
Di kelas itu.
"Selamat pagi Arta."
"Pagi Natalie."
Aku melemparkan tasku di meja sebelum menyentuhkan pipiku di sana, sementara itu Natalie terlihat melirikku dengan khawatir.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Bukan apa-apa, aku cuma belum sarapan karena terlambat."
"Heh, itu berbahaya... bagaimana kalau Arta pingsan saat pelajaran nanti?"
"Yah, nggak sampai segitunya kali."
Tinggal lima menit lagi sampai bel berbunyi, bahkan jika aku memakan bekalku yang dibuat Natalie sekarang juga tidak akan sempat.
Ngomong-ngomong soal bekal, Natalie benar-benar melarangku untuk membawanya sendiri, dia lebih memilih memasak porsi lebih banyak agar kami bisa memakannya bersama.
Aku lebih memilih menurut padanya daripada hal merepotkan bertambah parah, meski begitu aku tidak tahu bahwa Natalie menyimpan beberapa roti di tasnya.
"Aku punya ini, silahkan kalau mau."
"Natalie?"
Aku mengambil roti yang diberikannya lalu melanjutkan.
"Kau suka mengemil."
"Berisik, apa badanku sedikit bertambah gemukan karena suka mengemil."
__ADS_1
"Tidak, kau masih sama seperti saat datang kemari... terima kasih."
"Um.."
Tepat saat aku menghabiskan rotinya bel sekolah berbunyi dan kelas telah dimulai.
Sepuluh menit sebelum istirahat ibu Sania masuk ke dalam ruangan lalu mengutarakan pengumuman.
"Sebentar lagi festival olah raga antar kelas akan digelar, setiap kelas wajib mengikutinya termasuk Arta."
"Aku Bu."
"Memangnya siapa lagi, kelas ini mengharapkan yang terbaik darimu."
Itu terlalu berlebihan, memang benar belakangan ini orang-orang sedikit berubah saat melihatku, kendati demikian fakta aku dianggap seperti preman tidak menghilang seutuhnya.
Ini bisa membuat semua orang merasa canggung.
Terlebih alasan kuat kenapa aku harus menolaknya adalah karena aku tidak suka berolahraga.
"Apa boleh buat, OSIS yang baru sepertinya cukup kewalahan jika mau, selepas sekolah Arta bisa mengajukan diri ke ruangan mereka."
Masih ada kesempatan untuk melarikan diri dari hal yang namanya olah raga rupanya.
"Kalau begitu aku juga ikut," tanya Natalie.
"Ibu sudah tahu akan seperti ini, jadi lakukan saja."
Selepas pulang sekolah aku, Natalie, Nurman dan Erin mengunjungi ruangan OSIS.
Sebelumnya ruangan ini diisi oleh Mawar dan kedua temannya tapi kini semuanya telah berbeda, saat pintu dibuka beberapa orang tampak memegangi kepala mereka dengan hamparan kertas berserakan di bawah kaki mereka, di antara orang-orang itu satu gadis tampak terbaring di atas meja tak bergerak.
__ADS_1
"Dia mati," tepat saat Erin mengatakan itu, wanita di meja terbangun.
"Aaawh... Tidak ada ide sedikitpun yang masuk."
Aku berkata ke arahnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Sebentar lagi festival olah raga digelar kami belum memutuskan olah raga seperti apa yang akan dilaksanakan."
Nurman mengangkat suara.
"Bukannya kalian bisa melakukan hal sama seperti tahun lalu."
Wanita itu menggebrak meja.
"Mana mungkin kami melakukan hal sama, kau tahu tahun lalu acara benar-benar tidak menarik, bahkan saat juaranya diumumkan penonton hanya bertepuk tangan seperti Zombie."
"Kau yakin mengatakan itu dengan mudahnya," kataku lemas.
Di depanku ini adalah ketua OSIS bernama Mei, penampilannya mungil dengan rambut panjang serta selalu memakai sweater merah muda.
"Mei, kami datang ke sini ingin membantu juga, sebaiknya biarkan mereka semua beristirahat."
Atas pernyataan Natalie akhirnya Mei setuju lalu meminta staf OSIS pulang lebih dulu, aku mengintip ke dalam lorong dan entah kenapa mereka semua terlihat gembira.
Pasti beberapa hari ini mereka sangat tertekan.
Kami semua duduk untuk mendiskusikan masalah ini.
Mei berkata dengan percaya diri.
__ADS_1
"Sebelum kita mendapatkan ide, kita tidak akan keluar bahkan sampai besok."
Sekarang aku tahu kenapa staf barusan sangat senang.