Love Day!

Love Day!
Chapter 79 : Pernikahan (Tamat)


__ADS_3

Kami diam-diam bersembunyi untuk tahu siapa yang ditemui oleh Nurman, seperti yang kami duga dia adalah Sinta temanku ketika waktu SMP, sepertinya mereka mulai dekat.


"Bagaimana sekarang?" tanya Erin.


"Lebih baik jangan mengganggu mereka, mari kita tinggalkan saja."


"Yah kurasa begitu."


"Ayo Natalie."


"Tapi aku ingin menganggu keduanya."


"Aku akan belikan eskrim untuk kita bertiga."


"Kenapa Arta baru bilang. Aku ingin rasa strawberry."


"Baik, baik."


Erin berbisik ke arahku dengan suara pelan.


"Kau sudah mahir mengatasi Natalie."


"Ah ya," jawabku singkat, saat bertemu dengan Natalie ia adalah sosok yang sulit ditebak serta misterius namun seiring waktu seseorang akan bisa mengenal satu sama lain dengan baik asal keduanya saling terbuka.


Bukan hanya untuk pasangan tapi untuk teman juga.


Kami mengunjungi kafe yang tidak jauh dari tempat kami berada mereka memberikan diskon untuk pelajar dan itu cukup mengirit uang di dompetku.


Erin berkata ke arahku setelah memasukan beberapa sendok es krim ke dalam mulutnya


"Kudengar dari ibu Sania, kau mengajukan beasiswa untuk fakultas kedokteran?"


"Iya, aku rasa aku akan mempersiapkannya dari sekarang."


Natalie memotong.

__ADS_1


"Aku sudah bilang bahwa aku ingin membiayai sekolah Arta, namun Arta selalu menolaknya karena itu aku menyerah untuk itu."


"Kamu punya calon istri yang baik di sini, ada kalanya ada masalah yang tidak bisa di atasi sendiri jika saat itu tiba tolong andalkan Natalie, aku ataupun Nurman, kami akan selalu mendukungmu."


"Terima kasih, aku juga akan membantu kalian jika kalian dalam kesulitan."


Erin maupun Natalie hanya tersenyum sebagai balasan sampai Natalie bertanya padanya.


"Lalu Erin sendiri, setelah lulus apa yang akan kau lakukan? Apa mirip Nurman fokus dalam bekerja."


"Kalau aku ingin bersekolah di fakultas hukum, kurasa aku ingin menjadi penegak keadilan saat dewasa nanti."


"Heh begitukah," balas Natalie lalu aku menambahkan.


"Yah itu masih lama, kita seharusnya tidak membahasnya."


"Benar juga."


Erin maupun Natalie tertawa kecil, kami punya satu tahun lagi sebagai siswa SMA, karena itu mari nikmati masa-masa seperti ini dan jadikan sesuatu yang berharga untuk dikenang di masa depan nanti.


Aku dan Natalie berusaha sekuat tenaga meski begitu kami hanya berakhir juara lima, Nurman dan Erin yang menonton untuk mendukung tampak memberikan waktu pada kami untuk berduaan.


"Kita kalah," ucap Natalie sedikit sedih.


Aku mengelus rambutnya untuk menghiburnya.


"Tak apa, lagipula pemotretan itu hanya bohongan, bukannya lebih berkesan saat kita menikah sungguhan."


"Meski begitu."


"Jika ingin berfoto kenapa kita tidak lakukan saja sendiri?"


"Jika Arta bilang begitu."


Aku mengeluarkan ponselku lalu memotret kami berdua.

__ADS_1


Nurman dan Erin kembali dengan sekantong minuman.


"Jangan lupakan kami, mari berfoto berempat."


Sejak saat itu kami mulai banyak mengabadikan momen bersama di dalam foto.


Beberapa bulan selanjutnya klub relawan telah dibubarkan selamanya, kami mengadakan perayaan sebagai perpisahan bersama Ibu Sania dan Mei.


Di ruangan ini banyak hal yang terjadi khususnya kebersamaan kami yang tak terlupakan.


"Bersulang."


Hari itu kami semua kebanyakan minum cola.


Empat bulan setelah kelulusan kami, aku dan Natalie menikah. Aku mengundang semua orang yang kukenal termasuk Renaldi dan Sinta juga.


Aku berhasil masuk di universitas kedokteran dan bekerja paruh waktu di perusahaan ibu Natalie untuk sementara waktu.


Nurman yang sedang menyetel kamera mulai mengarahkan kami untuk berfoto bersama.


"Sedikit merapat dan jauhkan tanganmu dari Mimi."


"Cepatlah, aku kesulitan menjaga poseku," protes Erin.


"Tunggu sebentar," ucap Nurman berlari untuk berdiri di samping androidnya.


Natalie berbisik ke arahku.


"Ini adalah hari yang paling bahagia bagiku."


"Aku juga."


Kami saling berpegangan tangan dan selanjutnya kamera dengan baik mengambil foto kami semua.


Ngomong-ngomong terkadang, aku dan Natalie masih suka berdebat tentang jumlah anak walaupun kami telah memiliki satu putri yang imut setelah satu tahun lebih pernikahan kami.

__ADS_1


---Tamat


__ADS_2