Love Day!

Love Day!
Chapter 62 : Toko Buku


__ADS_3

Selepas sekolah kami mengunjungi ruangan klub yang belakangan digunakan oleh Mawar dan dua rekan kembarnya.


Saat kami mendekat suara musik terdengar semakin jelas, ketika kami mengintip tampak Rin dan Ran sedang menari mengikuti alunan musik yang diputar dari ponsel.


"Satu, dua, tiga."


Ruangan ini telah disulap menjadi ruangan menari bagi Idol. Natalie mengetuk pintu dan yang membukanya adalah Mawar.


"Apa ada yang bisa kami bantu?"


"Sebenarnya kalian diduga telah melakukan tindakan kriminal, kami di sini untuk membawa kalian ke penjara," potong Nurman.


"Mungkinkah, aku ketahuan mengemil di kelas dan juga meminjam pensil tanpa sepengatahuan pemiliknya lalu mengembalikannya tanpa menajamkan pensilnya kembali."


Aku ragu seseorang akan ditangkap karena itu, tapi cukup mengejutkan bahwa Mawar juga seperti itu.


Erin menepuk punggung Nurman.


"Dia cuma bercanda, kami memiliki pertanyaan untuk si kembar."


"Rin dan Ran kah?"


Tanpa perlu memanggilnya mereka mendekati kami semua.


"Ada rame-rame apa ini? Apa kalian mau menari?"


Aku yang menjelaskan.


"Kudengar kalian melarang siswa lain membeli makanan ringan di kantin."


"Benar, kami berniat untuk membeli semuanya nanti," balas ringan Rin lalu seolah mengingat sesuatu dia memegangi kepalanya.


"Kami lupa untuk membelinya, Ran?"

__ADS_1


"Aku juga tidak ingat."


Aku mendesah pelan lalu melanjutkan.


"Jadi begitu, pemilik kantin meminta kami untuk menyelidiki makanan yang tidak laku.. karena kalian berdua, pemilik kantin jadi gelisah."


"Bagaimana ini?" keduanya terlihat panik.


"Lebih baik kalian minta maaf, dan menjelaskan semuanya."


"Kami mengerti," jawabnya lesu.


Setelah keduanya meminta maaf aku dan Natalie berjalan pulang bersama, kurasa karena keduanya berniat membelinya nanti tidak ada maksud jahat yang tersembunyi.


Belakangan ini mereka berlatih giat dan memutuskan akan membeli cemilan di kantin, sayangnya mereka lupa untuk melakukannya padahal sudah melarang siswa di kelasnya untuk membelinya.


Yang jelas, masalah selesai lebih cepat dari yang kubayangkan.


Natalie berjalan di sampingku selagi memeriksa ponselnya sesaat sebelum kembali berkata.


"Aku tidak keberatan sih, tapi jarang-jarang kau mau pergi ke sana?"


Natalie mengembungkan pipinya.


"Maaf saja tapi aku suka membaca buku sepertimu, zaman sekarang buku bisa dipesan lewat online terkadang beberapa situs menjual versi e-booknya.. karena aku sudah punya pacar aku bisa membelinya langsung dan meminta pacarku untuk membawanya."


"Kau ingin memanfaatkanku," teriakku.


"Bukannya itu gunanya punya pasangan."


Aku menarik pipi Natalie, walau aku tidak keberatan penyampaiannya sangat buruk.


"Awawa aku cuma bercanda... jangan menarik pipiku, kurasa menghabiskan waktu bersama seseorang yang berharga di toko buku pasti menyenangkan."

__ADS_1


Aku melepaskan tanganku selagi mendesah pelan.


"Aku akan mengantarmu tapi jangan membeli terlalu banyak."


"Oke," balas Natalie cepat.


Sesampainya di toko buku, rak-rak yang menawarkan bebagai genre menyambut kami.


Rak fantasi, horor, komedi, school dan sebagainya bisa kami pilih di mana saja.


Natalie melirik ke arah kiri kanannya, depan dan belakang. Apa ini waktunya dia mengatakan 'cantik, cantik'


"Di sini tidak ada area 18+, aku dari tadi sedang mencarinya."


Dia menyamakan toko buku di sini dengan di negara lain.


"Maaf saja, hal seperti itu tidak ada."


"Apa?"


Dia jelas baru datang ke tempat ini, dan juga Natalie harusnya sedikit malu karena berusaha mencari buku seperti itu di depan seorang pria.


"Kau bisa memilih yang lainnya, aku sarankan kau membeli ini."


"The Lord Of The Ring kah, aku sudah membaca semuanya dengan bahasa inggris."


"Yang ini?"


"Sudah."


"Sherlock Holmes."


"Semuanya sudah."

__ADS_1


Aku menyesal telah meremehkan Natalie, dia memang gemar membaca buku.


__ADS_2