Love Day!

Love Day!
Chapter 18 : Video Game Dan Sapaan Selamat Malam


__ADS_3

Sebenarnya aku ingin meminta Natalie untuk segera pergi dari tempatku hanya saja sepertinya itu sudah terlambat, dia mengambil seluruh makanan manis yang kusembunyikan di kamarku dan juga beberapa kaleng minuman di kulkas selagi duduk di depan tv.


"Arta, mari main video game?"


"Pulang sana."


"Aku tidak akan pulang sebelum memainkan semua ini."


Maksudnya semuanya dengan kata lain dia ingin berada di sini sampai malam hari, sungguh merepotkan.


Aku mendesah pelan lalu menyalakan konsol sesuai diinginkan sebelum duduk di sampingnya. Pertama adalah game pertarungan yang belakangan ini cukup populer.


Beberapa kali aku menang dengan mudah sampai dengan jahilnya dia duduk di pangkuanku selagi tersenyum senang.


"Arta permainanmu jadi buruk loh?"


Jelas akan buruk, bagaimana aku bisa berkonsentrasi bermain jika dia duduk di dekatku dengan santainya.


Dia benar-benar curang.


Aku hanya menundukkan kepalaku dengan kekalahan yang telak.


"Selanjutnya ini."


"Ah, baiklah."


Aku memasang kembali game bertema horor, di game ini pemain akan masuk ke dalam kastil dimana di dalamnya dipenuhi zombie yang harus kami kalahkan.


Berbekal gergaji mesin kami membantainya sampai ke stage bos dan saat mengalahkan semuanya maka akan beralih ke stage berikutnya di tempat yang berbeda.


"Aku tidak tahu game itu bisa semenakutkan ini," kata Natalie dengan ekpresi pucat.


"Makanya jangan main yang ini," teriakku demikian.


"Selanjutnya."


Aku benar-benar terjebak dengannya seharian ini. Natalie meregangkan tangannya dengan puas lalu melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 9 malam.


"Sepertinya aku harus pulang sekarang, terima kasih untuk hari ini... Sangat menyenangkan."


"Tunggu, biar aku antar."

__ADS_1


"Ini masih belum larut koq."


"Sudahlah."


Aku mengambilnya jaketku lalu mengikuti Natalie dari samping sesudah mengunci pintu, dibanding dirinya mungkin akulah yang harus berterima kasih, sejak lama aku tidak memiliki satu orang pun teman, saat Natalie muncul aku baru menyadari bahwa aku telah memilikinya.


Erin dan Nurman juga.


"Ada apa Arta?"


"Bukan apa-apa, lain kali kita pergi ke luar bersama yang lainnya juga."


"Aku lebih suka berduaan saja tapi kurasa itu juga akan menyenangkan."


Tanpa sadar wajahku memerah dan Natalie memanfaatkan itu dengan memontretku beberapa kali dari segala arah.


"Wajah Arta sangat keren."


"Berhentilah mempermainkanku."


"Mari foto bersama."


"Kalau tidak dicoba mana kita tahu."


Kami berdua berdiri di tiang lampu jalan selagi menghadap kamera yang dipegang oleh Natalie, saat terdengar bunyi 'Klik' foto kami berdua terambil dengan baik.


"Lihat kan, foto yang bagus."


Aku mengangguk sebagai jawaban lalu kami berdua melanjutkan langkah kami kembali.


"Nah Arta, kulihat kadang kau sangat rajin belajar, apa ada sesuatu yang ingin kau raih?"


"Kenapa kau menanyakan hal itu?" aku balik bertanya.


"Hanya penasaran saja, kebanyakan orang-orang di usia muda seperti kita menjalani hidup santai seperlunya tanpa terlalu memaksakan diri berlebih tapi kau terlihat berbeda."


Aku berhenti sejenak lalu menimbang-nimbang akan memberitahu padanya atau tidak, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengatakannya.


"Sebenarnya aku ingin mengambil beasiswa di fakultas kedokteran."


"Fakultas kedokteran, Arta ingin menjadi dokter kah."

__ADS_1


"Apa aneh?"


"Mana mungkin aneh, bahkan jika aku, aku tidak yakin bisa melakukannya."


"Bukannya kau terlalu menganggap diri sendiri hebat."


"Inilah kelebihanku," kata Natalie tersenyum senang lalu melanjutkan.


"Aku akan selalu mendukungmu, jadi awas jika kau menyerah."


"Aku pikir saat jadi dokter aku bisa menyelamatkan ayahku, sayang sekali dia.."


Natalie memegangi bahuku, mungkin baru kali ini dia melihatku dengan serius.


"Dengarkan aku Arta, meski kau seorang dokter kau tidak bisa mencegah siapapun untuk terus hidup, kau masihlah manusia biasa yang hanya bisa berusaha dan sisanya hanya takdir tuhan yang menentukannya."


"Aku tahu."


Kami berdua saling memandang satu sama lain.


"Bukannya tinggi badan kita pas untuk saling berciuman."


Kemana perkataan kerennya barusan oi.


Di depan pintu apartemen itu Natalie melambaikan tangan ke arahku setelah mengucapkan terima kasih, saat aku hendak pergi dia memanggilku.


"Kau melupakan sesuatu."


"S-sesuatu?"


Saat aku sadari Natalie memelukku selagi mencium pipiku hingga aku terbelalak kaget.


"Tunggu, apa yang barusan terjadi?"


"Tidak ada maksud apapun, itu hanya ciuman sapaan selamat malam, di negaraku sudah biasa seperti itu, kalau begitu sampai besok di sekolah."


Sebelum aku menanyakan lebih lanjut dia sudah lari ke dalam apartemennya.


Di belakang pintu itu Natalie tersipu malu selagi menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dia bergumam pelan.


"A-apa yang kulakukan? Bagaimana ini? Bagaimana? Karena terlalu senang aku malah mencium Arta, sekarang aku tidak bisa melihat wajahnya lagi. Memalukan."

__ADS_1


__ADS_2