Love Day!

Love Day!
Chapter 65 : Masa Lalu Ibu Sania


__ADS_3

Setelah lama menghabiskan waktu dengan mencabuti rumput, Nurman berteriak.


"Laptopku, laptopku, aku membutuhkannya."


"Gawat... penyakit laptop kronisnya kambuh lagi," teriakku.


Erin yang mengerenyitkan alisnya kesal dengan ringan menjitak kepala Nurman hingga dia kesakitan, aku akan mengatakannya sekarang, orang jenius dan aneh itu sangatlah tipis.


"Kau bisa menggunakan laptopmu lagi asal kita menyelesaikan ini semua."


"Mustahil, aku sudah lelah."


Begitu aku juga, sayangnya jika kau perhatikan ada seseorang yang mengawasi kami dengan tatapan tajam dari balik tiang bendera, jika bukan Ibu Sania siapa lagi?"


Natalie berkata.


"Bukannya penjahat itu dari tadi melihat kita."


"Itu guru kita."


"Aku baru tahu."


Hanya Natalie yang tidak tahu penyamaran Ibu Sania tersebut, dia mengenakan topeng mainan dengan mantel menutupi seluruh tubuhnya, orang ini sudah aneh.


"Aku di sini hanya sedang mengawasi abaikan saja."


Dia terlalu mencolok untuk bisa diabaikan.


Meski begitu, aku mulai mengumpulkan seluruh rumput yang kami cabuti dan nantinya rumput ini akan mengering dan kemudian baru kami bisa membakarnya.


Yang kami lakukan hari ini hanya membersihkan lingkungan sekolah, tidak lebih.


Selagi duduk di kursi taman aku membelikan mereka semua minuman dingin. Nurman langsung mengecek laptopnya, bagaimanapun di dalamnya ada pekerjaannya.


Ketika Natalie dan Erin mengobrol aku berjalan untuk memberikan minuman pada Ibu Sania. Langit sudah sore dan sebentar lagi akan gelap.


Erin sudah mengambil cuti dari kedai yang dikelola ibuku, sekarang bisnis sudah berkembang hingga kami memperkerjakan dua pegawai lainnya di sana.

__ADS_1


"Ibu mau kopi."


"Terima kasih."


"Pastikan untuk melepas topengmu juga."


Kami berdua duduk di kursi yang lain.


Aku menyeruput minumanku sebelum berkata.


"Kenapa ibu melakukan hal aneh hari ini?"


"Aku tidak aneh... ah, mungkin sedikit."


"Apa mungkin ibu Sania ingin bergabung dengan kami."


Mendengar itu air kopi menyembur dari mulutnya, aku hanya asal bicara akan tetapi sepertinya itu benar.


"Tidak, aku sama sekali tidak... aku hanya ingin mengawasi kalian saja, sebagai guru itu sudah tugasku bukan?"


"Ngomong-ngomong ibu Sania, saat sekolah dulu bagaimana sosok Anda?"


"Kenapa kau bertanya begitu?"


"Sebenarnya ibu juga alumni di sekolah ini bukan? Aku sempat membantu membersihkan gudang dan kulihat foto kelulusan Ibu."


"Jadi Arta melihatnya."


Aku hanya diam tanpa mengatakan apapun hingga Ibu Sania melanjutkan.


"Seperti yang kamu lihat, aku sangat kaku bukan... aku bahkan tidak merasa berada di bagian dari mereka," katanya selagi menyeruput minumannya kembali.


Setelah keheningan sesaat itu, aku bertanya.


"Apa terjadi sesuatu?"


"Di masa lalu aku hanya mementingkan pelajaran, bagiku teman ataupun hal seperti bersenang-senang hanyalah gangguan yang tidak diperlukan, karena itulah aku selalu mengasingkan diri dari semua orang hingga saat aku sadari semuanya sudah tidak bisa kembali."

__ADS_1


Aku membalasnya dengan penuh perhatian.


"Mungkinkah ibu selalu membantuku agar aku bisa bergaul dengan seseorang hingga tak menjadi penyendiri."


Dia mengangguk mengiyakan.


"Ini semua hanya keinginanku saja, aku ingin membantu siswaku sebisanya. Nurman yang mengurung diri dan tidak bisa menerima orang lain lagi karena ekpestasi orang-orang padanya, Erin yang terlalu bersemangat hingga membuat semua orang terganggu olehnya dan juga Natalie yang memiliki kecenderungan menggunakan uang sebagai penyelesaian masalah... Aku selalu memperhatikan kalian, bukan kalian yang mengakibatkan kalian jadi penyendiri melainkan keadaan yang merubah kalian seperti itu, bukannya menyenangkan bisa melindungi masa muda murid-muridku."


Ibu Sania memang memiliki tubuh kecil akan tetapi ia memiliki hati besar sebagai pengajar dan sebagai orang tua pengganti kami di sekolah.


"Kalau begitu sekarang giliran kami yang menjaga masa muda ibu."


"Tapi aku sudah berumur."


"Anda masih muda, aku akan menghajar siapapun yang mengatakan Anda sudah tua."


"Arta, kau bersikap seperti preman loh."


"Sesekali tidak apa kan, lagipula aku terkenal seperti itu," aku mengedipkan mata lalu menarik tangan Ibu Sania menuju ketiga temanku.


"Oi kalian, katanya ibu Sania akan mentraktir kita makan daging di restoran."


"Heh benarkah? Aku mencintaimu Bu guru."


"Bagaimana kalau di restoran bintang lima."


"Natalie itu berlebihan, kita akan di restoran keluarga yang tidak jauh dari sekolah... Nurman kau ikut?"


"Tentu saja, aku pesan paket komplit."


"Kalian semua seenaknya saja, tapi baiklah... anggap saja ini ucapan terima kasihku karena sudah membantu banyak orang di sekolah."


"Hore."


Erin memeluk Ibu Sania dan kami berjalan bersama keluar sekolah.


Masa sekolah SMA kami memang baru saja dimulai.

__ADS_1


__ADS_2