
Semakin hari, kewarasan Rayyan semakin menjadi-jadi, Rayyan kadang menangis dan tertawa sendiri, bahkan tak jarang ia bicara sendiri, seolah olah di hadapannya kini ada Fatimah, padahal tak ada siapapun selain Rayyan di ruangan itu. Rio terus memantau keadaan Rayyan lewat cctv yang di pasang di ruangan Rayyan, bahkan di sana juga ada perekam suara sehingga Rio dan Ratih bisa mendengar apa yang tengah Rayyan ucapkan.
"Sayang, kamu kenapa menangis?" tanyanya sambil memiringkan wajahnya, ia tak bisa melakukan apapun, karena tangan dan kakinya masih terikat.
"Maafin aku ya, kamu pasti sakit kan karena aku mukul kamu terus, jangan nangis lagi ya, aku nyesel udah nyakitin kamu, maaf ya sayang," ujarnya dengan air mata yang terus menerus keluar.,
"Hihi kamu pasti bahagia ya di sana, kamu pasti bahagia kan jauh dari aku," ucapnya lagi dengan senyuman yang tampak menyedihkan.
"Aku boleh gak, nyusul kamu di sana, aku ingin mati aja, aku gak mau di sini, hatiku sakit, dadaku sesak, kepalaku pusing karena ingat terus sama tangisan kamu, sama jeritan kamu, sama kesakitan kamu. Aku menderita, dadaku sesak, boleh gak aku ikut kamu aja pergi, aku gak mau kayak gini, rasanya sakit sekali," kali ini Rayyan menundukkan kepalanya, ia bahkan gak bisa mengusap lelehan air matanya.
"Aku capek, aku gak pernah bahagia, aku juga ingin seperti yang lain, tapi aku gak bisa menghilangkan monster yang ada di tubuh aku, fikiran aku seakan mengusai aku, sehingga aku terus ingin melakukan kejahatan, maaf ya, aku begitu kejam sama kamu," ucapnya lagi.
Rayyan terus bicara sendiri sepanjang hari, Rio hanya bisa menghela nafas, setelahnya ia mematikan hpnya karena ia harus pergi ke kantor. Hari ini ada meeting penting yang harus ia hadiri.
Sebagai gantinya, setengah jam lagi, Dokter RAtih yang akan datang untuk menjaga Rayyan dan mengurus Rayyan, tapi tidak dalam hal mengganti baju atau membersihkan kotoran Rayyan, karena itu tugas Rio, bukan karena jijik atau apa, tapi Rio yang tak mengizinkan, bagaimanapun Dokter RAtih dan Rayyan perempuan, jadi sebisa mungkin mereka harus jaga batasan batasan. Padahal dalam ilmu kedokteran, Dokter RAtih sudah biasa melihat bentuh tubuh lawan jenisnya, tapi karena tak ingin berdebat dengan Rio, jadi Dokter Ratih memilih untuk mengalah saja.
Sebenarnya bisa aja Rio menyuruh orang lain, tapi ia tak ingin semakin banyak yang tau bagaimana keadaan Rayyan saat ini, karena itu bisa membahayakan posisi Rayyan. Lebih baik, semakin sedikit yang tau, maka Rio bisa mengendalikan semuanya dengan aman.
Rio berharap jika Rayyan bisa segera sembuh dan tidak terus menerus terpuruk seperti ini.
Setelah Rio pergi, tak ada lagi yang mengawasi Rayyan, Tanpa sepengetahuan Rio, Rayyan terus beruaha untuk melepas tali yang mengikatnya, "Sayang, tunggu aku ya. Aku akan segera menyusul kamu, aku gak akan biarkan kamu dan anak kita meninggalkan aku sendiri, kita harus terus bersama-sama," ucapnya sambil berusaha melepaskan ikatannya. Agak susah emang, tapi dengan ketekatan yang bulat, akhirnya tali itu terlepas walau pergelangan tangan dan kakinya harus terluka, tak apa, yang penting Rayyan bisa menyusul mereka.
Rayyan melihat pintu yang tertutup rapat, dan ada jendela yang agak tinggi, Rayyan tau jendela itu pun juga sudah di kasih kayu dan besi dari luar, agar tidak mudah di buka, tapi bukan Rayyan namanya jika tidak bisa membukanya. Ingatlah, ibarat kata hewan, Rayyan adalah singa yang buas, tak ada yang bisa menandingi kepintarannya itu dalam memecahkan masalah.
