
Malam harinya, Fatimah pergi ke kamar sebelah dimana Rayyan di rawat. Fatimah ke sana menggunakan kursi roda, tetap dengan baju pasien, sama seperti yang dipakai oleh Rayyan.
Fatimah di antar oleh Bibi Aisyah, malam ini Mbak Nana gak bisa datang, karena harus keluar kota. Sedangkan Dokter Ratih pun juga gak bisa datang karena dia dapat shift malam, jadi jadwalnya sangat sibuk. Apalagi ada yang kecelakaan, pasti gak akan bisa datang ke kamar Fatimah.
Jadi saat ini, Fatimah cuma berdua sama Bibi Aisyah.
Tapi sekarang bertiga, sama Rayyan yang belum sadarkan diri.
"Fatimah sudah tidak takut sama Tuan Ray?" tanya Bibi Aisyah.
"Takut, tapi aku juga gak bisa menghindar terus, kan?" tanyanya.
Bibi Aisyah pun menganggukkan kepala.
"Fatimah lebih seneng lihat Tuan Ray sadar apa gak?" tanyanya lagi.
"Enggak tau, Bi. Jujur, saat lihat Tuan Ray seperti ini, aku gak tega. Tapi kalau lihat dia yang seringkali menyiksa aku, ingin rasanya aku memilih Tuan Ray lenyap aja dari muka bumi ini," jawab Fatimah jujur.
"Ya, Bibi pun sama. Saat lihat Tuan Ray terluka, Bibi sedih. Akan tetapi, saat lihat Tuan Ray bikin kamu sakit lagi, disana Bibi berharap Tuan Ray dapat karma dari Tuhan." tutur Bibi Aisyah.
"Andai saat itu, Tuan Ray gak di siksa sama Kakeknya. Andai orang tuanya mau memberikan perhatiannya walaupun sedikit. Andai mereka gak menekan Non Felisha sampai mentalnya terganggu hingga memilih bunuh diri. Mungkin Tuan Ray, tidak akan sampai sekejam ini. Dari kecil, Tuan Ray, tidak tau arti bahagia. Yang Tuan Ray tau, ia harus menjadi pria yang kuat dan tangguh agar bisa menjadi pemimpin yang bisa di segani oleh banyak orang, agar ia bisa membawa perusahaan miliknya dan perusahaan milik keluarganya ke kancah internasional dan menjadi perusahaan terkuat seAsia. Tuan Ray bekerja siang malam, tanpa kenal lelah. Dan ketika kamu datang dalam kehidupannya, entah apa yang terjadi hingga dia terus memilih untuk menyiksamu tanpa menaruh rasa kasihan sedikitpun." curhatnya.
"Apakah Tuan Ray melakukan semua itu, untuk melampiaskan kekesalannya. Dan mungkin karena Tuan Ray merasa sudah membeli aku dari ayah tiriku, makanya Tuan Ray memperlakukan aku sesuka hatinya," tebaknya.
"Mungkin," sahut Bibi Aisyah.
"Hhhh ... tapi aku bukan hewan yanng bisa diperlakukan seenaknya. Bahkan jika hewan pun, juga tidak boleh di sakiti sesuka hatinya," papar Fatimah.
"Kamu benar, tapi masalahnya saat ini Tuan Ray seakan tertutup mata hatinya. Ia seakan tidak memperdulikan perasaan orang lain, yang ia pikirkan hanyalah sebuah kepuasan setelah menyakiti seseorang," ucap Bibi Aisyah.
Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba Fatimah melihat tangan Rayyan bergerak.
"Bi, tangan Tuan Ray bergerak," ucapnya panik.
"Bibi panggilkan dokter dulu ya, Non," ujarnya dan segera lari dari sana.
Sedangkan saat ini, Rayyan sudah membuka matanya dan orang yang pertama kali dia lihat adalah Fatimah
"Aku ada dimana?" tanyanya seperti orang linglung. Ia melihat ke seluruh ruangan.
"Ru ... rumah sakit," jawab Fatimah gugup.
"Kamu siapa?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"A ... aku .... " belum sempat Fatimah menjawab.
Bibi Aisyah datang bersama Dokter Ratih.
"Sudah bangun juga ternyata," ucap Dokter Ratih santai, dan ia pun memeriksa kondisi Rayyan.
"Syukurlah semuanya baik-baik saja," tutur Dokter Ratih
"Kalian siapa? Aku siapa?" tanyanya, membuat Dokter Ratih melongo.
"Tuan Ray, gak ingat siapa kami?" tanya Dokter Ratih. Pasalnya kepalanya gak papa, kecuali hanya luka luar saja yang memang harus di jahit.
