
Apa yang harus kulakukan? Jika aku melawan aku takut Natalie akan terluka melihatku babak belur, tapi jika aku lari harga diriku sebagai laki-laki akan lenyap terlebih Natalie akan mulai menggodaku sebagai penakut.
Ketika aku kebingungan suara yang asing datang dari belakangku, kami semua menengok ke arahnya di mana yang datang itu seorang siswa laki-laki dengan baju sekolah tak terkancing.
Dilihat dari seragamnya dia berasal dari sekolah lain dan jelas terlihat seperti berandalan.
"Namaku Renaldi, jika kalian mau berkelahi dengannya... lawan aku dulu."
Dia dengan gagah berjalan melewati kami berdua, diam-diam dalam hati aku berkata.
'Pahlawanku' dengan mata berbinar, sementara Natalie cemberut.
"Sok keren padahal Arta juga bisa mengatasi mereka semua."
Apa yang kau katakan? Aku jelas akan terbunuh jika digebukin orang sebanyak ini. Orang bernama Renaldi sempat melirik ke arah Natalie namun dia memilih untuk fokus dengan apa yang sedang menjadi tujuannya.
Menyelamatkanku.
"Memangnya gue takut... serang!"
Mereka semua menyergap Renaldi dari segala arah, tapi baginya itu bukan apa-apa, mereka semua dengan mudah diterbangkan ke udara entah itu perempuan atau laki-laki dia memukulnya.
Aku malah melihatnya dalam versi slow motion.
Mereka semua tumbang dalam waktu singkat.
"Arta lebih baik, malahan jika dia serius tangannya akan memanjang kaya Dhalsim di street fighter."
__ADS_1
"Oi."
Saat dia hendak pergi aku berkata. "Terima kasih." Namun dia mencengkeram kerahku.
"Jangan salah paham, aku tidak berusaha membantumu.... semua orang berkata kalau kau paling kuat di wilayah ini, aku mengalahkan mereka agar aku bisa berduel denganmu satu lawan satu nanti."
Natalie menatap dengan pandangan bersinar sementara aku memucat.
Eeeek!
Sebenarnya rumorku sudah sejauh mana, padahal aku belum pernah berkelahi dengan siapapun.
"Dengar, tiga hari lagi kutunggu kau di pinggir sungai.. kita berduel."
Setelah mengatakan itu. Renaldi melepaskan tangannya lalu berjalan pergi, entah kenapa semuanya malah semakin runyam.
Tiga hari selanjutnya.
"Ka-kau... aku sudah menunggumu di sungai tapi kau tidak muncul-muncul, jangan PHP-lah."
"Yah, aku juga tidak bilang menyetujuinya."
"Memang benar, tapi..."
Natalie memotong.
"Kenapa kau terlalu terobsesi dengan Arta, apa jangan-jangan kalian punya hubungan?"
__ADS_1
"Tiiiidakkkk!!"
Kami berdua berteriak penuh penyangkalan ke arahnya.
"Aku ingin mengalahkannya, dengan begitu aku bisa menjadi orang paling kuat di wilayah ini."
"Kau masih terlalu cepat 100 tahun untuk bisa mengalahkan Arta, kau harus bisa menggunakan jurus rasenggan atau chidori."
"Rasenggan apa?"
Wajah Renaldi jelas kebingungan.
Aku mendesah pelan, aku harap Natalie tidak mengatakan soal game atau manga pada orang ini, dia hidup di jalan yang berbeda.
Jalannya jelas adalah jalan penuh pertumpahan darah dan kekerasan.
"Kenapa kalian diam, cepat katakan padaku, apa itu?"
Karena dia memaksa, pada akhirnya setiap pagi aku meminjamkan komik serta novel padanya hingga setelah sebulan berlalu dia menemuiku kembali.
"Yo Arta, aku merasakan angin kehancuran di depan sana... mari kita periksa, setelah itu kita bisa berduel."
Dia jadi tukang halu.
"Mataku... mataku, sepertinya naga yang tersegel di tubuhku akan lepas kendali, kalian berdua cepat pergi."
Natalie adalah orang yang paling antusias, dia terus memotret sosok Renaldi yang menyedihkan dari segala arah menggunakan kamera ponselnya.
__ADS_1
"Keren, cool, luar biasa."
"Ini semua gara-gara kau," teriakku padanya.