
Sekembalinya dari Study tour, aku menemukan sebuah kotak kardus di atas meja.
"Ibu, kotak apa ini?"
"Ah itu barang-barangmu dulu.. ibu mengambilnya dari rumah yang dulu."
"Benarkah."
Aku membuka kardus itu untuk melihat apa yang ada di dalamnya, kebanyakan hanyalah mainanku waktu kecil.
Aku mengambil sebuah gantungan berbentuk kucing seolah rasanya benda ini sangat familiar bagiku, ketika aku terus memikirkannya sebuah ingatan mengalir begitu saja di dalam kepalaku.
Tanpa aku sadari, air mata mengalir begitu saja dari wajahku.
"Jadi begitu."
Aku segera keluar dari pintu dan berlari ke arah apartement Natalie.
Dulu ketika aku kecil aku pernah pergi ke kota bersama keluargaku untuk mencoba taman bermain, di sana aku pernah tersesat dan saat aku mencari keluargaku aku tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis kecil yang bernasib sama denganku.
Kami berdua menggunakan bahasa yang berbeda hingga kami tidak bisa berkomunikasi satu sama lain, meski begitu kami berbicara dengan isyarat.
Aku membelikannya beberapa makanan manis serta berkeliling saling bergandengan tangan.
Tak lama seseorang penjaga taman hiburan membawa kami ke tempat kehilangan anak, di sana kami menunggu bersama hingga orang tua kami datang menjemput.
"Syukurlah, ibu mencarimu kemana-mana Arta."
"Ibu."
Aku melirik ke arah gadis kecil yang bersamaku sebelumnya dan kedua orang tuanya terlihat lega. Gadis itu memberikanku sebuah gantungan kucing dengan namanya selagi tersenyum manis ke arahku.
Tulisannya.
"Natalie."
Aku memanggil namanya saat melihatnya sedang berdiri membuang sampah di luar apartemennya.
"Arta? Ada apa? Eh?"
__ADS_1
Dia tampak terkejut saat aku memeluknya begitu erat dan Natalie juga meletakkan kedua tangannya di punggungku.
"Apa kau bermimpi buruk? Cup.. cup.. semuanya baik-baik saja, para tetangga melihat kita loh."
"Maaf karena baru mengingatnya, kau gadis yang waktu itu bukan?"
"Begitu, Arta sudah mengingatkannya."
Aku melepaskan pelukanku dan menunjukkan gantungan di tanganku.
"Waktu dulu kau mengatakan sesuatu saat menyerahkan ini? Boleh aku tahu apa itu?"
"Ah.. itu."
Natalie tampak memerah selagi mengalihkan pandangan dariku.
"Apa aku harus mengatakannya?"
"Aku ingin tahu."
Saat Natalie mengatakannya dalam bahasa Prancis aku segera memintanya memakai bahasa Indonesia.
"Ketika aku besar nanti, jika kita bertemu bolehkah aku menjadi pengantinmu? Aah, ini memalukan."
Wajahku segera membatu.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu."
"Eh?"
Natalie memiringkan kepalanya heran, saat dia menatapku aku akhirnya sadar bahwa gumamanku terdengar olehnya.
Aku segera mengalihkan pandanganku dan bergegas pergi.
"Nanti aku akan menghubungimu lagi."
Natalie segera menghentikanku.
"Aku tanpa sengaja mendengarkan obrolanmu dengan ibumu, apa itu benar?"
__ADS_1
Wajahku mungkin sangat malu sekarang, aku bahkan tidak bisa menunjukkan wajahku pada Natalie jadi kuputuskan untuk mengangguk sebagai jawaban dan bergegas berjalan pergi.
Beberapa saat sebelumnya.
"Bagaimana dengan Study tourmu Natalie?"
"Menyenangkan, aku mencoba semua wahana di sana, bahkan menari di depan api unggun."
"Heh, seperti itu... lalu siapa pasanganmu saat menari?"
"Aku tidak ingin mengatakannya."
Rosalie dengan jahil menatap ke arah putrinya yang merah merona.
"Biar mama tebak, pasti Arta bukan? Kau sudah menyukainya sejak kecil."
"Bagaimana mama tahu?"
"Mama cukup percaya diri dengan ingatan mama, dia adalah anak waktu dulu yang bersamamu di taman bermain bukan?"
Natalie hanya mengembungkan pipinya cemberut.
"Sejak kapan mama tahu?"
"Sejak awal, dia akan jadi menantuku nanti jadi aku terus mengikutinya."
"Itu hanya kerjaan seorang penguntit, tapi jangan mengatakannya pada Arta.. kurasa dia melupakannya."
"Begitu, apa kamu sedih?"
"Tidak juga, masa kecil hanyalah akan menjadi masa lalu walau tidak ingat pun aku tidak keberatan, aku lebih suka masa sekarang di mana aku bisa bersama Arta."
Ibu Natalie tertawa kecil.
"Putriku sangat jujur, tapi mama yakin dia akan mengingatnya suatu hari nanti."
"Kalau begitu, aku akan membuang sampah."
"Tolong yah."
__ADS_1