
Jika Rayyan kini dalam keadaan terguncang jiwanya, berbeda dengan Fatimah, ia bahagia lepas dari Rayyan, kini ia tak lagi merasakan penderitaan, baik secara fisik maupun batin. Ia benar-benar menikmati kesendiriannya, setiap hari, ia habiskan waktunya untuk ibadah, memperbanyak sholat sunnah, mengaji, wiridan, mengurus tanaman, sayuran, memasak, bikin kue, olah raga, dengan keliling rumah, atau pergi ke pasar dengan jalan kaki, karena memang pasarnya gak terlalu jauh. Satu bulan sudah, Fatimah berada di sini, dan selama itu pula, ia benar-benar merasakan kedamaian.
Apakah Fatimah melupakan Rayyan? Tentu, tidak. Tapi setiap kali ia ingat Rayyan, ia akan selalu ingat dengan penderitaan yang ia alami, untuk itu Fatimah memilih untuk mengalihkan fikirannya dengan mencari kesibukan yang lain.
Alfian sendiri, dia terpaksa balik ke negara X, ia tidak bisa menemani Fatimah di negara Y, karena dia banyak pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan. Tapi sebelum pergi, ia sudah memastikan jika Fatimah di sana baik-baik aja, dan semua keperluan Fatimah, sudah dia penuhi. Lagian Alfian juga merasa sungkan dan tak enak jika terus berduaan dengan istri dari sahabatnya, karena ia takut, jika dirinya bisa aja jatuh hati pada Fatimah, mengingat kepribadian Fatimah yang begitu ramah dan pandangannya begitu teduh.,
Untuk itu, Alfian memilih untuk pergi, namun ia sudah menyewa beberapa orang untuk memantau keadaan Fatimah dari jarak jauh, untuk jaga-jaga, takut jika Fatimah di sana kenapa-napa.
Di saat Fatimah benar-benar sangat menikmati hidupnya yang bebas, Rayyan masih aja terpuruk karena mengira jika Fatimah dan anak yang ada dalam kandungannya sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Tak jarang, Rayyan sering menyakiti dirinya sendiri, ia terus menyiksa tubuhnya sendiri, agar ia bisa merasakan penderitaan yang dulu pernah Fatimah rasakan karena ulahnya.
Bahkan tak jarang, Rayyan ingin mengakhiri hidupnya agar ia bisa menyusul Fatimah dan anaknya. Padahal Fatimah dan anak yang ada dalam kandungannya belum meninggal dan mereka masih baik-baik aja, bahkan sangat sehat.
Dalam sebulan ini, Rayyan bahkan masuk rumah sakit beberapa kali, karena Rayyan terus menyiksa dirinya, gak mau makan dan terus ingin mengakhiri hidupnya. Rio sendiri bahkan sampai kewalahan mengurus sahabat sekaligus atasannya itu, sedangkan Pak Han dan semua pelayan yang dulu pernah kerja di mension, sudah resmi berhenti dan kini mereka sudah punya kesibukan masing-masing. Rio juga memberikan banyak bonus untuk mereka semua. Tentu mereka bahagia, karena bonus yang mereka dapatkan setara dengan gaji mereka selama tiga bulan.
"FATIMAAAAAAAAAAHHHHHHHHH," teriak Rayyan dengan nada frustasi, saat ini tangan dan kakinya sengaja di ikat, agar Rayyan tak terus menyakiti dirinya sendiri, lagian seluruh badannya sudah penuh dengan luka, kepalanya bahkan sampai harus di jahit beberapa kali karena Rayyan membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.
Rio dan Dokter Ratih, hanya bisa menghela nafas. Sebenarnya mereka sudah meminta bantuan Mbak Nana untuk menyembuhkan mental Rayyan, tapi masalahnya di dalam diri Rayyan sendiri, ia tak ingin untuk sembuh. Rayyan seperti hilang arah, yang ada dalam fikiran dan hatinya, hanya Fatimah dan Fatimah.
__ADS_1
"Fatimah, jangan pergi hiks hiks. Kamu milikku, kamu gak aku izinkan pergi, JANGAN PERGI FATIMAH! MAAFKAN AKU, MAAFKAN AKU, AKU MOHON, JANGAN SIKSA AKU SEPERTI INI. TOLONG JANGAN PERGI, aku mohon," ucapnya dengan isakan tangis yang mampu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
Rio bahkan ikut menitikkan air mata, ia tak menyangka, kehidupan Rayyan akan seperti ini, dulu saat Felllihsa meninggalkannya, Rayyan tak sampai seperti ini, tapi berbeda saat Fatimah yang pergi, Rayyan seakan kehilangan akal sehatnya.
"RIO BUKA TALINYA, JANGAN KURUNG AKU SEPERTI INI! AKU MAU NYUSUL ISTRIKU, AKU MOHON, TOLONG JANGAN PISAHKAN AKU SAMA ISTRIKU, AKU MOHON RIO, BUKA TALINYA, JANGAN IKAT AKU SEPERTI INI!" teriaknya lagi dengan suara serak karena setiap hari, dia terus berteriak, mungkin nanti bisa jadi Rayyan akan kehilangan suaranya, jika terus seperti itu.
"Maafkan aku, Ray. Maaf karena aku melakukan semua ini, aku gak ingin kamu menyakiti diri kamu lagi, aku gak ingin kamu menyiksa diri kamu sendiri, aku gak ingin kamu terluka lagi, aku gak ingin kamu meninggalkan dunia ini, bagaimanapun kamu harus tetap hidup, kamu harus bisa bertahan sampai nanti Fatimah mau memaafkan kamu dan dia mau kembali untuk menampakkan dirinya di hadapan kamu. Maaf karena aku gak bisa jujur, ini semua demi kebaikan kalian berdua, jika aku memberitahu yang sesungguhnya, aku takut, jika kamu akan mencari tau keberadaan Fatimah dan menyusulnya, aku tak ingin kamu terus menyakiti Fatimah, walaupun aku tau, kamu sudah berubah dan kamu menyesali perbuatan kamu, tapi aku harus menjaga mental Fatimah, biarkan dia bahagia setelah dia berbulan bulan lamanya tinggal seperti di neraka. Maafkan aku." Rio ikut menitikkan air mata, Dokter Ratih yang melihatnya pun ikut menangis, ia mendengar suara Rio walaupun sangat pelan, jika seperti ini, Dokter Ratih merasa kasihan pada Rayyan, tapi jika ingat kelakuannya yang dulu, Ratih bahkan berharap jika Rayyan mati aja, dari pada membuat Fatimah menderita.
Rio dan Ratih terus menatap ke arah Rayyan, sudah dua hari ini Rayyan tak makan sama sekali, tapi dia emang jarang makan, kecuali dipaksa, itupun kadang di muntahkan kembali oleh Rayyan, tubuhnya kini sudah kurus tak terawat, mungkin karena selain jarang makan, jarang minum, Rayyan juga sakit secara mental, belum lagi luka fisik di sekujur tubuhnya membuat berat tubuhnya turun drastis.
__ADS_1