Love Day!

Love Day!
Chapter 59 : Sebuah Keputusan


__ADS_3

Hari ini aku mengunjungi ruangan ketua OSIS yang mana di ruangan itu, hanya ada aku dan Mei saja.


Mei menyeduhkanku sebuah teh yang ia taruh di meja sebelum akhirnya mempersilahkanku untuk duduk, aku menerima sambutannya dengan ramah.


Sikapnya jelas seperti orang dewasa yang bisa kau temui di manapun.


"Apa kau datang untuk membicarakan soal permintaan yang tempo hari kuminta padamu?"


Intuisi wanita sangatlah menakutkan, sejujurnya aku berterima kasih padanya karena meski klub kami tidak melakukan apapun dia masih tidak membubarkannya sampai sekarang.


Bukan itu yang ingin aku katakan, karena itu mari lewati saja.


"Aku datang untuk menolak permintaan yang kau berikan padaku."


"Eh?"


Wajahnya tampak terkejut namun aku mengabaikannya untuk melanjutkan.


"Tapi aku masih akan membantu agar sekolah menjadi sekolah internasional."


"Kau membuatku takut, tapi apa alasannya? Sepertinya kau ingin menolak apa yang kutawarkan padamu."


"Memang benar untuk masuk ke dalam sekolah kedokteran sangatlah mahal walaupun kau mendapatkan beasiswa, meski begitu rasanya aku tidak akan puas jika seseorang membiayainya begitu saja."


Mei menaikan perkataannya.


"Tapi ini adalah hadiah, aku tidak memberikannya secara percuma."


"Tidak, kau melakukannya demi aku... apa aku salah?"


Mendapatkan pernyataanku. Mei kembali tenang lalu menyeruput tehnya dalam diam.


"Sejak kapan kau menyadarinya?"

__ADS_1


"Mungkin sehari setelah bertemu denganmu."


"Aku tidak menyangka jadi seperti ini."


"Persyaratan menjadi sekolah internasional tidak berdasarkan seberapa banyak sekolah itu mengambil kemenangan dalam kompetisi ataupun pertandingan, melainkan fasilitas yang diberikan sekolah itu sendiri, apa memenuhi standar internasional atau tidak?"


Mei mengacak-ngacak rambutnya selagi menjatuhkan kepalanya di meja.


"Padahal aku sudah menyembunyikannya."


Aku dan Mei pernah berteman ketika waktu kecil, tepatnya saat aku dan Natalie bertemu di taman hiburan waktu itu. Saat kembali bersama orang tuaku ke desa, di sebelah rumah kami yang biasanya kosong telah terisi keluarga baru.


Saat itu orang tuaku menyapa mereka dan mereka pun saling mengobrol satu sama lain, sementara aku bersembunyi di belakang kaki ibuku begitu juga seorang gadis kecil yang tampak malu-malu.


"Ah, namanya Arta... dia memiliki mata menakutkan seperti ayahnya, tapi dia anak yang baik."


"Lihat Mei, jangan malu-malu... kuharap mereka berdua bisa berteman."


"Halo."


"Dia sangat manis, walau putriku terlihat kecil ia lebih tua dari Arta.. aku takut masa pertumbuhannya sedikit terlambat hoho."


Mei tampak tersenyum senang ke arahku, sejak itu aku dan dia selalu bersama-sama.


Mei begitu cengeng dan suka menangis bahkan saat dia terjatuh aku harus menggendongnya pulang.


"Arta, aku ini lebih tua darimu... suatu hari aku yang akan membantumu."


"Itu mustahil kau cengeng dan juga lemah."


"Aku kuat."


"Jangan bergerak, nanti jatuh."

__ADS_1


Mei tersenyum lalu dia memelukku dengan erat, hubungan kami seperti kakak dan adik dan saat aku mengatakan bahwa perannya sebagai adik kecil, dia selalu marah-marah.


"Suatu hari aku menunjukkan padamu, aku akan menjadi kakak yang bisa membantumu."


"Aku meragukannya."


Sebelum aku lulus sekolah dasar Mei dan keluarganya memutuskan pindah karena pekerjaan orang tuanya, setelah itu aku dan dengannya sudah tidak bertemu kembali sampai saat ini.


Mei menatapku dengan pandangan memelas.


"Apa kau marah? Awalnya aku tidak tahu kau sekolah di sini tapi tanpa sengaja aku melihatmu jadi kuputuskan untuk menyamar jadi siswa sekolah ini."


Aku mengelus rambutnya.


"Tidak, aku senang kau melakukan ini untukku... terima kasih sudah mencoba membantuku, kurasa kau memang lebih cocok menjadi seorang kakak... tapi jika masa depanku aku lebih ingin meraihnya dengan tanganku."


"Hueeeeeehhh."


Dia masih cengeng seperti dulu.


"Apa kita masih bisa seperti dulu?"


"Tentu saja."


Aku dan Mei hendak keluar pintu namun saat pintu dibuka semua temanku ada di sana selagi menatapku dengan mata berbinar.


Mereka bukan lagi Erin dan Nurman, melainkan Natalie No.1 dan Natalie No.3.


"Yang barusan sangat menyentuh, dadaku berdegup kencang," kata Natalie asli.


"Kalian pergi sana," teriakku.


Mei hanya tertawa kecil selagi mengusap sudut matanya yang basah.

__ADS_1


__ADS_2