
Setelah seminggu di rawat di rumah sakit, Bibi Aisyah dan Fatimah sudah sehat kembali, dan kini mereka sudah di perbolehkan pulang, bahkan Pak Ihsan juga sudah menunggu mereka di depan rumah sakit, tepat di depan pintu utama rumah sakit.
Dokter Ratih dan Mbak Nana hanya bisa mengantarkan mereka sampai di mobil karena Tuan Ray melarang orang asing untuk ikut, bahkan Dokter Ratih sekalipun, walaupun dia adalah teman dekatnya.
Sepanjang jalan, Fatimah hanya diam dan melihat ke luar jendela.
"Kenapa?" tanya Bibi Aisyah.
"Gak papa, Bi," jawab Fatimah tersenyum.
"Apakah kamu takut pulang ke rumah?" tanya Bibi Aisyah dan Fatimah hanya tersenyum kecut.
"Kamu yang sabar ya, kita harus terus mendoakan Tuan Ray, agar hatinya tidak lagi keras, dan bisa bersikap lunak pada orang lain," ucap Bibi Aisyah dan Fatimah hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku emang takut pulang ke mension itu, Bi. Tapi aku jauh lebih takut, karena setelah ini, Tuan Ray pasti akan menikahiku. Dan pada akhirnya aku akan selamanya terikat pernikahan dengannya. Aku akan menjadi istrinya, istri dari pria yang bahkan tidak aku cintai sama sekali. Pria yang paling ingin aku hindari dari dunia ini. Dia sama seperti Ayah tiriku, yang hanya bisa menyiksaku," gumam Fatimah dalam hati.
__ADS_1
Melihat Fatimah hanya diam, Bibi Aisyah pun juga ikut terdiam, namun ia melihat Fatimah yang hanya bengong sambil menatap ke arah luar jendela.
Tak lama kemudian saat sampai di depan mension, semua ART menyambut kedatangan Fatimah dan Bibi Aisyah. Terutama Fatimah tentunya. Mereka memberikan selamat karena akhirnya Fatimah bisa pulang ke rumah ini lagi dalam keadaan sehat.
Mereka senang karena kini mereka bisa mengobrol dan bercanda seperti dulu lagi.
Saat mereka masih dalam suasana senang, Pak Han memerintahkan Bibi Aisyah membawa Fatimah ke kamarnya dan memerintahkan semua ART untuk kembali bekerja. Mendapatkan perintah itu, semua ART itu pun langsung pergi ke belakang untuk meneruskan pekerjaan mereka. Sedangkan Bibi Aisyah mengantarkan Fatimah ke kamarnya.
Lagi, setiap memasuki kamar itu, jantung Fatimah berdecak kencang, ada rasa takut, marah, kecewa, kesal, sedih dan semua itu bercampur aduk. Fatimah ingin pindah namun ia tak punya pilihan selain harus menempati kamar yang mempunyai kenangan buruk.
Bibi Aisyah ingin menemani Fatimah dan tidur bersamanya, tapi ia tak bisa melakukan itu karena Tuan Ray pasti akan marah besar padanya.
Setelah hampir sejam Bibi Aisyah menemani Fatimah, barulah Bibi Aisyah pergi dari sana agar Fatimah bisa istirahat.
Namun sayangnya, setelah Bibi Aisyah pergi, Fatimah tak bisa istirahat, ia hanya bisa diam ketakutan di kamar itu, takut jika sewaktu-waktu Tuan Ray akan masuk dan memperk*sa dirinya lagi.
__ADS_1
Bahkan sampai malam, Fatimah masih dalam posisi sama, ia duduk di sofa itu sambil menatap takut ke arah pintu. Saat ada yang mengetuk pintu, Fatimah langsung merasa deg-degan namun setelah mendengar suara Bibi Aisyah, barulah Fatimah sedikit tenang dan meminta Bibi Aisyah masuk karena kamar itu gak di kunci. Walaupun di kunci sekalipun juga percuma karena nyatanya Tuan Ray punya banyak kunci cadangan.
Bibi Aisyah masuk membawa nampan.
"Ayo makan dulu, terus minum obat, biar lukanya cepat sembuh," ujar Bibi Aisyah dan menaruh nampan yang berisi makanan, minuman dan obat.
"Bibi ngapain repot-repot, Bibi kan juga baru keluar dari rumah sakit. Seharusnya Bibi cukup istirahat aja, kalau aku lapar, aku pasti akan keluar," ucap Fatimah tak enak hati.
"Enggak papa, lagian Bibi sudah sembuh dan sudah sehat. Bibi senang bisa membawakan makanan kamu ke sini. Ayo makan," tuturnya. Sebenarnya Fatimah tidak selera, namun karena Bibi Aisyah sudah repot-repot mau membawakannya dan juga tidak mau mengecewakannya, akhirnya Fatimah pun mengambil makanannya dan mulai menyantapnya.
Rasanya sulit untuk di telan, namun Fatimah terus memaksanya dengan mendorongnya pakai air agar makanan itu masuk ke dalam tubuhnya.
"Apakah Tuan Ray ada di rumah?" tanya Fatimah sambil makan.
"Enggak ada, Tuan Ray jam segini masih ada di kantor bersama Asisten Rio."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Fatimah sedikit lega. Selesai makan dan minum obat. Bibi Aisyah menyuruh Fatimah istirahat, sedangkan Bibi Aisyah, ia keluar dari kamar itu sambil membawa nampan yang berisi gelas dan piring yang kotor. Ia senang karena Fatimah menghabiskan makanan dan minuman yang ia bawa.