
Hujan benar-benar terjadi, di ruangan klub aku dan Natalie hanya duduk selagi menatap jendela yang basah.
Nurman dan Erin sudah pergi dengan saling berbagi payung sementara kami berdua, tidak ada siapapun yang membawa payung. Entah ini kebetulan atau tidak kami benar-benar bernasib sama.
Karena kami hanya berdua, kurasa sudah waktunya aku juga membayar hutangku, dari tasku aku mengambil amplop yang mana kuberikan pada Natalie.
"Apa ini?" tanyanya heran.
"Aku mengembalikan uang untuk ponsel ini."
"Karena kau bersikeras aku akan menerimanya, lalu bagaimana dengan perkejaan Arta?"
"Aku sudah berhenti, mungkin aku juga harus membantu di toko ibuku ke depannya."
"Heh, jika begitu aku juga ingin bekerja denganmu."
"Tapi kau tidak perlu bekerja."
"Meski begitu, aku perlu pengalaman dunia nyata, coba bayangkan bagaimana bekerja itu."
"Itu bukan sesuatu yang menyenangkan," balasku lemas.
Saat Natalie memutuskan sesuatu, aku tidak bisa menolaknya termasuk yang sering dilakukan padaku belakangan ini
"Natalie kuharap kau berhenti mengirimiku fotomu."
"Itu tidak mungkin, aku perlu seseorang untuk menilainya."
"Jika begitu kau bisa mempostingnya di sosial media."
"Aku lebih suka mempostingnya di ponselmu, foto mana yang kau sukai?"
__ADS_1
Semua foto itu memang imut, hanya saja aku tidak mungkin mengatakannya apalagi untuk orang jahil seperti Natalie.
"Aku tidak ingin menjawabnya."
"Wajah Arta memerah, imut sekali."
Orang ini memang merepotkan.
Aku mendekat ke arah jendela lalu menyentuh permukaannya yang terasa dingin, Natalie melakukan hal sama selagi menatap jauh ke luar.
"Entah kenapa aku mulai menyukai hujan, aku bisa terjebak berduaan dengan Arta di sini, kurasa itu bukan hal yang buruk," katanya tersenyum senang sementara aku hanya bingung harus menjawab apa jadi aku mengubah percakapan ke arah toko kebahagiaan dimana aku membeli sepasang pita yang dikenakan Natalie sekarang.
"... jadi ada gadis bernama Cupid yang menjaga toko itu, bagaimana orangnya, apa dia cantik?"
"Kurasa begitu."
Natalie mengembungkan pipinya.
"Dasar cowok."
"Tentu aku harus ikut, bagaimanapun dua orang yang baru mengenal satu sama lain tidak boleh berduaan di tempat umum."
Itu juga berlaku untuk Natalie, bukannya dia yang selalu terlalu dekat denganku di hari pertamanya sekolah.
"Hujannya sudah reda, mari pergi ke sana."
"Um."
Sesampainya di toko sebuah bokong menyambut kami di dalam rak jualan, Natalie segera mengambil sikap dengan menutupinya dengan tubuhnya.
"Arta jangan melihatnya, ini di atas 18 tahun ke atas."
__ADS_1
Aku mendesah pelan, memangnya aku ini anak kecil apa, terlebih sudah jelas ada sesuatu yang terjadi pada Cupid.
"Selamatkan aku, aku tiba-tiba saja terpeleset dan kepalaku masuk ke dalam rak."
Orang ini pasti pelawak.
Terlebih.
Kepalanya pasti sangat keras hingga bisa melakukan itu, Natalie menarik Cupid hingga dia akhirnya terbebas.
"Terima kasih, karena sepi aku sudah terjebak di sana beberapa jam lalu."
Ini yang dinamakan kesialan.
Aku langsung memperkenalkan Natalie pada Cupid yang tersenyum senang selagi menatap sepasang pita di kepala Natalie, bagaimanapun pita itu rekomendasinya.
"Apa kita akan pergi berbelanja?" tanyanya.
"Seperti yang kukatakan, sebelum pergi tutup dulu tokomu."
"Baik."
Natalie bertanya.
"Ngomong-ngomong apa kau benar-benar hanya memiliki pakaian ini?"
"Benar sekali, semua pakaian di rakku modelnya sama, hebat bukan."
Maksudnya jadi itu.
"Kukira kau hanya punya satu baju."
__ADS_1
"Mana mungkin, memangnya aku ini suka telanjang setiap hari."
Aku yang memperhatikan hanya mendesah pelan lalu pergi mengikuti kedua orang ini ke Mall terdekat.