
Semakin hari keadaan Fatimah sudah semakin membaik, namun itu hanya dari segi fisiknya saja, tapi tidak dengan batinnya. Karena Fatimah masih sesekali menangis, ia merasa sudah menjadi wanita kotor dan hina.
Bibi Aisyah dan Dokter Ratih pun berusaha menghiburnya dan mensuport Fatimah, agar Fatimah bisa melalui semua ujian dalam kehidupannya.
Fatimah juga sering kali menangis memikirkan Ibunya saat ini, entah apakah ibunya masih hidup atau sudah tiada. Ingin rasanya Fatimah kabur dari sana, namun ada dua penjaga yang berdiri di depan ruang kamar inapnya, sehingga membuat Fatimah tidak berani keluar kamar. Pikirannya benar-benar kacau. Ada kalanya ia seperti orang linglung, saat di ajak bicara seringkali tidak nyambung. Kadang juga Fatimah diam dengan tatapan kosong.
Fatimah jika di lihat dari segi fisik sebenarnya sudah sehat, dan sudah bisa di perbolehkan pulang, namun karena melihat tekanan batinnya begitu besar, akhirnya Dokter Ratih pun meminta kawannya yang bekerja bagian psikolog membantu Fatimah untuk bisa kembali seperti semula.
Mbak Nana, dialah psikolog yang akan menangani Fatimah mulai hari ini. Mbak Nana melakukan pendekatan lebih dulu dengan Fatimah, seperti kenalan dan lain sebagainya. Sayangnya, Fatimah tidak merespon apapun. Hingga berhari-hari Mbak Nana terus berusaha mendekatinya dan menceritakan apa saja yang membuat Fatimah mau menoleh ke arahnya. Dan benar saja, Fatimah mulai sedikit demi sedikit merespon ceritanya.
__ADS_1
Dan dari situlah, Mbak Nana mulai mencoba untuk semakin lebih dekat dan menjadi teman cerita Fatimah. Melihat Mbak Nana yang terlihat baik dan welcome, Fatimah mulai merasa nyaman. Ia mulai menceritakan kisah hidupnya. Dan diam diam Mbak Nana pun merekam cerita Fatimah.
Fatimah menceritakan saat ia masih kecil, hidupnya begitu bahagia, namun sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama sejak ayah kandungnya meninggal. Dan dari sanalah, Fatimah dan Ibunya hidup dalam kemiskinan dan banyak hutang sana sini, terlebih Ibunya hanya kerja sebagai buru cuci. Fatimah terus menceritakan tentang Ayah tirinya, yang begitu kerap menyiksa dirinya dan sang Ibu. Semuanya ia ceritakan dengan deraian air mata. Bibi Aisyah dan Dokter Ratih yang ada di luar pintu pun mendengar semuanya, termasuk dua penjaga yang ada di luar pintu. Karena memang pintunya sengaja tidak tertutup rapat, agar mereka bisa mendengar langsung cerita Fatimah.
Dan Fatimah semakin terisak saat menceritakan Ibunya yang jatuh di kamar mandi dan struk, tepat saat hari kelulusannya dan dari situ, kebahagiaannya benar-benar lenyap. Penderitaan yang ia rasakan semakin besar saat Ibunya hanya bisa terbaring di atas kasur.
Bagaimana Fatimah berjuang dari pagi pagi buta ke pasar jadi kuli panggul, pulang merawat Ibunya dan kembali membuat gorengan dan kue untuk di jual keliling kampung. Namun uang hasil jualan dan jadi kuli panggul yang ia tabung sedikit demi sedikit, buat berobat Ibunya malah di curi oleh Ayah tirinya.
Mbak Nana yang mendengarnya pun ikut terisak, bahkan Dokter Ratih dan Bibi Aisyah sampai menutup mulut mereka agar suara isakan mereka tidak terdengar oleh Fatimah. Dua orang penjaga awalnya hanya diam mendengarkan, namun pada akhirnya mata mereka pun juga berkaca-kaca, mereka juta tidak tega mendengar bagaimana kehidupan Fatimah yang penuh dengan penderitan.
__ADS_1
Fatimah juga menceritakan tentang dirinya yang di jual oleh ayah tirinya ke Tuan Ray, dan bagaimana Tuan Ray menyiksa dirinya di dalam kamar hingga ia tidak sadarkan diri.
"Saat ini, yang aku fikirkan adalah Ibuku. Aku ingin tau bagaimana kondisinya saat ini. Aku tidak yakin Ayah tiriku akan merawatnya mengingat Ayah hanya suka bikin ulah dan menyiksa Ibu selama ini. Aku ingin kabur tapi aku takut. Aku cuma ingin tau, apakah Ibuku baik-baik aja di sana? Dan siapa yang memandikannya selama ini, yang menggantikan popoknya, menyuapinya dan merawatnya? Setiap kali mengingat itu, hatiku sakit. Aku tidak bisa menolongnya dari kekejaman Ayah. Aku bingung, apakah saat ini Ibu masih bernafas, atau kan Ibu sudah tiada? Aku bingung, aku tertekan. Aku juga tidak yakin keluarga Ayah kandungku atau pun keluarga besar dari Ibuku mau menolongnya, bahkan tetangga sekalipun. Mereka selalu menghindar karena kami hidup dalam kemiskinan. Aku dan Ibu seakan merupakan bangkai yang harus mereka hindari dan di waspadai. Jujur aku lelah, Mbak Nana. Dari dulu aku ingin mengakhiri hidup aku, tapi aku mencoba untuk bertahan demi Ibuku. Hanya dia, orang satu-satunya dalam hidup aku yang sangat berarti. Aku rela menahan segala rasa sakit, asal aku tetap bisa bersama dengan Ibu dan memastikan Ibuku baik-baik saja. Tapi kini, aku tidak punya harapan lagi. Aku lelah karena Tuhan terus saja mengujiku. Aku capek, seluruh tubuh aku sakit, aku ingin tidur untuk selamanya." ucap Fatimah mengakhiri ceritanya.
Mbak Nana menekan tombol karena rekaman sudah berakhir, lalu ia memeluk Fatimah dengan erat. Fatimah masih muda, namun ia sudah mengalami hal yang begitu menyedihkan dalam hidupnya.
"Boleh Mbak Nana tau rumah kamu di mana? Biar Mbak yang akan datang ke sana dan mencari tau tentang Ibu kamu?" tanya Mbak Nana. Mendengar hal itu, Fatimah tersenyum.
Fatimah langsung memberitahu kampung di mana Ibunya berada. Mbak Nana pun langsung mencatatnya di Hpnya.
__ADS_1
"Baiklah, besok Mbak Nana akan ke sana, tapi kamu harus janji sama Mbak. Kamu harus sembuh."
Dan Fatimah pun mengangguk dengan sangat antusias sekali. Melihat hal itu, Mbak Nana pun sekali lagi memeluknya. Fatimah adalah anak yang baik, dia sangat peduli terhadap Ibunya, dia anak yang cukup berbakti. Sayangnya, Tuhan terus menguji kesabarannya. Entap apa hikmah di balik semua ini. Mbak Nana cuma bisa berharap jika suatu saat nanti Fatimah akan bahagia dan tak lagi merasakan penderitaan.