
Rayyan yang emang belum tidur sejak kemaren malam, membuat dirinya sangat mengantuk sekali malam ini. Jadi ia memilih untuk menjauhkan hpnya dari dirinya, agar bisa tidur nyenyak malam ini. Namun tiba-tiba ia mendengar suara gedoran pintunya. Rayyan melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit. "Siapa yang berani mengganggu tidurku?" ucapnya kesal sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Rayyan melihat seseorang datang dengan nafas yang ngos ngosan. "Ada apa?" tanyanya dengan nada dingin.
"Tuan, Mension kebakaran." jawabnya dengan nada takut.
"APA! BAGAIMANA BISA?!" tanpa menunggu jawaban, ia segera mengambil kunci mobil dan segera pergi ke mension. tak ada lagi rasa kantuk, yang ia fikirkan saat ini, bagaimana keadaan Fatimah saat ini.
Rayyan menyetir bak kesetanan, apalagi dalam keadaan yang sepi membuat layanan menyetir dengan kecepatan sangat tinggi sekali.
Sepanjang Jalan Raya terus berdoa sama Tuhan agar bisa menyelamatkan Fatimah. Bahkan Rayyan juga sampai menitikkan air mata karena benar-benar merasa takut jika Fatimah kenapa-napa.
Sungguh Rayan menyesal karena sudah memilih untuk tinggal di apartemen. Seharusnya ia tetap tinggal di mension dan menjaga serta melindungi Fatimah.
Sedangkan Rio setelah dia memastikan Alfian dan Fatimah sudah naik ke pesawat, Rio langsung pergi ke apartemennya sendiri.
Tidak boleh ada yang mengetahui jika Rio keluar malam ini. Rio sangat berhati-hati sekali dalam bertindak karena bisa jadi seseorang tengah mengintainya.
Rio tahu bahwa seseorang sudah menghubungi Rayyan karena nomor hp-nya sendiri dari tadi juga tidak berhenti berbunyi namun Rio masih belum bisa mengangkatnya sebelum ia tiba di apartemen.
Setelah Rio tiba di apartemen, Rio segera mengganti bajunya dan istirahat sejenak untuk melepas rasa lelah.
Barulah setelah itu Rio mengangkat telepon yang terus berbunyi.
"Ada apa?" dengan suara seraknya, Rio menyapa si penelepon.
__ADS_1
"Kamu di mana? kenapa dari tadi aku nelpon nggak diangkat-angkat?" tanyanya dengan nada kesal.
"Aku tidur di apart, emang ada apa?" tanya Rio pura-pura bodoh.
"Mension Tuan Rey kebakaran, cepetan datang," teriaknya.
"APA!" setelah itu, Rio pun memutuskan telfonnya secara sepihak.
Rio hanya bisa menghela nafas, baru kali ini dalam hidupnya, dia berdrama bak sinetron..
Sebelum berangkat, Rio masih sempat-sempatnya untuk minum terlebih dahulu, setelah itu dia pun berangkat menuju mention Rayyan.
Rio mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak terlalu pelan juga tidak terlalu buru-buru.
Di sana Rio melihat hampir setengah mansion itu terbakar api. Rio tidak menyangka bahwa api kecil bisa menjadi sebesar itu.
Mungkin karena di dalamnya banyak benda-benda yang mudah terbakar, sehingga mampu meluluh lantakkan mansion milik Rayyan.
Rio menghampiri Rayyan yang dari tadi terus berteriak memanggil Fatimah.
"Fatimah, Ya Allah Sayang. Kenapa kamu bisa terjebak disana. Aku mohon, selamatkan istriku," pinta Rayyan sambil terus meronta-ronta agar di izinkan masuk ke dalam rumahnya.
Namun semua orang menahannya sebisa mungkin, ada yang memegang tangannya, badannya, kakinya. Agar Rayyan tidak nekat masuk ke mension yang sudah separuh lebih terbakar.
Lagian mereka berfikir, Fatimah pasti sudah hangus, mengingat kobaran apinya yang begitu besar. Mustahil ada yang bisa selamat dari panasnya api.
__ADS_1
"Tuan," Rio memegang pindah Rayyan.
