
Bersamaan sang mentari pagi yang menghangatkan semua siswa mulai memasuki gerbang, di antara pelajar asing maupun lokal, aku dan Natalie berjalan melewatinya.
"Selamat pagi kalian berdua," yang menyapa kami adalah Erin dengan seragam barunya kemudian disusul Nurman.
"Pagi."
Kami membalasnya dengan perkataan sama.
"Kalian tampak berbeda sekarang."
"Benarkah, aku tidak merasa ada yang berbeda," balas Erin sementara Nurman lebih tertarik dengan siswa-siswa berambut pirang yang melewati kami.
"Tak kusangka kepala sekolah itu benar-benar membuat sekolah ini sampai sejauh ini, kurasa dia hanya orang yang suka menghalu."
"Siapa yang kau katakan menghalu?"
"Kepala sekolah mungil itu."
"Maaf saja karena tubuhku mungil."
Nurman memekik kaget selagi melompat saat menyadari bahwa Mei telah sejak tadi berada di sampingnya. Berbeda dari sebelumnya Mei mengenakan pakaian formal setelan jas serta kacamata untuk menyembunyikan identitasnya.
"Akan buruk jika kepala sekolahnya tidak muncul di hari penerimaan siswa baru jadi kuputuskan untuk menyamar, bagaimana menurutmu Arta?"
"Itu sangat cocok denganmu Mei."
"Benarkah?"
"Yah tidak perlu tersipu malu seperti itu juga," kataku lemas.
__ADS_1
"Kalau begitu aku duluan, pastikan kalian datang ke aula penerimaan."
Kami mengangguk mengiyakan sebelum Ibu Sania yang datang menghampiri kami. Dia juga mengenakan setelan yang sama hanya saja warnanya sedikit cerah.
Kita memiliki banyak guru mungil di akademi ini, bisa dibilang perbandingan tinggi orang Asia dan Eropa benar-benar terlihat jelas.
"Anda baik-baik saja Ibu Sania?"
"Aku baru bangun tidur, kepalaku pusing dan tubuhku gemetaran dan aku belum sarapan."
Banyak sekali keluhannya pada pagi hari.
Erin menawarkan dirinya.
"Bagaimana kalau aku belikan bubur di pinggir jalan, masih ada 20 menit sebelum pembukaan."
"Terima kasih banyak, tolong letakan di mejaku.... ini uangnya."
Erin pergi ke luar gerbang sekolah sementara kami bertiga pergi ke aula penerimaan, kami diminta untuk membuat barisan bersama kelas lainnya.
Sepertinya Erin juga sudah berada di barisan kelasnya.
Tepuk tangan meriah terdengar saat sosok kepala sekolah naik ke atas podium dengan penuh gaya.
"Namaku Nyonya X, aku adalah kepala sekolah di sini... selama ini aku selalu menyembunyikan indentitasku tapi untuk momen sejarah ini aku memutuskan untuk menyapa kalian semua, sekolah ini baru saja diresmikan sebagai sekolah internasional banyak hal baru dari sekolah ini yang akan menanti kalian di masa depan tapi semua itu akan terasa lebih menyenangkan dari biasanya...."
Walau dia masih menyembunyikan namanya paling tidak pidatonya berjalan lancar. Di kelas baru itu aku duduk di kursiku selagi bertanya-tanya siapa yang akan duduk di dekatku.
Dan jawabannya datang dengan cepat, dia adalah Mei.
__ADS_1
"Untuk tahun ini mari berjuang bersama."
Natalie dan Nurman yang duduk di depanku memicingkan matanya. Nurman jelas dipindahkan ke kelas kami tanpa pemberitahuan.
"Kekuasaan kepala sekolah mengerikan."
"Harusnya aku duduk di sebelah Arta, dasar kucing garong," ucap Natalie.
"Mari sesekali berbagi."
"Yah, aku bukan barang."
Mei tersenyum jahil.
"Apa boleh buat mari kita bertukar."
Aku akhirnya duduk dengan Natalie sementara Nurman memiliki ekspresi kesal di wajahnya.
"Ini akan menjadi tahun mengerikan bagiku."
"Apa maksudmu? Kau beruntung bisa duduk bersama seorang gadis cantik sepertiku."
Kini ada dua pasangan kursi yang akan menarik perhatian banyak orang.
Aku memberikan usulan.
"Bagaimana kalau aku duduk dengan Nurman dan kalian duduk bersebelahan?"
Mei maupun Natalie saling memelototi penuh permusuhan.
__ADS_1
Kurasa bukan ide bagus, di saat seperti inilah sosok Erin dibutuhkan.