
Beberapa hari kemudian, di atap sekolah aku bersandar sambil memperhatikan Mawar yang berdiri di depanku selagi berteriak senang.
Ini pertama kalinya aku melihat seseorang bisa sesenang ini hanya karena sesuatu hal yang sepele.
Mungkin apa yang dikatakan orang itu benar, kebahagiaan itu sederhana.
Aku meminta Natalie dan Erin mengumpulkan persetujuan guru dan murid di sekolah ini, sementara Nurman mengatasi para peserta yang dulu bersaing dengan Mawar.
"Akhirnya aku bebas."
Aku tersenyum saat Mawar berbalik ke arahku, rambutnya yang di kepang tersapu angin dan ia tidak memakai kacamata seperti biasanya.
Dia memang ceroboh tapi fakta bahwa dia adalah gadis cantik tidak terbantahkan, kecantikannya bisa menyaingi kecantikan Natalie.
Aku akan mengatakan bahwa di sekolah ini kini ada dua idol. Mungkin empat dengan gadis kembar itu.
"Ini semua berkat Arta dan lainnya, terima kasih banyak."
"Bukan masalah, ngomong-ngomong kita harus memikirkan soal menghilangkan kesialanmu?"
"Sudah kubilang aku hanya sedikit ceroboh."
Apa yang dia maksud dengan sedikit?
Levelnya jelas berbeda.
Dunia SMA terkadang berhubung dengan spritual atau kekuatan luar biasa, paling tidak itu yang kulihat di acara Anime dan komik.
Bukan berarti aku seorang maniak, hanya kemungkinan saja.
Aku bertanya ke arahnya.
"Sejak kapan kau mulai menjadi ceroboh?"
__ADS_1
"Saat memakai kacamata."
"Kacamata? Apa mungkin kacamata itu pemberian seseorang?"
"Sebenarnya itu milik temanku waktu kelas satu, kacamatanya menggunakan kaca biasa jadi aku memakainya untuk mengenangnya."
"Kenapa dia memberikannya?"
"Saat itu dia tiba-tiba saja pindah karena putus dengan pacarnya."
Dia sepertinya dikutuk.
Aku balik bertanya.
"Lalu apa yang terjadi setelahnya? Apa ada hal berubah."
"Hmm.. selain aku jadi ceroboh, tidak ada lagi.. ah, beberapa bulan lalu ada seorang pria yang mencoba mendekatiku, aku langsung menolaknya karena sebelumnya dia adalah mantan pacar temanku itu, dia juga sudah pindah."
Aku menghela nafas panjang.
"Jadi di mana kacamatanya?"
"Sebenarnya kemarin, Natalie juga menanyakan hal sama dia merampas kacamataku lalu menginjaknya sampai hancur."
"Dia melakukan itu?"
Mawar beberapa kali mengangguk mengiyakan sampai temannya Rin dan Ran muncul dari pintu yang mereka buka.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana Mawar, kakiku pegal," ucap Rin disusul Ran.
"Benar, ayo kita makan bersama di kantin."
"Tunggu sebentar."
__ADS_1
"Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?"
"Tentu saja menikmati masa SMA-ku yang menyenangkan bersama teman-temanku yang berharga, bukannya waktu tidak bisa kembali jadi aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin."
Aku melambai ke arah ketiganya sampai sosok mereka menghilang dalam pintu.
Aku mengalihkan pandangan ke kumpulan kotak kardus yang di biarkan begitu saja di sana.
"Sampai kapan kalian terus bersembunyi?" kataku hingga sosok Nurman, Erin dan Natalie keluar dari dalamnya.
"Kau sudah menyadarinya," balas Erin.
"Aneh saja ada kardus di tempat seperti ini terutama ada lubang di kotaknya."
"Kami perlu celah untuk bernapas."
Natalie mendekat ke arahku lalu merangkul tanganku.
"Bagaimana kalau kita pergi ke cafe sepulang sekolah?"
"Aku tidak keberatan."
Erin dan Nurman mengangkat tangannya.
"Aku keberatan, kami juga ingin pergi."
"Kalian ini bodoh kah? Kita adalah satu klub, sebaiknya kita juga membuat kenangan yang indah bersama."
Erin menyikut perut Nurman hingga dia mengerang kesakitan.
"Gunakan bahasa yang benar dan sopan, agar Indonesia bisa dikenal sebagai negara yang memiliki sopan santun baik di mata dunia."
"Akan kucoba."
__ADS_1
"Nggak sampai sejauh itu," kataku lemas.
Itu jelas sakit.