Natalie terlihat sangat lega.
"Maaf sudah membuatmu khawatir."
"Aku membeli beberapa bahan makanan, akan kubuatkan sesuatu."
"Masuklah."
Aku membuka pintu lalu menyalakan lampu ruangan, kamar mandi dan dapurnya tidak terlalu luas meski begitu ini masih bisa ditinggali satu keluarga dengan dua kamar tidur.
"Kalau begitu aku akan langsung memasaknya silahkan Arta mandi dulu."
"Baiklah," aku melihat Natalie yang mengenakan celemek dan mulai memotong-motong bahan masakannya.
Aku berkata ke arahnya setelah mengambil handuk.
__ADS_1
"Ibu dan adikku akan tinggal di sini juga nanti sementara rumah kami di desa akan kami jual untuk membangun restoran kecil di kota."
"Heh, begitukah... aku penasaran seperti apa wajah bibi dan adikmu, aku ingin segera menyapanya."
Apa ini juga termasuk hubungan pertemanan? Dibanding memikirkannya aku memutuskan segera pergi ke kamar mandi lalu berendam di bak mandinya sampai suara ketukan terdengar dari pintu.
"Arta mau aku bantu menggosok punggungmu?"
"Berhentilah menggodaku, kau harus fokus memasak agar tidak gosong."
"Aku tahu."
Dia sebenarnya tidak tahu.
Setelah selesai, aku duduk di meja makan selagi memperhatikan Natalie yang dengan senang mengaduk sup daging kentang.
"Saat Arta pergi ke desa, aku sudah belajar membuatnya jadi sekarang aku seorang master."
Sebenarnya itu masakan sederhana meski begitu aku pura-pura kagum.
"Lain kali aku akan membuatkan kare untukmu."
"Aku menantikannya."
"Ngomong-ngomong Arta, aku tahu bahwa pria suka hal begituan tapi alangkah baiknya kau menyembunyikan ini di tempat aman loh."
Aku terkejut saat Natalie menunjukkan majalah yang dipegangnya.
"Kau memeriksa kamarku?" teriakku.
"Karena penasaran jadi kulakukan."
"Aku ingin mati," balasku selagi menjatuhkan keningku di meja, pantas saja dia belum selesai memasak apapun bahkan sesudah aku mandi.
"Kakak berdada besar yang panas, siap membuat jantungmu berdebar-debar."
__ADS_1
"Tolong jangan dibaca," teriakku frustasi.
"Ini sangat tidak baik, jadi aku akan membakarnya, apa tidak masalah?"
"Tolong lakukan," balasku demikian selagi menghela nafas panjang.
Aku bertanya pada Natalie.
"Bagaimana soal liburan akhir pekan yang dijanjikan ibu Sania?"
"Acaranya diundur, tanpa Arta hal itu jelas tidak akan menyenangkan lagipula tidak ada seorang yang bisa kugoda."
Natalie memang hobi sekali menggodaku.
"Silahkan dimakan."
"Aku makan."
Aku mengambil semua makanan yang ditaruh di meja, tentu saja ada omelet rice juga yang menjadi makanan favoritku.
"Natalie juga makan."
"Aku tidak usah."
"Sudahlah, cepat mangap."
"Kalau Arta memaksa, apa boleh buat?"
Saat aku menyuapinya pipi Natalie merona.
"Enak sekali, apa boleh kuanggap barusan ciuman tidak langsung?"
Bahkan di saat seperti ini dia tetap saja menggodaku, syukurlah aku menggunakan sendok berbeda.
"Sejak kapan ada dua sendok? Mari buang yang satunya."
__ADS_1
"Jangan dilempar keluar jendela," aku berusaha menghentikannya.