"Rio, huuuu istriku, dia masih di dalam." Rayyan menangis layaknya anak kecil.
Rio dan Pak Han tak tega sebenarnya, begitupun dengan Sofi dan yang lainnya, tapi mungkin ini pelajaran untuk Rayyan agar ke depannya berhati-hati lagi, tak bersikap seenaknya.
"Rio, kenapa seperti ini? Apakah ini karma buatku? Kenapa secepat ini, Fatimah meninggalkan aku, aku sudah mulai berusaha berdamai dengan masa lalu aku, aku sudah konsultasi ke psikolog agar aku bisa berdamai dengan masa lalu aku, tapi kenapa Fatimah mau menunggu aku. Kenapa Fatimah tidak mau menunggu aku sampai bener-bener sembuh. Aku jauh darinya, karena aku tak ingin menyakitinya, aku tak ingin memukulnya lagi. Aku ingin menjauh darinya agar dia aman tanpa aku. Tapi kenapa malah seperti ini? Kenapa Tuhan tidak mau memberikan aku kesempatan untuk menebus dosa dosa aku?" Rayyan terus meraung, Rio dan Pak Han cukup tertegun mendengar isi hati Rayyan.
Mereka tak menyangka, jika Rayyan ternyata mau berubah. Tapi nasi sudah jadi bubur, kini Fatimah sudah pergi, mungkin tidak selamanya, tapi tidak ada yang tau, kapan Fatimah siap untuk kembali dan bertemu dengan Rayyan lagi. Karena Fatimah masih trauma dengan apa yang telah dilakukan oleh Rayyan selama ini.
Biarlah Fatimah tenang dulu dan biarkan Fatimah menikmati kehamilannya tanpa harus berfikir keras yang akan berpengaruh pada janin yang tengah ia kandung.
"Rio, tolong selamatkan istriku. Aku akan bersujud di Kakinya, aku akan meminta maaf padanya. Suruh dia pukul aku, bunuh aku sekalipun, aku tak apa. Yang penting Fatimah mau memaafkan aku. Huhuhhhuhhu " Rayyan terus menangis layaknya anak kecil yang kehilangan orang tuanya.
"Sayang, maafin aku. Ya Allah, tolong selamatkan anak dan istriku," pintanya sambil menatap langit, Lalu Rayyan menatap ke arah kobaran api yang masih terus menyala.
"Sabar, Ray," ucap Rio, kini ia menjadi sahabat, bukan sebagai atasan dan bawahan.
"Sabar kamu bilang. Anak dan Istriku ada di dalam, kamu suruh sabar. Kamu fikir, aku baik-baik aja sedangkan sampai sekarang apinya masih terus menyala. Fatimah pasti kepanasan, apakah dia masih bisa bertahan menahan api yang terus berkobar," ujarnya dengan deraian air mata. Suara yang tadi meninggi seakan tercekat di tenggorokan.
"Sayang, aku sayang kamu. Aku cinta kamu, Fatimah. Maafin aku yang sudah ingkar janji, maafin aku yang sudah bikin kamu terluka. Maafin aku yang tidak bisa mengontrol emosiku, maafin aku sayang. Maafin aku yang sudah tega menganiaya kamu, padahal kamu tengah mengandung anak kita. Maaf, maafkan aku karena aku gagal menjadi imam, suami dan ayah seperti yang kamu inginkan. Aku gagal untuk semua itu." Rayyan terus menangis, ia ingin menyelamatkan Fatimah, tapi orang-orang terus menahannya membuat dirinya kesal setengah mati.
Rio hanya diam mendengarkan ucapan Rayyan, Rio tak menangis. Karena saat ini Fatimah sudah baik-baik saja dan tengah perjalanan menuju negara Y bersama Alfin. Sengaja Alfin ke negara Y, takutnya jika negara X, Rayyan bisa melacaknya suatu saat nanti.
Sedangkan di dalam hanya ada jenazah yang emang sudah mati. Jadi apa yang perlu ia tangisi, masalah mension, Rayyan bahkan bisa membangun mension yang jauh lebih megah dari itu.
__ADS_1