Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Akhirnya Fatimah Pergi


__ADS_3

Dua hari berlalu, malam ini cukup tenang, Rio dan Alfian sudah memastikan semuanya aman. Alfian dan Rio juga sudah membawa seseoang yang mirip dengan Fatimah dan orang itu sudah meningal beberapa hari yang lalu. Tidak mudah membawa jenazah itu, karena Alfian harus menebusnya dengan uang yang cukup mahal. Tapi tak apa, semahal apappun, itu tidak akan membuat Alfian bangkrut.


Alfian dan Rio menuju hutan, seperti yang di jelaskan oleh Pak Han. "Dimana sih tempatnya?" gerutu Alfia kesal. Malam-malam gini harus gendong jenazah dan melewati hutang, bukan takut hantu atau apa. Cuma ya gimana ya, gak lucu rasanya seorang Alfian yang di takuti dan di segani, tapi malah melakukan hal bodoh seperti ini.


Rio yang mendengarnya hanya terkekeh. Padahal jenazahnya juga Rio ikut menggotongnya tapi ya sudahlah. Dari pada berdebat mending Rio cari pintu yang tertuju ke mension.


Rio menginjak injak tanah sekitar pohon dekat danau.


"Taruh dulu deh nih orang, padahal tubuhnya kurus, cantik. Tapi kenapa berat banget ya," ujar Alfian sambil menaruh jenazah itu di dekatnya.


"Kebanyakan dosa kali," celetuk Rio asal.


Alfian hanya terkekeh mendengarnya.


"Sudahlah, ayo bantu aku cari pintunya. Ini di mana sih pintunya, kenapa gak ada tanda tandanya," ucap Rio yang mulai kesal.


Mereka terus mencari hingga tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan seseorag yang muncul dari belakangnya.


"Mas Rio kenapa lama banget?" tanya Fatimah kesal karena dia sudah dua jam menunggu.


"Fa ... Fatimah, kamu muncul dari mana?" tanya Rio kaget.


"Dari sini." Fatimah menunjuk ke arah semak-semak belukar, ternyata di sana ada pintu tersembunyi yang atasnya emang di sengaja di taruh rerumputan dan semak-semak agar tidak ada orang yang menyadarinya.


"Astagfirulahh, pantesan gak ketemu, ternyata di sana." ujar Rio sambil melihat Fatimah yang terus menatap ke arah Alfian.

__ADS_1


"Ini sahabat aku dan suamimu, namanya Alfian." Rio memperkenalkan mereka, karena sebelumnya  mereka emang belum pernah ketemu.


"Fatimah, terima kasih ya Mas, sudah bantu aku," tuturnya sambil sedikit menganggukkan kepala, sebagai tanda hormat.


"Sama-sama." Alfian cukup terpanah dengan kecantikan Fatimah apalagi suaranya yang halus dan merdu. Enak di dengar. Rio yang melihat Alfian bengong melihat Fatimah pun, menyikut tangan Alfian. "Ingat, dia istri sahabat kita," bisiknya.


"Iya-iya." ucapnya dengan kesal. "Aku gak akan merebut FAtimah dari Rayyan, aku hanya mengagumi kecantikannya, apa itu salah?" gumamnya dalam hati.


"Ayo, masuk. Waktunya tidak lama," tutur Fatimah karena dua duanya malah diam.


"Iya." Alfian dan Rio segera menggotong jenazah itu dengan sangat hati hati sekali. Mereka melewati lorong yang cukup panjang.


"Mas Rio sudah memanipulasi kamera cctvnya belum, aku takut soalnya," ujarnya.


Mereka terus berjalan hingga menemukan pintu rahasia lagi. Kalian tunggu di sini ya. Aku akan segera melakukan langkah berikutnya.


Fatimah segera memberi aba-aba pada Pak Han yang berdiri di pojok. Setelah mendapatkan aba-aba. Pak Han segera siap siap.


