
Sesampai di rumah sakit, beberapa dokter langsung menanganinya termasuk Dokter Ratih, ia juga ikut masuk ke dalam ruang ICU. Sedangkan Bibi Aisyah, menunggu di luar. Ia terus memohon agar Fatimah diberikan keselamatan. Ia duduk, berdiri dan berjalan mondar mandir di depan ruang ICU. Baru beberapa jam yang lalu Fatimah berada di mension dan kini ia sudah berada dalam hidup dan mati.
Sudah dua jam namun pintu ruang ICU belum juga di buka. Tuan Ray yang mendapatkan laporan dari Pak Han, jika kondisi Fatimah kritis dan kini di bawa ke rumah sakit oleh Dokter Ratih, Tuan Ray hanya merespon dengan deheman saja, lalu mematikan sambungan teleponnya. Tuan Ray benar-benar tidak peduli bahkan jika Fatimah mati sekalipun. Ia bisa membawa perempuan lain untuk ia siksa agar bisa memuaskan has ratnya.
Di rumah sakit, setelah hampir enam jam lamanya, akhirnya Dokter Ratih dan yang lainnya pun keluar dari ruang ICU. Dokter Ratih keluar dengan wajah sendunya. Fatimah emang bisa melewati masa kritisnya, namun ia berakhir koma di rumah sakit. Mendengar hal itu, Bibi Aisyah pun langsung jatuh di lantai, ia tak tega melihat kehidupan Fatimah yang begitu memprihatinkan.
Setelah dari ICU, kini Fatimah sudah di pindahkan ke ruangan yang lain. Ruang VVIP karena kali ini, Dokter Ratih yang akan membiayai semua biaya rumah sakit, mengingat Tuan Ray yang tak lagi peduli.
Bibi Aisyah memutuskan untuk merawat Fatimah di rumah sakit, tak peduli jika ia harus di pecat dan di usir dari mension. Bibi Aisyah tak akan meninggalkan Fatimah apapun alasannya. Ia akan terus mendampinginya hingga Fatimah sembuh. Untungnya Tuan Ray juga tak memperdulikan jika Bibi Aisyah merawat Fatimah, karena ia sendiri juga harus terbang ke luar negeri untuk sebuah pekerjaan. Dan kemungkinan besar ia harus berada di sana selama enam bulan lamanya. Namun, Tuan Ray sudah memerintahkan dua orang buat menjaga Fatimah agar tidak kabur darinya. Dan kini di depan pintu kamar rawat inap Fatimah, ada dua orang yang berdiri tegak di depan pintu dengan wajah yang sangat sangar.
Satu minggu berlalu, Fatimah masih belum juga sadar dari koma. Bibi Aisyah masih setia mendampinginya dan Dokter Ratih pun sesekali juga datang, untuk menjenguk keadaaan Fatimah.
"Dok, kira-kira kapan Fatimah akan siuman?" tanya Bibi Aisyah.
__ADS_1
"Kita gak tau, Bi. Itu semua bergantung pada Fatimah, dia mau kembali lagi ke dunia apa gak. Saat ini, Fatimah bahkan hidup karena adanya alat yang menempel di tubuhnya, dan jika alat ini di lepas, bisa jadi, Fatimah juga akan berhenti bernafas." jawabnya membuat Bibi Aisyah menatap sendu ke arah Aisyah.
"Kita doakan saja, semoga Fatimah segera sadar dan kembali pada kita," imbuhnya dan Bibi Aisyah pun menganggukkan kepalanya.
Dua Minggu berlalu, keadaan Fatimah terus membaik. Dan kini, ia mulai menggerakkan jari-jarinya. Melihat hal itu, Bibi Aisyah pun tersenyum senang. Ia segera menghubungi Dokter Ratih untuk memeriksanya sekali lagi.
"Alhamdulillah, Bi. Gak lama lagi, Fatimah akan segera sadar," ucapnya dan Bibi yang mendengarnya pun langsung sujus syukur.
Benar saja, beberapa jam setelahnya, Fatimah mulai membuka matanya dan ia melihat Bibi yang berada di sampingnya.
