
Tak terasa kehamilan Fatimah sudah jalan empat bulan. Sekarang Fatimah sudah mulai bisa makan nasi dan yang lainnya. Ia tak lagi mual terlalu sering, bahkan hanya sesekali aja jika ada aroma yang terlalu menyengat seperti buah durian atau parfum yang aromanya terlalu pekat.
Sedangkan Rayyan, akhir-akhir ini malah terlihat seperti orang galau, wajahnya sangat kusut dan sering mengeluh sakit kepala. Fatimah sudah menyuruh Rayyan untuk memeriksanya namun Rayyan menolak dengan alasan, dia tidak butuh seorang dokter.
Rayyan juga mulai bersikap dingin dan datar, bahkan sudah dua hari ini Rayyan memilih untuk tidur di kamarnya sendiri.
Fatimah tentu merasa sedih, tapi dirinya gak bisa berbuat apa-apa, selain hanya bisa diam dan pasrah.
Hampir setiap malam, Fatimah jarang tidur, ia lebih banyak menghabisi waktunya untuk berdoa agar suaminya tak lagi menjadi orang yang jahat dan kejam. Ia lebih suka Rayyan yang hilang ingatan, sikapnya sangat baik dan lembut serta penuh perhatian. Berbeda dengan Rayyan yang dulu, yang berwajah datar, dingin, kejam dan tidak manusia. Sifatnya seperti binatang yang tak mengenal belas kasihan terhadap orang lain.
Hari ini, Fatimah mengetuk pintu kamar Rayyan untuk mengajak suaminya sarapan pagi, namun saat pintunya terbuka. Rayyan menatap Fatimah dengan tatapan tajam.
"Ada apa?" tanyanya dingin.
"Mas, ayo kita sarapan. Bibi sudah selesai masak," ajaknya dengan suara pelan.
"Makan duluan." jawabnya dengan dingin.
__ADS_1
"Tapi, Mas ... "
"KAMI DENGER GAK SIH AKU NGOMONG APA. KAMU MAKAN DULUAN! NGERTI, GAK?!!" bentak Rayyan dengan suara melengking hingga membuat tubuh Fatimah tersentak kaget, Fatimah bahkan sampai gemeter karena mendengar suara Rayyan yang sangat melengking di dekat telinganya.
"Ma ... Maaf." Fatimah melangkah mundur dan segera pergi dari sana. Fatimah tak langsung pergi ke ruang makan, melainkan pergi ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.
Tubuhnya masih gemeteran, tatapan Rayyan saat ini adalah tatapan yang mengingatkan Fatimah dengan tatapan Rayyan dulu.
"Ya Tuhan, kenapa harus secepat ini. Apa yang harus aku lakukan. Sekarang aku lagi hamil. Bagaimana jika Mas Rayyan kembali menyiksa aku? Apa yang harus aku lakukan? Aku tak ingin anak ini kenapa-napa," Fatimah berbicara dengan bibir bergetar. Ia bahkan bingung harus berbuat apa.
Saat ini Bibi Aisyah sudah tiada. Tak ada lagi yang menolong dirinya.
Hanya tiga kali berdering, Rio langsung mengangkat telfon darinya.
"Mas," panggil Fatimah dengan suara terisak Isak.
"Fatimah, ada apa?"
__ADS_1
"Mas, aku takut."
"Takut, kenapa Fatimah? Ada apa?" tanya Rio yang mulai panik karena mendengar Isak tangis Fatimah.
"Mas, sepertinya Mas Ray sudah ingat akan masa lalunya. Tadi dia membentak aku dan menatap aku dengan tatapan yang sama seperti dulu. Aku takut."
"Tenang ya Fatimah, aku akan mencari cara agar kamu bisa keluar dari rumah itu."
"Tapi bagaimana caranya? Saat ini aku tengah hamil, aku tak ingin kenapa-napa. Jika Mas Ray kembali menyiksa aku seperti dulu, tidak menutup kemungkinan aku akan kehilangan bayiku. Dulu mungkin aku bisa tahan karena tidak ada yang perlu aku pertahankan. Tapi sekarang, walaupun aku mencintai suamiku, aku tidak bisa bersamanya dengan keadaan dia yang sudah tak lagi hangat seperti kemaren kemarennya. Aku takut."
"Sabar ya, aku pastikan nanti malam atau besok pagi. Kamu sudah keluar dari rumah itu."
"Makasih ya, Mas. Maaf jika aku merepotkan."
"Enggak papa, sekarang kamu jangan dekat-dekat dulu dengan Rayyan, usahakan jaga jarak dan jangan memancing emosinya. Ingat, kamu sekarang lagi hamil. Dan kamu harus bisa melindungi anak kamu. Okey."
"Baik, Mas."
__ADS_1
Setelah itu, Fatimah pun menghapus riwayat panggilan dan keluar dari kamar mandi, seakan tidak terjadi apa-apa. Tadi juga Fatimah bicara dengan nada rendah, semoga aja semuanya aman.
Sungguh, saat ini Fatimah bener-bener merasa sangat ketakutan sekali.