
Kami bertiga pergi ke sebuah pemukiman kumuh yang berada di belakang kota, menurut informasi yang diberikan Ibu Sania, orang bernama Nurman tinggal sendirian di tempat ini dan dikatakan dia pernah memenangkan beberapa Olimpiade di luar negeri dengan nilai teratas dalam ilmu pengetahuan.
Sungguh.
Ada apa dengan orang jenius ini?
Setelah bertanya ke beberapa orang kami akhirnya menemukan sebuah rumah kontrakan yang hanya bisa ditinggali dua orang, terdapat satu kamar mandi diluar yang digunakan oleh semua penghuni kontrakan lainnya.
Natalie mengetuk pintu kontrakan dan sosok mengerikan yang baru bangun tidur keluar dari sana, ia laki-laki dengan rambut acak-acakan, mata mirip panda serta hanya mengenakan kaos dan celana pendek.
"Apa yang bisa kubantu untuk kalian," gaya bicaranya juga terkesan malas, apapun yang dilakukannya terlihat malas.
"Kami dari sekolah, ingin mengajakmu kembali ke sekolah," atas pernyataan Natalie dia langsung menutup pintunya.
"Apa ada yang salah dari ucapanku?"
"Sepertinya Natalie terlalu terbuka, mungkin dia ketakutan, orang yang cenderung mengurung dirinya biasanya tidak kuat saat seseorang berkata ramah padanya."
"Begitu, dia lebih suka diperlakukan seperti bukan manusia."
Kedua orang ini memanglah monster, dari sini aku yang mengambil alih.
"Kami datang kemari atas permintaan Ibu Sania, dia bilang untuk membawamu ke sekolah dan membuatmu bergabung dengan klub kami."
"Aku tidak perlu sekolah, semua hal bisa kupelajari dari internet."
Di era masa depan seperti ini itulah kebenaran, bahkan jika kau di rumah orang bisa lebih pintar dibanding orang-orang yang bersekolah contohnya orang di dalam ini.
"Meski kau bilang begitu, sulit untuk menjalankan kehidupan seperti ini terus, bagaimana jika kau keluar dan bergaul dengan kami.. betulkan Arta."
"Kau ini terlalu blak-blakan."
__ADS_1
Giliran Erin yang berkata ke arahku.
"Bagaimana jika Arta memaksanya keluar dengan kekerasan."
"Jangan tersinggung tapi itu ide buruk dan juga aku bukan orang seperti itu."
Natalie mendesah pelan lalu dia berusaha mendobrak pintunya, hingga semua orang mengelilingi kami semua.
"Apa yang kalian lakukan, aku pemilik kontrakan ini?"
"Natalie, sebaiknya kau tahu apa yang sedang kau lakukan?"
"Jangan khawatir Arta, uang selalu bisa menyelesaikan masalah."
Natalie mengangkat sejumlah uang yang diambil dari kantong bajunya
"Aku akan membayar kalian jika kalian membantu mengeluarkan orang di dalam kontrakan ini."
Sementara Erin sedang membagikan selembaran uang.
"Kenapa aku harus melakukan ini, padahal aku juga butuh uang."
"Uang adalah kekuatan," potong Natalie.
Entah kenapa Natalie memiliki kekuatan yang mengerikan.
"Kenapa kalian melakukan sampai sejauh ini?" tanya Nurman.
"Ini demi aku bisa terus bersama Arta, bukan, maksudku demi klub.. Kami harus membawamu ke sekolah agar klub itu bisa diresmikan."
Aku akan pura-pura tidak mendengarnya.
__ADS_1
"Klub?"
"Kami membuat klub pemecah masalah, dimana kegiatan kami adalah membantu banyak orang untuk menyelesaikan masalahnya, dibanding terkurung di sini bagaimana kalau kau lebih membuat hidupmu sedikit bermanfaat dengan orang lain."
"Meski kau bilang begitu, aku bukan orang baik seperti kalian, aku diam di sini karena aku tidak suka sekolah."
Natalie menatapnya kasihan bertepatan saat Erin muncul.
"Apa jangan-jangan kau takut sendirian?"
"Apa salahnya jika takut."
Aku mendesah pelan lalu melanjutkan.
"Aku sudah dengar masalahmu dari Ibu Sania, dulu kau akan mewakili negara kita di London dalam proyek sains namun saat sampai di sana kau tiba-tiba kehilangan kesadaran karena terlalu memaksakan diri, teman-temanmu yang begitu menaruh harapan padamu menjadi kecewa dan akhirnya mereka meninggalkanmu sendiri dan pindah ke sekolah lain, bukan begitu?"
Erin dan Natalie hanya bisa menutup mulut mereka dengan terkejut, cerita ini hanya kuketahui seorang diri saja.
Nurman mengirimkan tinjunya ke lantai dengan emosi marah, kemarahan itu jelas diberikan pada dirinya sendiri.
"Kalau saja aku bisa memilih menjadi orang normal saja."
Aku duduk di depannya lalu menyentuh pundaknya.
"Seseorang tidak bisa memutuskan dia lahir seperti apa di dunia ini, namun aku yakin semua orang pasti menemukan tempatnya sendiri, dan aku yakin tempatmu adalah bersama kami di sekolah, mari kita berteman."
Natalie tertawa sementara Erin menangis.
"Aku tidak menyangka Arta bisa mengatakan hal keren."
"Berisik."
__ADS_1
Untuk sekilas senyuman terlukis di wajah Nurman.