
Aku bersandar di luar bus sebelum Ibu Sania datang selagi menyodorkan minuman dingin padaku.
"Berterima kasihlah padaku, berkatku kau bisa mengikuti acara sekolah ini bersama yang lainnya tanpa perlu bergabung dengan orang yang kau tidak kenal."
"Terima kasih."
"Tidak biasanya kau menurut."
"Maksudku terima kasih untuk minumannya.... akan tetapi tanpa bantuan ibu aku mungkin tidak akan pernah pergi ke karya wisata seperti ini, meskipun ibu malah menyuruh-nyuruhku mengerjakan pekerjaan ibu."
"Kita harus saling menguntungkan satu sama lain ahaha," katanya jahil.
Guru ini memang sedikit unik, biasanya orang dewasa selalu bersikap sedikit menjaga Imej mereka tetap baik di masyarakat walaupun harus memakai topeng besi, tapi guruku adalah orang yang sangat jujur terhadap dirinya, entah bagaimana pandangan orang padanya dia selalu menjadi dirinya sendiri tanpa membohongi siapapun.
Aku sedikit kagum saat melihat sisi tersebut.
"Fuwah... sudah waktunya bekerja, aku akan memeriksa apa semuanya sudah ada."
"Ngomong-ngomong ibu, apa tak apa Nurman berada di kelas kita?"
"Aku sudah minta izin soal itu, Nurman cenderung kurang pandai bergaul kalau tidak bersamamu dan Natalie dia mungkin tidak akan ikut dalam acara seperti ini."
Aku sudah menduga hal ini, kurasa pilihan tepat untuk bersama dengannya.
__ADS_1
Bus yang membawa rombongan kelas dua mulai bergerak maju, Nurman hanya duduk sendirian bersama laptopnya sementara aku duduk bersama Natalie di depannya.
Natalie dengan senang menempelkan kepalanya di bahuku selagi mendengarkan MP3 di telinganya.
Bagiku Natalie sama sekali tanpa pertahanan dan terkesan ceroboh, mungkin dia sengaja menjahiliku dengan pesonanya.
"Arta kau mau mendengarkannya juga?"
"Apa boleh?"
"Tentu saja, bukannya kau pernah bilang ingin tahu segala hal tentangku, aku pikir ini waktunya mengetahui musik seperti apa saja yang suka kudengar."
Aku tidak bisa berkata apapun lagi dan menerima satu earphone yang diberikannya padaku. Natalie terkesan menyukai lagu-lagu yang dibawakan santai, tentang percintaan ataupun sebuah hubungan.
Natalie mungkin memiliki hati lebih perasa dibandingkan gadis lainnya.
"Semua musik yang terdengar enak, aku menyukainya."
"Tidak ada yang spesifik."
Nurman yang ada di belakangku menyodorkan kepalanya seperti jerapah.
"Maaf mengganggu kalian, bisakah kita bertukar tempat duduk... Aku juga seorang pria, jika melihat pasangan bermesraan di depanku, itu membuat hati jombloku bergejolak."
__ADS_1
Dia mengatakannya dengan datar hingga aku tidak tahu dia mengatakan hal benar atau sekedar bercanda.
Perkataan selanjutnya menegaskan hal itu.
"Aku cuma menggoda kalian, jadi jangan dipikirkan."
Aku harusnya sudah tahu itu sejak awal.
Nurman melanjutkan.
"Kita adalah kelompok yang paling sedikit orangnya, aku tidak masalah tidur di luar sementara kalian bisa tidur bersama di dalam tenda."
"Kita sudah sepakat aku tidur denganmu, dan Natalie tidur dengan Ibu Sania... Aku ingin memastikan aku melakukan hal yang benar."
"Syukurlah Natalie, sepertinya Arta berusaha menjagamu."
"Berisik, seharusnya kau tidak mengetesnya."
Aku akhirnya tahu maksud dari perkataan Nurman, dari semua manusia, orang jenius adalah orang yang sulit dihadapi.
Tidak ada yang salah dari ucapanku, karena itu aku tidak menyesalinya.
Selagi menatap ke luar jendela, aku melihat jalanan tol yang telah kami lewati, di sana ada sungai, jembatan yang tampak memukau serta riak-riak air di danau akibat ikan yang melompat ke atas.
__ADS_1
Kurasa perjalanan sekarang lebih menyenangkan.
Tanpa sadar aku tersenyum kecil.