Fatimah kembali ke kamar sambil membawa segelas air putih. Dia meminumnya sedikit sambil menaruh di sudut meja. Dan saat jalan, tangannya seakan tak sengaja menyenggol gelas itu yang akhirnya jatuh ke  stop kontak listrik. Sebenarnya stop kontak itu, Fatimah sendiri yang meminta Pak Han membelinya beberapa hari yang lalu, dengan alasan, agar dia bisa mengeces sambil tiduran di lantai sambil tiduran di kasur dan yang lainnya.


Di kamar itu sudah ada tempat charger hp, tapi Fatimah lebih suka yang memakai kabel panjang agar bisa ngeces di mana-mana.


Dan benar saja, tak lama kemudian, mulai muncul bercikan api. Fatimah masih menunggu dan pura pura panik. Ia teriak teriak tapi percuma karena kamar itu kedap suara.


Fatimah menunggu agar api itu  menyala cukup besar, dan setelah hampir seluruhnya, dada Fatimah agak sesak, ia berharap Rio dan Alfian datang tepat waktu, atau dia akan benar benar mati terlalap api.

__ADS_1


 Setelah api agak membesar dan orang-orang mulai menyadarinya, Rio dan Alfian mulai bertindak, ruangan itu sudah penuh dengan asap dan api yang mulai menjalar kemana-mana. CCTV pun sudah mati karena efek listrik yang ada di kamar itu sudah terkena percikan api.


Alfian segera menggendong Fatimah untuk segera keluar dari sana memakai jalan rahasia tadi, sedangkan Rio bagian menaruh jenasah itu di dekat api, cincin Fatimah juga di taruh di jenasah tersebut. Dan setelahnya, Rio segera pergi dari sana menyusul Alfian dan Fatimah.


Orang-orang yang mulai menyadarinya segera mendobrak pintu kamar Fatimah, tapi karena memang itu pintu yang cukup bagus dengan bahas berkualitas terbaik dan kunci yang bukan sembarangan kunci, cukup sulit sedangkan api mulai menyebar kemana mana.


Pak Han berusaha akting menyelamatkan mereka semua dan membantu pria yang entah dari mana datangnya. Banyak orang yang berusaha mendobroak pintu itu, ada yang berusaha menerjang pintu, ada yang lewat samping, naik ke balkon, namun pintu dan jendela kamar tertutup rapat sehingga mereka sulit menyelamatkan seseorang yang ada di kamar itu. Terlebih api terus menyebar kemana mana.


Sofi dan yang lainnya segera berlarian menuju luar mension. Pak Han masih terus berusaha membantu mereka sebisa mungkin, walau sebenarnya Pak Han tau, Fatimah sudah pergi dari sana dan yang ada di dalam itu hanyalan jenazah seorang wania yang kebetulan mirip Fatimah.


Dan tiba-tiba ..


DHUARRRRRRRRRRRRR


Suara dentuman semakin keras, semua orang tidak lagi berani mendekati kamar itu, dan memilih segera menyelamatkan diri masing masing.


Api itu mulai merambat kemana-mana, tak ada lagi yang berani mendekatinya. Seseorang terlihat sibuk menelfon, mungkin dia tengah menelfon DAMKAR atau menelfon Rayyan. Entahlah.


Namun masih ada sebagaian dari mereka yang masih mencoba untuk memadamkan api dengan menggunakan alat yang memang di sediakan khusus untuk memadamkan api, APAB. Tapi percuma, api mulai melebar kemana mana dan tidak akan mudah untuk memadamkannya.


Lima belas menit kemudian,mobil pemadam kebakaran atau fire truck datang. Ada lima mobil yang datang dan tanpa membuang waktu, mereka pun segera mengerjakan pekerjaan mereka.


Orang-orang yang memang bekerja untuk Rayyan pun tak tinggal diam,  mereka juga ikut membantu para damkar untuk bisa memadamkan api. Sungguh di dalam hati mereka semua, merasa takut akan murka Rayyan karena mereka tidak bisa menyelamatkan nyawa Fatimah yang masih ada di kamarnya.


Mereka yakin, Fatimah sudah meninggal dan mungkin tubuhnya sudah terbakar api. Karena dia tidak mungkin selamat dengan api yang membesar seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2