Love Day!

Love Day!
Chapter 71 : Permintaan Erin


__ADS_3

Setelah membantu permintaan Natalie sekarang membantu permintaan Erin, dia mengatakan bahwa ada seseorang yang menyelamatkannya dari orang jahat beberapa waktu lalu dan ia ingin mengajaknya pergi berkencan.


Saat Erin menunjukan foto orang yang menyelamatkannya di kamar miliknya, wajah kami bertiga memucat.


Bisa-bisanya orang ini muncul di mana saja, itu adalah foto Renaldi. Nurman berdiri lalu menunjuk fotonya.


"O-orang ini berbahaya, aku hampir saja terkena serangan jantung saat berada di sungai."


"Benarkah, menurutku dia keren."


Aku dan Natalie bertukar pandangan dan hanya bisa mendesah pelan. Natalie berkata dengan ragu.


"Apa boleh buat, kita bantu saja... kurasa dia juga orang baik."


"Orang baik tidak menghajar orang tanpa alasan jelas" kataku lemas.


Lima puluh persen kepribadiannya sekarang diakibatkan olehku, jadi aku merasa bertanggung jawab untuk itu.


Setelah menunggu beberapa menit Erin menelepon Renaldi melalui telepon pintarnya namun jawaban yang dia terima adalah penolakan.


"Mungkinkah aku dibencinya."


"Biar aku saja."


Aku mengambil ponselku untuk menghubungi Renaldi bagaimanapun dia masih belum mengembalikan sebagian novelku yang dia pinjam.


"Ini aku... oh, kau Arta apa kau sudah siap berduel?"


"Aku hanya meneleponmu untuk segera mengembalikan barangku."


"Ah soal itu aku belum menyelesaikannya, aku pinjam dua minggu lagi."


"Aku mendengar suara aneh, apa yang sedang kau lakukan?"


"Aku sedang bertarung dengan SMA timur, mereka keras kepala sekali... mereka tidak tahu aku ini orang sakti."

__ADS_1


Yang benar orang sakit.


"Aku akan menghubungimu nanti, kita temuan di kafe jam 12 siang nanti."


"Aah."


Nurman menatap ke arahku dengan sinis


"Sepertinya dia menyukaimu."


Akan kucekik orang ini, sudah jelas Renaldi ingin mennantangku berduel tapi dengan ini masalah ketemuan Erin bisa diatasi.


Saat waktunya tiba, aku, Natalie dan Nurman menyamar dengan duduk di meja sebelah Renaldi yang bertingkah seperti biasanya.


"Nona pelayan, apa kau berasal dari kegelapan?"


Oi, kau membuat pelayannya bingung ituh.


Tak lama Erin muncul dengan gaun imut serta pita di kepalanya.


"Kau ini gadis itu, yang mentraktir makanan di cafe? Kita kebetulan bertemu."


"Apa kau sedang menunggu seseorang?"


"Aah, tapi orangnya tidak muncul... padahal aku ingin meminjami film terkeren tahun ini sebagai ganti dia meminjamkanku novelnya."


"Begitukah."


Agar semuanya berjalan lancar, aku mengirim pesan kepada Renaldi.


"Sepertinya dia tidak jadi datang, kucing tetangganya katanya sedang melahirkan," ucap Renaldi setelah melihat ponselnya.


Itu alasan bagus untuk bisa membatalkan sebuah pertemuan.


Erin menambahkan.

__ADS_1


"Dia pasti seorang bidan kucing handal."


"Sepertinya begitu."


Natalie dan Nurman tampak menahan tawa mereka, hanya ini alasan yang bisa kupikirkan sekarang.


"Kalau tidak keberatan aku juga datang sendirian bisa kita duduk bersama saja."


"Tentu, tapi berhati-hatilah mungkin di dekat sini ada gelombang kegelapan."


"Aku mengerti."


Ada apa dengan kedua pasangan ini? Aku tidak tahu ada yang seperti ini, walau begitu mereka terlihat serasi.


Kami menghabiskan minuman kami lalu keluar kafe secara diam-diam, melihat mereka sangat akrab kami merasa sudah tidak perlu membantu lagi kecuali satu hal.


Kami bertiga berdiri di depan rombongan siswa siswi SMA timur yang muncul bergerombol hendak melabrak Renaldi yang sedang berduaan di dalam kafe.


Mereka tampak marah dan seolah siap berperang.


Saat melihatku wajah mereka berubah memucat.


"Bukannya kau Arta si preman yang pernah membantai seluruh siswa sekolah itu."


Pasti yang dimaksudnya yang pernah berkelahi dengan Renaldi waktu itu.


"Tidak, yang kudengar kau banyak bermain dengan wanita di hotel dan mengembangkan bisnis judi online."


"Tapi di wilayahku dia seorang bos mafia."


"Maksudmu Arta si pembegal."


"Gue cabut... gue tidak mau mati."


"Tunggu."

__ADS_1


Ketika mereka berhamburan aku hanya bisa terduduk di tanah dengan frustasi, sebenarnya sejauh mana rumorku semakin parah.


__ADS_2