Love Day!

Love Day!
Chapter 37 : Piknik Bersama


__ADS_3

Terkadang semuanya tidak selalu berjalan lancar....


Awalnya semuanya baik-baik saja sampai, di ruangan kelas itu, Natalie meletakkan beberapa kartu aneh di atas meja, dia menatapku dengan mata bersinarnya selagi menyuruhku mengambil dua buah.


Pertama aku mengambil kartu yang paling dekat dan ternyata gambarnya adalah orang yang terpeleset kulit pisang.


"Ah.. mulai dari besok, Arta akan mengalami kesialan berturut-turut, jangan khawatir di kartu kedua bagaimana cara mengatasinya."


Dengan sedikit ragu, aku mengambil kartu yang lain jauh di mana gambarnya sendiri merupakan tangan yang saling berpegangan.


"Aku merasakan firasat buruk."


"Arta harus bergandengan tangan dengan seseorang yang dekat selama seharian penuh."


"Itu berarti."


"Kita harus bergandengan tangan di hari esok, ah... apa boleh buat? Aku akan mengorbankan waktuku untuk Arta."


Aku jelas segera menolaknya, terlebih Natalie terlihat malah kegirangan.


"Besok hari libur jadi aku hanya diam di rumah, dengan begitu tidak akan kesialan yang terjadi."


Meski begitu, Nurman muncul dari pintu.


"Oi, Arta, Natalie besok kita piknik di luar, jika salah satu kita tidak datang, Ibu Sania bilang akan menenggelamkan kalian di sungai Ciliwung."


Aku memiliki wajah suram sekarang, sementara Natalie memiliki wajah cerah di matanya.


Hingga keesokan harinya aku keluar dari rumahku, dan melihat Natalie sudah berada di sana tersenyum jahil, dia menyodorkan tangannya.


"Silahkan, kau bisa menikmati tangan kakak ini."


Aku memutuskan mengabaikannya.


"Arta, kau harus berpegangan tangan bagaimana kalau kau mendapatkan hal buruk dari kesialan."

__ADS_1


"Hal itu tidak akan terjadi."


Ketika aku mengatakan itu aku terpeleset oleh kulit pisang hingga jatuh.


"Sudah kubilang kan?"


"Hanya kebetulan."


Aku kembali berjalan, dan tiba-tiba saja sebuah air menyiram ke wajahku, kemudian aku tidak sengaja menabrak tiang listrik, ditabrak bulldozer ataupun dikerumuni kucing betina yang dalam masa kawin dan terus mengeong di bawah kakiku.


Apa-apaan ini semua?


"Ayo pegang tanganku."


Aku memilih menyerah lalu memegangi tangan Natalie, aku tidak tahu kenapa Ibu Sania mendadak mengadakan acara seperti ini yang jelas dia mungkin merencanakan sesuatu yang aneh-aneh, terlebih tempatnya di taman kota yang tampak biasa.


Nurman dan Erin sudah berada di sana.


"Kalian berdua datang sangat awal?" Natalie bertanya.


Orang ini terlalu rajin.


Di saat itu, orang yang terlambat adalah orang yang merencanakan ini semua, dia muncul bersama Cupid dan juga keranjang makanan.


Kami disuruh tidak boleh membawa apapun olehnya.


"Semuanya sudah ada di sini, kalau begitu acara pikniknya di mulai."


Nurman dan Erin membentangkan karpet, sedangkan aku dan Natalie membantu menyusun barang bawaan kami.


"Jangan berjauhan Arta."


"Maaf."


Semua orang yang memperhatikan langsung melirik ke arahku, lalu Erin berkata.

__ADS_1


"Sejak datang kemari kalian terus berpegangan tangan, apa terjadi sesuatu? Misal kalian tidak sengaja menyentuh lem atau hal lainnya."


"Aku juga sedikit penasaran," tambah Nurman dan Cupid menjawab.


"Aku tahu, ini bentuk dari kasih sayang, seberapa lama kau berpegangan tangan maka cinta kalian akan selalu abadi."


"Hoh, mungkinkah ini sebuah ritual sebelum menikah."


Perkataan guru ini tetap terdengar aneh.


Saat aku mengatakannya mereka tertawa.


"Ramalan hanya sebuah sugesti agar penerima ramalannya menganggap hal itu kenyataan."


"Anggap saja aku hanya mengantisipasinya, lagipula tadi aku sudah menerima banyak kesialan," kataku pada Nurman.


Erin menatapku lebih dekat.


"Kedepannya mungkin kau akan menyentuh lebih dari tangan."


"A-apa yang kau katakan?" aku tergagap.


"Tidak boleh Arta, kita harus menikah dulu."


Ibu Sania merangkul kami berdua dari belakang.


"Anggap saja ini ujian cinta kalian, lagipula kalian ini sangat unik, kalian mempunyai hubungan seperti sepasang kekasih namun dari kalian tidak memiliki statusnya, tidak ada yang menembak atau menerima... Fufu, yang jelas aku senang saat mengawasi kalian berdua."


Aku maupun Natalie hanya mengalihkan pandangan ke samping dengan wajah memerah.


"Untuk merayakannya mari bersulang."


"Bersulang."


Aku mengambil kaleng minuman dingin dan menempelkannya di kaleng yang lainnya dengan pelan.

__ADS_1


Padahal sebentar lagi ujian tengah semester, kami benar-benar terlalu santai.


__ADS_2