
Di hari pekan kami semua pergi ke pantai, di bawah payung yang teduh aku dan Nurman hanya duduk selagi menikmati kaleng minuman dingin di tangan kami.
Nurman kembali bermain laptop yang dia taruh di pangkuannya.
"Maaf soal ini, karenaku kita baru bisa pergi kemari."
"Tak usah dipikirkan, lagipula aku juga tidak terlalu tertarik dengan pantai."
"Begitu."
"Tuan Nurman, hanya akan senang jika pergi bersamaku."
"Entah kenapa aku mendengar sebuah suara gadis kecil."
"Dia Mimi pelayan yang kuciptakan."
Aku melirik ke arah laptop Nurman dimana ada sosok gadis kecil 2D di sana yang mengenakan baju pelayan dengan wajah melirik ke arahku marah.
"Ke-kenapa dia menatapku begitu?"
"Jangan dihiraukan, dia hanya tidak bisa menerima orang lain."
"Aku ingin segera keluar dari sini dan memeluk tuan Nurman."
"Dia juga genit."
"Karena menggunakan kecerdasan buatan, Mimi menciptakan kepribadian sendiri dengan mengambil informasi di internet, sayangnya dia malah memilih jadi tipe seperti ini," balas Nurman lemas.
__ADS_1
Orang jenius memang beda.
"Benar juga, kau tinggal sendirian, bagaimana kau membiayai sekolahmu?"
Nurman sedikit terdiam sesaat sebelum membuka mulutnya.
"Sebenarnya aku bekerja di perusahaan game yang dimiliki ibu Natalie."
Mendengar itu aku sedikit tersedak sementara Nurman tersenyum kecil sebelum melanjutkan.
"Aku akan bilang sesuatu padamu, Natalie itu bukan orang biasa jadi ke depannya kau mungkin tidak akan bisa menolak permintaan apapun darinya."
Aku mengangkat tanganku lalu membaringkan tubuhku ke belakang.
"Aku juga sudah sulit untuk mengatasinya, Natalie benar-benar merepotkan, aku pikir setelah dia bosan denganku dia akan pergi, sayangnya entah sejak kapan kami malah menjadi sangat akrab."
"Entah kenapa kau seperti menganggap kita orang aneh," kataku lemas sampai Natalie, Erin dan Ibu Sania muncul dengan pakaian renang mereka.
"Apa ini tidak terlalu ketat."
"Aku baru beli pakaian ini."
"Bagaimana menurutmu Arta?"
Aku datang ke sini bukan untuk menilai sesuatu hal seperti ini, Nurman berkomentar.
"Warna Erin terlalu cerah, Ibu Sania tolong pakailah yang agak sedikit dewasa dan Natalie sembunyikan dadamu, selesai."
__ADS_1
"Kami tidak bertanya padamu, kau lebih mirip robot dibanding manusia, nah Arta cepat komentari pakaian kami?" ucap Natalie.
Mereka bertiga malah menggodaku.
"Kalian bertiga sangat cocok memakainya," itulah yang bisa kukatakan di saat seperti ini lalu ketiganya menarikku ke daerah sinar matahari.
Erin berkata lebih dulu lalu disusul Ibu Sania.
"Mari bermain voli pantai."
"Rasanya aku kembali muda."
"Nurman?"
"Berjuanglah anak muda, dikatakan wanita itu lebih mengerikan ketika permintaannya di tolak."
Ucapannya sama sekali tidak membantu, dibanding itu harusnya dia juga bernasib sama sepertiku karena itu aku menariknya juga.
"Oi, hentikan, aku tidak bisa terkena matahari secara langsung."
"Memangnya kau ini vampir," teriakku hingga pada akhir aku dan Nurman satu kelompok dalam permainan bola voli.
Ibu Sania yang berpostur kecil melompat untuk mengembalikan bola yang aku kirim padanya, Nurman berhasil menahannya hingga bola melambung ke daerah lawan, di saat itu Erin melompat untuk memberikan smash ke arahku yang mana berhasil kukembalikan kembali ke arahnya.
"Natalie?"
"Serahkan padaku."
__ADS_1
Saat giliran Natalie yang melakukannya entah itu Nurman atau aku kami berdua tak bisa melakukan apapun. Natalie itu seperti sebuah ombak besar yang tidak bisa ditahan oleh apapun.