
Nurman mulai menjelajah laptopnya, ia masuk ke data sekolah dan mencari nama Ena Itsuki. Tindakannya ini mencerminkan bahwa dia ahli dalam meretas serta perbuatan ilegal lainnya.
"Lahir di Osaka, pandai menggambar manga, pendiam dan lebih suka tertutup, beberapa karyanya pernah digarap menjadi anime yang cukup populer di negaranya, letak kursinya..."
Aku, Erin, Nurman dan Natalie melirik ke arah Cynta.
Padahal bangkunya bersebelahan, dia harusnya memiliki kesempatan untuk mengobrol.
"Kenapa kalian melihatku? Di kelas dia tampak misterius, aku pikir akan sangat menyenangkan bisa berteman dengannya."
"Kenapa kamu tidak mencoba menyapanya?" tanya Natalie.
"Aku pemalu, bagaimana jika dia tidak ingin bicara denganku?"
Aku meragukannya, datang kemari sendirian kemari apa bisa disebut orang yang pemalu?
"Memiliki kesukaan yang sama bisa membuatmu mudah berkomunikasi, kurasa mulailah untuk mencoba membaca komik juga."
"Begitukah, kalau begitu aku akan langsung pergi ke toko buku sekarang?"
"Tunggu sebentar, lebih baik kau pergi bersama Nurman saja, dia bisa sedikit membantu."
"Aku?"
"Sudahlah pergi sana."
Natalie mendorong keduanya keluar pintu hingga hanya kami bertiga di ruangan ini, setelah satu 40 menit mereka berdua kembali dengan tumpukan komik di tangan mereka.
"Aku membeli semua loh."
"Beberapa komik buatan Ena sendiri."
"Gambarnya sangat indah, semuanya berisi tentang percintaan remaja."
__ADS_1
"Kurasa topik seperti ini memang sering dibahas para gadis," kataku ringan.
Keesokan harinya saat jam istirahat di atap sekolah, Cynta berjongkok selagi memegangi kepalanya frustasi.
"Gagal, aku terlalu gugup untuk berbicara... bagaimana ini?"
Ini malah terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha mengakui perasaannya.
"Apa boleh buat, aku akan sedikit membantu?"
"Terima kasih banyak."
Aku mengunjungi kelas milik Cynta bersamanya, selagi mengintip dari jendela. Kelas satu yang melihatku mulai menjaga jarak dengan pura-pura tak melihat.
"Ah, uangku jatuh di mana ya?"
"Mungkin di kamar mandi."
"Benar."
"Jangan masuk ke dalam rokku."
Terutama yang itu.
"Aku kehilangan kunci rumahku, bentuknya Hello Kitty, kau melihatnya?" saat pria itu melihat wajahku dia memucat.
"Apa?" kataku singkat.
"Mungkin terjatuh di depan sekolah, maafkan aku."
Cynta yang berdiri di sampingku tampak menahan tawanya.
"Arta memang menakutkan."
__ADS_1
"Aku tidak menakutkan, ngomong-ngomong apa itu yang namanya Ena?"
"Benar, bagaimana dia tampak menarik bukan?"
Aku kira dia memiliki wajah suram akan tetapi malah sebaliknya, ia memotong rambut hitamnya sebahu dengan hiasan bando merah muda.
Tubuhnya terlihat ramping serta memiliki kulit putih salju, ia seperti seorang gadis yang akan muncul selama 1000 tahun sekali.
Banyak gadis di sekelilingnya yang mencoba mendekatinya akan tetapi karena silau tidak ada yang mampu melakukannya.
"Karismanya luar biasa."
"Semua orang sangat kesulitan mendekatinya."
"Kurasa aku juga akan kesulitan, ayo pergi."
"Tunggu, jangan melarikan diri... bukannya kamu akan membantuku?"
Aku hanya mendesah pelan, karena sudah di sini apa boleh buat. Saat aku hendak melangkah masuk ke dalam kelas beberapa laki-laki dari kelas lain lebih dulu mendahuluiku.
Mereka sepertinya menaruh ketertarikan pada Ena, akan tetapi saat mereka mencoba mendekatinya pria di kelasnya langsung menghalangi.
Awalnya mereka terlihat culun namun ketika berusaha melindungi Ena mereka berubah menjadi berandal.
Contohnya pria gemuk itu, dia tadinya hanya duduk dengan ekpresi ramah tapi sekarang dia berubah, kancing seragamnya terlepas, kacamatanya dibuang serta rambutnya yang mirip mangkuk berubah menjadi super seiya.
"Kalian berani sekali mengganggu tuan putri kami, jika kalian bersikeras lewati mayat kami dulu," katanya mengintimidasi.
Perubahan sifatnya sangat jauh sekali.
Mereka semua mulai berhamburan keluar kelas sementara teman sekelas Ena berteriak meriah seolah berada di dalam pesta.
Cynta menepuk punggungku.
__ADS_1
"Sekarang giliranmu."
"Aku merasakan firasat buruk tentang ini, jangan datang ke rumah sakit jika aku terluka parah nanti."