__ADS_1
Hanya hitungan menit, Rayyan bisa melepaskan jendela itu, sayangnya, saat Rayyan mau melompat, tiba-tiba pintu terbuka lebar.
"Ray, Ya Allah, kamu mau ngapain?" tanya Dokter Ratih histeris melihat Rayyan yang sudah mau melompat.
"Aku mau menyusul anak dan istriku, Tih," ucapnya dengan suara lemah, tapi masih di dengar oleh Ratih.
"Heh, kamu gak akan pernah bisa ketemu sama Fatimah dan anaknya. Kamu tau kenapa? Karena kamu itu pendosa, apalagi kamu mati Bu Nuh diri, udah pasti langsung di panggang di neraka, beda sama Fatimah, dia mati langsung masuk surga, setidaknya kamu tobat dulu jika pengen kumpul bareng Fatimah di surga. Kamu itu bodoh atau apa sih, masak kayak gitu aja kagak faham!" ucapnya greget sendiri dengan pemikiran Rayyan yang dangkal
Rayyan tak mempedulikan ocehan Dokter Ratih, ia sudah bertekad kuat untuk menyusul istri dan anaknya yang bahkan dia gak tau jenis kelam innya apa.
Saat melihat Rayyan masih punya tekat yang begitu kuat, Dokter Ratih mulai frustasi.
"Gimana kalau ternyata Fatimah masih hidup?" tanya Dokter Ratih dengan bergetar. Sungguh, ia bahkan lebih takut jika Rayyan melompat dari pada Rio yang akan memarahi dirinya karena membongkar masalah ini.
"Apa maksud kamu?" tanyanya.
"Bagaimana jika Fatimah masih hidup?" ulangnya.
"Fatimah? Hidup?" gumam Rayyan.
"Iya, bagaimana jika dia masih hidup? Kamu akan mati masuk neraka, karena dosa kamu yang bejibun, sedangkan Fatimah dia akan hidup bahagia dengan laki-laki baru yang akan mencintai dia. Bahkan jika nanti Fatimah melahirkan, anak kamu akan memanggil orang lain dengan sebutan Papa. Sedangkan kamu, kamu hanya bisa menyesali semuanya, karena kesempatan untuk hidup lagi pun gak ada," ucap Ratih dengan tertekan karena harus membongkar semuanya.
Rayyan mulai mendengarkan ucapan Ratih, tapi ..
__ADS_1
"KAMU BOHONG! AKU LIHAT SENDIRI MENSIONKU TERBAKAR, AKU JUGA LIHAT TUBUH FATIMAH YANG HANGUS!" Teriaknya dengan nada frustasi.
"TAPI DIA BUKAN FATIMAH!" teriak Dokter Ratih tak kalah kencangnya z sungguh dia tak akan membiarkan Rayyan meloncat, karena sudah bisa dipastikan, Rayyan tak akan selamat mengingat apartemen ini ada di lantai 69.
"APA!" Rayyan kaget.
"Dia bukan Fatimah!"
"Kamu bohong, kan?"
"Buat apa aku bohong!"
"Tapi .... "
"Lebih baik kamu turun, Ray. Bahaya di sana, aku mohon," pintanya.
"ENGGAK, AKU MAU MENYUSUL FATIMAH!" teriaknya.
"Ray, please. Tolong jangan seperti ini, kamu seharusnya berubah menjadi lebih baik, bukan malah makin menjadi-jadi. Aku janji, jika kamu mau memperbaiki sifat kamu yang kejam itu, berjanji gak akan menyiksa atau memukul Fatimah lagi atau menyakiti siapapun, aku yang akan bantu kamu untuk ketemu Fatimah! Aku janji!"
Rayyan hanya diam mendengarkan, di satu sisi, jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih percaya jika Fatimah masih hidup. Tapi kenyataan menamparnya, karena ia melihat secara langsung tubuh hangus yang berada di kamar Fatimah.
"Ray, sebentar lagi kamu akan jadi seorang Ayah, tolong jangan bersikap egois seperti ini. Jika kamu emang mencintai Fatimah, berubahlah jadi lebih baik, kamu harus bisa mengimbangi Fatimah. Aku yakin, jika kamu mau berubah menjadi lebih baik, Fatimah akan luluh lagi sama kamu, apalagi kalian masih sah jadi suami istri, terlebih ada anak di antara kalian berdua," jelasnya.
__ADS_1
Rayyan diam, ia masih mencerna ucapan Dokter Ratih, haruskah ia mempercayai sahabatnya itu? Atau ....