Love Day!

Love Day!
Chapter 45 : Sebuah Rencana


__ADS_3

Selesai mandi, aku memeriksa ponselku selagi berbaring di tempat tidur. Ada panggilan tak terjawab dari Natalie hingga aku memutuskan untuk memangilnya balik.


Sayangnya dia langsung menutupnya.


Apa yang barusan itu?


Apa dia sedang marah, Natalie memang memiliki kepribadian unik dibanding gadis seumurannya, aku bisa mengatakan bahwa dia memiliki sikap protektif lebih dari siapapun.


Ketika aku merasa heran, sebuah panggilan melalui video call masuk.


Aku buru-buru mengangkatnya dan wajah Natalie terlihat di sana, ia mengikat rambutnya dengan gaya ponytail. Kulitnya terlihat lembab seolah baru selesai mandi.


"Kukira kau marah padaku karena tidak mengangkat teleponnya."


"Mana mungkin aku seperti itu, aku hanya merapikan riasanku barusan."


"Padahal menurutku, kau terlihat cantik tanpa make up."


"Jangan mengatakannya terus terang, aku malu."


Aku cukup berjuang keras untuk bisa mengatakannya, tanpa diketahui Natalie bahwa jantungku berdetak kencang sekarang.


"Sebelumnya aku sedang mandi, jadi apa yang ingin kau katakan?" tanyaku mengubah topik pembicaraan.


"Ini soal Mawar, apa kita tidak bisa melakukan apapun?"


"Sebenarnya ada satu hal, hanya saja itu merepotkan."


"Cepat katakan padaku."


Aku bisa melihat Natalie memancarkan sinar dari kedua matanya.


"Peraturan dibuat oleh kepala sekolah dan guru, jika kita menjelaskan situasinya pada salah satunya mungkin saja Mawar bisa mengundurkan diri dan akan diadakan pemilihan ketua OSIS lagi."

__ADS_1


"Maksudmu dengan membiarkan para calon sebelumnya bersaing lagi tanpa mengikut sertakan Mawar."


"Benar, hanya saja hal itu bisa dilakukan jika kita mendapatkan persetujuan dari semua calon... pihak sekolah akan menganggapnya sebagai bentuk protes para siswanya sebagai ketidakadilan, maka pemilihan itu akan dilakukan kembali."


"Aku mengerti, untuk berjaga-jaga aku akan menyediakan uang demi memuluskannya."


Aku menatap dengan pandangan bermasalah.


"Apa kau masih ingat apa yang kukatakan soal uang?"


"Uang kecil menjadi teman, jika besar akan menjadi lawan."


"Itu api," kataku lemas lalu melanjutkan.


"Segala masalah tidak bisa begitu saja diselesaikan dengan uang melainkan dengan usaha, maka kita akan mencapai kepuasan tersendiri."


"Kalau gagal?"


"Oke."


Aku sebenarnya tidak ingin mengakuinya tapi dengan uang masalah lebih banyak teratasi, atau mungkin aku akan ditangkap setelah mengatakan ini sebagai tindakan kejahatan.


Mari kesampingkan hal itu.


"Arta, sebenarnya aku tidak bisa tidur? Bagaimana kalau kita bermain game untuk menghabiskan waktu."


Aku bisa membayangkan diriku terus mendengarkan teriakan Natalie, hal itu tidak boleh terjadi.


"Lebih baik kita mengobrol seperti ini saja untuk menghabiskan waktu."


"Aku tidak keberatan sih, tapi mengobrol soal apa?"


"Apapun?" balasku.

__ADS_1


"Sebenarnya aku baru mencoba membeli beberapa pakaian melalui online shop, apa Arta mau melihatnya?"


"Apa itu?"


"Pakaian dalam."


Aku terdiam karena terkejut.


"Mereka menjual itu juga secara online?" tanyaku dan mendapatkan anggukan kecil.


"Um... perusahaan tersebut hanya dikelola oleh perempuan, pengiriman barangnya juga, pembelinya harus mengkonfirmasi bahwa dirinya juga perempuan lewat suara."


"Semakin lama semakin canggih saja."


"Aku akan mengambil barangnya."


"Tidak, tidak, Natalie, kau seharusnya tidak menunjukkan barang seperti itu kepada pria."


"Benarkah?"


"Sudah jelaskan."


"Padahal aku tidak keberatan," katanya mengembungkan pipi.


Akulah yang keberatan, aku bisa saja dituduh sebagai penjahat dan dijebloskan ke penjara setelahnya.


Lagipula aku juga belum siap mental untuk melihatnya.


Kami terus berbicara hal yang ringan selama mungkin, sampai saat aku sadari aku bisa melihat wajah Natalie yang sudah tertidur pulas.


Bulu mata yang panjang, hidung yang mancung serta bibir yang tipis membuatnya terlihat sangat sempurna. Semua hal yang diinginkan oleh seluruh gadis di dunia ini, mungkin semuanya ada pada Natalie.


Aku berkata "Selamat malam," ke arah layar lalu menutup teleponnya dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2