Love Day!

Love Day!
Chapter 32 : Uang Bonus


__ADS_3

Aku terkapar di tanah setelah menaiki Flying Fox sebanyak delapan kali, selagi mengipasi diriku dengan dedaunan, Natalie muncul dengan sekaleng minuman dingin bersoda.


"Bagaimana ada minuman seperti ini?"


"Tuh."


Aku melirik ke arah Natalie tunjukan dan kulihat sebuah toko berdiri di sana.


"Kenapa ada yang begitu di tempat seperti ini?" kataku lemas lalu bangkit untuk meminum kaleng pemberian Natalie.


Tenggorokan yang kering seketika tersapu bersih dengan air dingin yang menyejukkan.


"Lain kali kita datang kentempat ini berdua saja."


"Tidak, aku tidak mau pergi ke tempat seperti ini lagi."


"Kenapa?"


"Memang menyenangkan bisa pergi dengan Natalie, hanya saja pegunungan tidak cocok untukku."


"Dasar kucing rumah," ucap Natalie kesal namun wajahnya juga sempat memerah barusan.


Udara di pegunungan memang lebih dingin.


Aku berdiri untuk meregangkan otot-ototku yang lelah, sebentar lagi kami harus berkumpul dengan yang lainnya karena itu akan lebih baik kami kembali ke tenda.


"Ngomong-ngomong di mana Ibu Sania?"


"Kurasa dia muntah di sebelah sana, guru itu terlalu memaksakan diri," balasku sampai suara lain menegurku.


"Siapa yang memaksakan, ini adalah pengalaman yang menyenangkan."


Setidaknya tolong ingat umurmu.


Setelah lewat 20 tahun wanita akan mudah lelah. Ibu Sania melanjutkan.


"Aku tidak bisa berjalan lagi, tolong gendong aku ke tenda Arta, aku ingin beristirahat."


"Biar aku saja yang menggendong Ibu, silahkan."


"Apa ini? Natalie sangat menyayangimu Arta."

__ADS_1


Aku dan Natalie hanya diam selagi menundukkan wajah untuk menutupi rasa malu.


"Enaknya menjadi muda, mungkin di tenda aku akan ketiduran dan tidak tahu bahwa ada seorang siswa yang datang menyelinap."


"Hentikan, kau sengaja melakukannya," teriakku.


"Cuma bercanda."


Ibu Sania mengambil posisi gendongan di punggung Natalie, karena tubuhnya kecil dia tidak memberikan beban berarti pada Natalie, terlebih Natalie itu manusia super.


Aku kembali ke tenda sendirian dan melihat Nurman sedang mematung dengan pucat.


"Oi, ada sesuatu yang keluar dari mulutmu."


Perkataanku tidak bisa menyadarkannya jadi kuputuskan untuk bertanya pada Mimi.


"Mimi ada apa sebenarnya? Apa dia dipecat."


"Ah tidak, baru saja uang bonus masuk ke dalam rekening tuan."


"Memangnya berapa bonus yang di terimanya, tunjukan padaku."


Saat aku melihatmu aku juga ikut mematung.


"Ini terlalu banyak."


Ketika semua orang berkumpul bersama guru, aku dan Nurman hanya diam dengan syok, bagaimana pun yang yang diterimanya sesuatu yang melebihi harapan dari murid SMA.


"Seratus juta rupiah."


Nurman telah kembali ke kehidupan nyata.


"Aku tidak mimpi kan, Arta."


"Sepertinya begitu, selamat... orang jenius sangat mudah mendapatkan uang."


"Kau salah, meski aku jenius bukan berarti aku tidak bekerja keras. Aku juga sudah beberapa kali gagal."


"Mana mungkin?"


"Kau ini bodoh kah... memangnya seorang jenius tidak pernah gagal, para penemu di Eropa juga tidak langsung berhasil saat menciptakan sesuatu."

__ADS_1


"Memang benar sih.. lalu dengan uang itu apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Aku ingin mencoba membuat perusahaan kecil milikku sendiri, kurasa cukup untuk membeli perangkat yang dibutuhkan serta menyewa orang dan tempat."


"Bagaimana dengan tempatmu bekerja?"


"Tentu saja keduanya."


"Apa itu tidak akan membebanimu?"


"Jangan khawatir, aku hanya ingin membuat game sederhana, meskipun aku juga harus minta izin untuk itu pada ibu Natalie, bisakah kau mengatakannya padanya."


"Aku tidak ingin terlibat dengan hal seperti itu? Lagipula aku tidak memiliki hak."


"Benarkah, tapi nyonya Rosalie bilang kau keluarganya."


Rasanya damagenya terlalu berat untuk kutanggung.


Nurman memberikan ponselnya padaku setelah ia menekan salah satu game miliknya.


"Apa ini?"


"Ini game yang baru kubuat, semuanya tampak sederhana bukan? Game ini adalah simulasi kencan di mana si tokoh utama berusaha mendapatkan cinta dari ke sembilan wanita di sekolahnya."


"Karakternya sangat luar biasa."


"Tentu saja, jika kau beruntung kau akan mendapatkan happy ending."


"Bagaimana jika aku memiliki pacar lebih dari satu."


"Di akhir kau akan dibunuh oleh seseorang dan hasilnya tentu bad ending, kalau kau mengabaikan semua wanita, kau akan mendapati akhir dimana kau berpacaran dengan temanmu."


"Dia laki."


Bagiku itu hal mengerikan, aku kembali memberikan ponselnya.


"Aku tidak terlalu pintar bermain game."


"Begitu."


Aku meminta Nurman untuk menghubungi Ibu Natalie, seperti yang aku duga dia langsung menolaknya keras lalu menambahkan bonusnya lagi dan setiap game Nurman akan diambil alih oleh perusahaan juga.

__ADS_1


__ADS_2