
Di ruangan klub itu, Natalie menatap jendela selagi berkata.
"Tatap mataku, terbukalah, terbukalah."
Sepertinya aku pernah mendengar lawakan itu, tapi kurasa Natalie tidak sedang melakukannya, akan tetapi dia sedang berusaha mempelajari sihir.
"Padahal aku yakin aku memiliki kekuatan sihir selain uang."
"No coment," balasku singkat.
Akan lebih cepat jika dia langsung membuka jendelanya, walau hari sudah sore udara benar-benar terasa panas seolah tengah hari.
Mungkin ini yang disebut musim pancaroba, padahal beberapa hari ke belakang intensitas hujan cukup tinggi.
Pada akhirnya Natalie menyerah lalu membuka jendela selagi bersandar di sana, diam-diam aku melirik ke arahnya bergantian dengan buku yang sedang kubaca.
Ia memiliki kaki yang panjang sebagaimana orang-orang dari Eropa sementara rambutnya sangat indah saat berkibar tertiup angin layaknya cuplikan iklan di televisi.
Tapi hanya sebentar sebelum akhirnya angin tidak muncul lagi.
"Arta?" dia berbalik selagi menatapku.
"Hari ini sangat panas, mau aku belikan minuman dingin?"
"Tidak, aku punya ide yang bagus... bagaimana kalau kita bermain batu, kertas, gunting, siapa yang kalah harus mengipasi yang menang selama 30 detik kemudian bermain kembali."
"Itu merepotkan, akan kubelikan minuman dingin."
Sebelum hendak keluar. Natalie sudah menghalangi pintunya dengan mata mengkilap.
"Aku sedang bosan, bermainlah denganku, aku akan melakukan apapun."
Melakukan apapun? Apa dia tahu betapa tabunya perkataan itu diucapkan perempuan.
__ADS_1
Aku duduk kembali di kursi sementara Natalie duduk di depanku hingga hanya sebuah meja panjang saja yang menghalangi kami berdua.
Kami secara bersama-sama mengucapkan mantera.
Batu, kertas, gunting.
Tepat saat perkataan terakhir selesai kami berdua sama-sama menjulurkan tangan ke depan.
Aku memilih batu dan Natalie memilih kertas, dibanding terkejut dengan kekalahanku, aku lebih terkejut dengan ekpresinya.
Natalie menahan nafasnya selagi membusungkan dadanya percaya diri.
"Aku menang."
"Cuma keberuntungan."
Aku mengambil buku dari tasku lalu menghitung selagi mengipaskannya ke arah Natalie yang terlihat manja.
"Sejuk sekali, lebih keras lagi."
"Tolong jangan mengeluarkan suara aneh."
"Tidak sopan, suaraku tidak aneh."
Dia memang sengaja melakukannya, entah itu ruangan ini atau tubuhku semuanya terasa panas.
Di pertandingan kedua aku yang memenangkannya.
"Gunting melawan kertas, aku yang menang."
"Cuma keberuntungan."
Giliranku yang memasang wajah sombong selagi merasakan hembusan angin yang dibuat oleh Natalie.
__ADS_1
"Arta, kenapa tidak mengeluarkan suara yang sama sepertiku?"
"Ogah banget," jawabku datar.
Pertandingan berlanjut hingga kedudukan menjadi sembilan sama, pertandingan ini adalah pertandingan akhir.
Batu, kertas, gunting.
Kami sama-sama mengeluarkan kertas.
"Mari anggap saja seri, lagipula tanganku keram karena terus mengipasimu dengan buku."
"Dalam pertandingan hanya akan berakhir jika ada pemenangnya."
Di saat seperti ini saja, dia bisa mengatakan hal keren.
Pertandingan diulangi dan aku menjadi pemenangnya.
"Lain kali aku yang akan menang."
Ada lain kali rupanya, aku sama sekali tidak ingin melakukannya lagi.
Nurman dan Erin sedang memiliki kesibukan karenanya mereka berdua tidak datang, bahkan hingga matahari terbenam pun tidak ada siapapun yang datang.
Klub ini sebentar lagi pasti dibubarkan, lagipula orang-orang lebih suka menyembunyikan masalahnya dibanding meminta bantuan orang lain.
Keesokan paginya Natalie bersandar di tembok selagi menungguku, dia melambaikan tangannya.
"Selamat pagi Arta."
"Pagi Natalie, itu... siapa yang ada di belakangmu?"
"Katanya mereka datang untuk menantangmu berduel."
__ADS_1
Tak hanya laki-laki, perempuan pun juga ada, mereka mengenakan rok pendek, masker gambar tengkorak serta membawa pemukul baseball.
Yang jelas mereka berasal dari sekolah lain.