Love Day!

Love Day!
Chapter 39 : Event Di Cafe


__ADS_3

Selepas kegiatan klub yang melelahkan, Natalie menarikku ke arah Cafe yang belakangan ini terkenal di sosmed.


Aku tidak tahu, tapi ketika aku pulang, Erin dan Nurman terlihat seperti mencoba membiarkanku berdua dengan Natalie saja.


Aku tidak menolak atas kebaikan yang mereka tunjukkan padaku, hanya saja... Natalie selalu tidak bisa menahan diri jika kami hanya berdua saja.


Dia cenderung terbuka dan menggodaku dengan apa yang dia milikinya, bagi seorang pemuda sekolah menengah atas sepertiku, ini godaan yang terlalu berat untuk diatasi terutama dalam masa pubertas.


Natalie memesan kue yang berwarna cerah dengan kopi sementara aku memesan kopi saja, aku memasukan dua buah gula kubus ke dalamnya sedangkan Natalie benar-benar tanpa gula.


"Tunggu sebentar, Arta kau memasukan dua gula ke dalam cangkirmu, jadi waktu itu?"


"Sebenarnya saat itu aku diam-diam menambahkan gula."


Ekpresi Natalie terlihat senang.


"Jadi begitu, Arta pura-pura menjadi pria dewasa kan."


"Ugh," aku tidak bisa menyangkalnya.


"Sejak itu, aku berlatih untuk meminum kopi pahit hingga aku mulai terbiasa, sebaiknya kamu juga melakukan hal sama."


"Maafkan aku."


Aku sedikit merasa kagum padanya, kalau saja bukan karena kancing baju atasnya yang terlepas aku akan melihat bagaimana dia saat meminum teh pahit itu.


"Ada apa Arta?"


"Kancing bajumu terbuka."


"Di negaraku hal seperti ini sangat biasa loh, terkadang meski memakai bra dan rok mini, mereka tidak ditegur."

__ADS_1


"Tolong kaitkan saja," aku menegaskan hal itu.


Sebagai pria yang menjunjung keadilan dan kedamaian dunia, aku harus memperingati soal sopan satun berbusana.


Aku menyesap kopiku dan mengerenyitkan alis karena itu.


"Masih kurang gula."


"Jangan terlalu memaksakan diri, kau bisa memesan jus juga," nada Natalie sedikit mengejek apalagi matanya yang berkilauan itu terlihat jelas.


Dia benar-benar membalasku.


"Mau aku pesankan?"


"Tolong jangan lakukan itu."


Aku memasukan lima gula kubus sebagai tambahan. Di sisi lain Natalie tidak terlalu terganggu dengan yang diminumnya.


"Oh yah Arta... aku lihat kamu membeli komputer, apa ada yang ingin kamu lakukan?"


"Sebenarnya aku ingin mencoba game yang dikembangkan Nurman, aku pikir kalau memainkannya dalam komputer akan lebih seru."


"Highland Fantasy?"


"Benar, aku ingin mencobanya nanti malam."


"Bagaimana kalau aku juga ikut, beradaptasi di game bersama akan sedikit berbeda dengan di kehidupan nyata, kudengar Nurman membuat gamenya sangat nyata bahkan di sana juga terdapat fitur pemain bisa menikah."


Aku menyipitkan mataku ke arah Natalie.


"Kau tidak berniat menikah denganku di dalam game kan?"

__ADS_1


"Tentu saja aku menyuruhmu melakukannya, jangan salah paham, game dan dunia nyata jelas sesuatu berbeda walau kita menikah, itu bisa dikatakan seperti pura-pura.... mungkin."


"Mungkin?"


"Yah di Dunia game kita tidak bisa membuat bayi kan."


Ini obrolan yang sering terdengar di sekolah menengah atas zaman sekarang.


"Aku akan memainkannya jam 8 nanti."


"Begitu, walau perusahaan Ibuku yang bertanggung jawab, aku belum pernah memainkannya karena itu kita bisa belajar bersama nanti."


"Gamenya?"


"Bukan, soal pernikahannya."


Natalie tetaplah Natalie yang kukenal.


"Arta, buka mulutmu?"


"Kau mau menyuapiku lagi?"


"Mau bagaimana lagi, coba lihat sekeliling kita."


Aku menuruti apa yang dikatakan Natalie, entah sejak kapan aku baru tahu bahwa semua pengunjung ini merupakan pasangan, tentu hanya aku dan Natalie satu-satunya pasangan dari sekolah.


Aku melirik brosur yang ada di meja untuk memastikannya, ternyata hari ini hanya dibuka untuk pasangan.


"Jika kamu tidak melakukannya, ini akan sedikit membuatku malu."


"Ugh."

__ADS_1


Natalie benar-benar jahil, dia memosisikan diriku agar tidak menolaknya, jika begini aku tidak ada pilihan lagi.


Aku menerima suapan darinya bahkan kami juga mengambil foto bersama layaknya seorang kekasih.


__ADS_2