
Selagi merasakan hembusan angin menerpa wajahnya, Nurman membuang nafas panjang kemudian berbaring selagi menatap langsung langit yang berubah kejinggaan, karena berbaring di pinggir sungai aroma rumput tercium sangat jelas ke dalam hidungnya kendati demikian hal itu bukan sesuatu yang buruk baginya.
Setelah menyelesaikan berbagai pekerjaan, paling enak bersantai di sini, tak lama kemudian seorang gadis muncul di belakangnya, hari ini dia mengenakan seragam sekolahnya serta membiarkan rambut merah mudanya terurai begitu saja.
Gadis itu adalah Sinta yang pernah ia temui, Sinta berdiri di sampingnya selagi menahan rambutnya untuk tidak berkibar dan berkata.
"Hari ini angin berhembus sangat kencang, entah kenapa angin ini sangat berbeda dari biasanya."
Nurman menatapnya dengan pandangan ikan mati selagi bergumam dalam hati.
Ngomong apaan dah bocah ini? Apa aku harus menjawabnya? Apa yang harus kukatakan? Di saat seperti ini bukannya Arta lebih jago?
"Itu karena angin ini disebut angin musim panas."
Tawa menyembur dari mulut Sinta.
"Perkataan yang bagus, bukannya kau orang yang bersama Arta?"
"Ah, kami berteman dan berada di satu klub."
"Begitukah, banyak hal berubah rupanya."
Sinta duduk selagi memeluk lututnya dalam diam. Bagi Nurman ini sesuatu yang tidak bisa ditanganinya sendirian, ketika dia berharap seseorang datang untuk membantunya Erin muncul dengan gagah.
Rambutnya tertiup angin bersamaan blazer yang berkibar ke belakang, dia menyibaknya ke samping.
"Mari pergi Nurman, aku merasakan angin perubahan dari arah kota."
Kenapa lu yang datang, di saat ini harusnya teman cowok yang muncul seperti di anime danshi koukousei no nichijou, teriak Nurman hingga selanjutnya Arta yang muncul.
__ADS_1
Dia menunjukkan mata jahatnya selagi memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Ekpresinya langsung berubah.
"Oi, gawat... Buruan... ada yang jual anak ayam berwarna di sana."
"Berisik, baca situasinya," teriak Erin menampar wajah Arta dengan tasnya lalu menyeretnya pergi.
"Kami pergi duluan, maaf mengganggu."
Ini parodi gagal total.
Di saat Nurman kehabisan ide untuk keluar dari situasinya, Sinta memulai kembali percakapan.
"Dulu Arta terlihat muram tapi sekarang kulihat dia sedikit lebih baik."
"Ah, yang itu."
"Sejujurnya dia dan Arta juga yang membuatku bisa keluar seperti ini."
"Heh, jangan bilang kau suka mengurung diri."
Nurman hanya membalasnya dengan senyuman pahit, lalu tanpa terduga Sinta mengambil ponsel miliknya.
Dia memasukan nomor miliknya ke dalamnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku juga suka mengurung diri, lain kali aku akan mengajakmu keluar."
__ADS_1
Tak bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Sinta, Nurman hanya bisa menatapnya dari kejauhan, ia melirik ke arah ponsel dan menemukan nomor baru di sana.
"Dasar seenaknya."
Nurman hendak berdiri namun seseorang juga telah berdiri di sana, sekarang yang muncul adalah Natalie.
Natalie menyibak pinggir rambutnya dan berkata.
"Hari ini... angin berhembus sangat kencang dan entah kenapa angin ini sangat berbeda dari biasanya."
"Pergi Sono," teriak Nurman.
Arta dan Erin yang berdiri paling atas tidak bisa menahan tawanya.
"Jadi kenapa kalian datang kemari?"
"Hari ini pembukaan kedai ibu Arta, kita diundang untuk perayaan."
"Harusnya kalian bisa mengirimiku pesan saja."
"Kalau begitu kami akan melewatkan hal yang menyenangkan seperti barusan haha," tambah Erin.
Arta mengulurkan tangannya untuk membantu Nurman berdiri.
"Mari pergi."
"Aah."
Keempatnya berjalan bersama.
__ADS_1