Rayyan menggelengkan kepalanya.
"Astaga, Tuan Ray amnesia?" tanyanya kaget.
Mendengar hal itu, Rayyan mengernyitkan dahinya.
"Amnesia?" tanyanya seperti orang bodoh, tak ada wajah yang congak lagi, sombong apalagi angkuh.
"Hmm. Anda juga lupa jika sudah menikah?"
"Me ... menikah? Sama siapa?" tanyanya polos.
"Jadi dia istriku?" tanyanya kaget.
"Iya. Dan dia Bibi Aisyah, orang yang merawat Anda sejak Anda masih umur satu tahun. Lalu saya sahabat Anda, sama ada lagi dua sahabat Anda. Yang satu tinggal di luar negeri dan satunya lagi, dia kerja sebagai asisten Anda dan kini tengah mengurus perusahaan Anda."
"Perusahaan?" tanyanya tak mengerti.
"Ya. Anda merupakan pengusaha besar di negara ini."
Mendengar hal itu, Rayyan semakin melongo.
"Namaku siapa?"
"Rayyan."
Mendengar hal itu, Rayyan mengangguk-anggukkan kepalanya
"Lalu orang tua aku kemana?"
"Sudah meninggal, Tuan," jawabnya.
__ADS_1
"Keluargaku yang lain?"
"Kurang tau," balas Dokter Ratih.
"Kamu kenapa dari tadi diam?" tanyanya sambil menoleh ke Fatimah.
"A ... aku bingung mau ngomong apa, Tuan," sahutnya.
"Tuan. Bukannya kamu istriku? Kenapa manggil aku, Tuan?" tanyanya tak suka.
"Karena kamu yang memintanya seperti itu," jawab Dokter Ratih.
"APAH!" Rayyan merasa kaget, tak menyangka jika dirinya akan melakukan hal itu.
"Hemm, dan Fatimah bahkan masuk rumah sakitpun, juga karena Anda," ujarnya memberitahu.
"Emang aku sudah melakukan apa?" tanyanya. Dan Dokter Ratih pun menceritakan semuanya.
"Enggak mungkin. Aku gak akan segila itu menyakiti istriku sendiri," tutur Rayyan tak terima.
"Tapi faktanya emang seperti itu," tekan Dokter Ratih membuat Rayyan lagi-lagi kesakitan. Dan ia mulai sedikit mengingat, bagaimana ia secara brutal menyakiti Fatimah. Hanya saja yang lain ia tidak ingat. Ia hanya ingat samar-samar, saat dirinya yang begitu tega menyiksa Fatimah berkali-kali.
"Aaaaaa ... " Rayyan memegang kepalanya yang terasa sakit lagi, bayangan ia yang memperko-sa Fatimah, memukulnya layaknya samsak, terus berputar di kepalanya. Anehnya dia gak ingat siapa dirinya, hanya bayangan saat ia menyiksanya lah yang terus berputar seakan seperti kaset.
"Dok, apa gak papa?" tanya Fatimah khawatir.
"Gak papa, biarin aja," sahutnya santai.
Dokter Ratih, seperti tak peduli saat Rayyan terus memegang kepalanya, wajahnya memerah karena menahan rasa sakitnya.
Sedangkan, Fatimah dan Bibi Aisyah mulai tidak tega.
"Dok, tolong kasih pereda rasa sakit. Kasihan," pinta Fatimah memohon.
"Ck ... padahal saat Tuan Ray menyiksa kamu, dia gak merasa kasihan sama sekali ," ujar Dokter Ratih kesal, namun ia tetap melakukannya. Memberikan obat penenang hingga Rayyan kembali tak sadarkan diri.
"Dia mungkin akan bangun sekitar tiga atau empat jam lagi. Jadi kamu bisa istirahat Fatimah, biar cepat sembuh," tutur Dokter Ratih sebelum akhirnya ia memilih pergi karena masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.
"Sebenarnya Tuan Ray sakit apa ya Bi? Kenapa dia seperti kesakitan kayak tadi?" tanyanya sambil menatap wajah Rayyan yang masih memerah.
Fatimah tak berani untuk memegangnya karena takut Rayyan tiba-tiba sadar dan memukulinya lagi. Jadi, ia memilih untuk diam dan menatap Rayyan saja.
"Entahlah, Bibi juga gak ngerti. Mungkin dia ingat sesuatu yang menyakitkan," tebaknya.
__ADS_1
"Ayo kembali ke kamar, nanti ke sini lagi." ujar Bibi Aisyah, namun Fatimah menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau pergi kemana-mana karena takut jika nanti Rayyan bangun dan kesakitan lagi.