"Di rumah sakit," jawab Bibi Aisyah tersenyum ramah. Tiba-tiba Fatimah ingat dengan apa yang terjadi terakhir kali sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.
Ia masih ingat, bagaimana Tuan Ray memaksanya untuk melayaninya, rasa sakit itu ia masih bisa merasakannya.
__ADS_1
"Bibi, Huuuu kenapa hidupku seperti ini, Bi. Aku sudah tidak suci lagi, aku gak bisa menjaga kehormatan aku, Bi. Ibu pasti kecewa karen aku sudah lalai menjaga, apa yang harus aku jaga untuk suamiku kelak." Fatimah menangis histeris, Bibi Aisyah pun segera memeluknya. Dokter Ratih yang ada di sana, pun ikut menangis melihat Fatimah yang begitu frustasi karena ia sudah kehilangan kepera-wanannya.
"Kenapa Tuan Ray tega, menyakiti aku, Bi. Salahku apa? Kenapa Tuan Ray tega memukul aku, menganiaya aku dan memper-kosa aku. Kenapa Tuan Ray seperti Ayah tiriku. Kenapa semua laki-laki itu suka menyiksa kaum perempuan. Sebenarnya apa kesalahan yang sudah aku perbuat sama mereka hingga mereka menyakiti aku?" tanya Fatimah dalam keterputus-asaannya.
"Aku kesakitan, Bi. Tapi Tuan Ray gak mau berhenti, dia terus melakukannya. Aku berusaha untuk berteriak dan memberontak, tapi tidak ada yang menolong aku, Tuan Ray malah menampar aku berulang-ulang. Kenapa, Bi? Kenapa Tuan Ray menyiksa aku. Emang aku salah apa? Ayah tiriku yang menjual aku ke Tuan Ray, bukan aku yang menikmati uangnya. Padahal aku sudah berjanji, aku akan mengembalikan uang yang sudah diterima oleh Ayah tiriku. Namun Tuan Ray gak memperdulikannya, ia terus menyiksa aku. Aku sakit, Bi. Aku sakit." Fatimah terus menangis histeris dan menceritakan semuanya kepada Bibi Aisyah.
Bibi Aisyah pun hanya bisa mendengarkan dan mengelus punggung Fatimah yang berada dalam pelukannya. Dokter Ratih yang sedari tadi ada di ruangan itu, memilih pergi karena sudah tidak tahan lagi mendengar cerita Fatimah. Ia kecewa, kecewa kepada Ray. Ingin rasanya ia membawa Fatimah pergi dan menyelamatkan hidupnya. Tapi jika ia melakukannya, sudah tentu, dirinya akan mendapatkan hukuman berat dari Ray.
Jika pun Dokter Ratih melaporkan ke polisi, pasti Ray hanya akan di tahan dua sampai tiga jam saja, dan setelah nya Ray akan balas dendam padanya dan menghancurkan hidupnya dan hidup keluarganya.
Dan Dokter Ratih gak mungkin membiarkan keluarganya ikut kena dampak atas apa yang ia lakukan.
Dokter Ratih hanya bisa menangis dalam ruangannya. Ia merasa menjadi wanita tidak berguna, di saat Fatimah membutuhkan seseorang untuk membantunya, Dokter Ratih hanya bisa diam dan memilih pergi.
__ADS_1
Saat ini Ray sangatlah berkuasa di Negara ini, ia bahkan bisa membeli hukum, yang salah pun bisa jadi benar, dan yang benar bisa jadi salah. Bahkan jika Ray membunuh orang di depan mata polisi pun, ia tidak akan di tahan dan semua itu karena uang dan kekuasaan yang ia miliki.
Ray semakin hari semakin menjadi pria yang begitu menyeramkan, entah apa yang bisa membuat Ray berubah menjadi orang yang lebih baik. Dokter Ratih cuma berharap kelak Ray mendapatkan karma yang pedih atas apa yang ia lakukan selama ini. Agar Ray bisa merasakan rasa sakit yang orang lain rasakan.