Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Moment Di Pantai


__ADS_3

Hari ini, Rayyan mengantarkan Fatimah ke dokter kandungan untuk memulai proses program kehamilan. Setelah di periksa berkali-kali, Rayyan dan Fatimah dinyatakan subur sama halnya seperti terakhir kali mereka periksa. Hanya saja memang belum takdirnya mereka punya anak dalam waktu dekat. Mungkin Tuhan masih ingin mereka menghabiskan waktu berdua untuk bersenang-senang sebelum akhirnya akan ada malaikat kecil di tengah-tengah mereka.


Namun walaupun begitu, dokter tetap meresepkan obat penyubur kandungan dan vitamin untuk Rayyan dan Fatimah.


Setelah dari dokter kandungan, Fatimah dan Rayyan pergi ke pantai untuk bersenang-senang, menikmati hidup. Membeli makanan di pinggir pantai sambil menikmati semilir angin yang menerpa wajah mereka.


Rasanya sangat menyegarkan, saat matahari begitu terik, namun di imbangi dengan angin yang sepoi-sepoi sehingga tidak terlalu membuat cuaca panas, apalagi dengan ditemani es kelapa. Sungguh rasanya benar-benar nikmat.


Fatimah memilih duduk sambil makan camilan yang sedikit pedas, ia terlalu malas untuk sekedar jalan di pinggiran pantai. Mungkin nanti misal sore, sekitar jam empat. Baru bisa jalan di pinggiran pantai.


Sekarang cukup lihat air laut aja yang sedikit surut karena efek matahari yang semakin meninggi.


"Sayang?"


" Iya, Mas."


"Kenapa aku jadi pengen punya rumah di pinggir pantai ya."

__ADS_1


"Bukannya Mas punya ya."


"Benarkah?" tanya Rayyan, karena ingatannya yang belum pulih, jadi dia tidak ingat dimana aja rumah yang ia punya.


"Ia, aku pernah dengar dari Bibi Fatimah. Coba nanti Mas tanya ke Rio, masalah itu."


"Baiklah."


Mereka trus mengobrol hingga adzan dhuhur terdengar. Setelah itu, mereka langsung cari musholla terdekat untuk sholat dhuhur dan istirahat sejenak. Setelah itu mereka cari makan siang sambil mengobral santai.


Walaupun dari saat mereka sampai, mereka makan banyak camilan, tapi tetap aja mereka masih cari makan siang untuk mengisi perut mereka yang sebenarnya tidak lapar.


Yah, mereka akan menghabiskan waktu berdua, sekalian membuat anak di pinggir pantai, siapa tau kali ini jadi.


Rayyan benar-benar sudah gak sabar untuk menggendong anak dan mengajaknya ke kantor, seperti yang ia dengar dari rekan bisnisnya. Pasti ia akan tambah semangat kerjanya karena ada anak yang menemaninya bekerja. Terlebih jika Fatimah ikut dirinya, semakin lengkaplah kebahagiannya.


Rayyan akan membuat ruangannya seperti kamar hotel bintang lima, agar anak dan istrinya betah lama-lama di ruangan kerja miliknya. Itulah impian Rayyan saat ini. Sederhana tapi akan sangat membahagiakan jika itu benar benar terwujud.

__ADS_1


Sore harinya, seperti keinginan Fatimah. Ia dan Rayyan berjalan di pinggiran pantai sambil berpegangan tangan.


"Jalan berdua seperti ini aja, berasa kita romantis banget ya Mas. Tidak perlu yang mahal-mahal, cukup jalan kaki di pinggiran pantai, udah bikin hatiku bahagia."


"Apa perlu kita tiap sore ke sini untuk jalan-jalan seperti ini?" tanya Rayyan.


"Enggak tiap hari juga, Mas. Nanti malah bosen, sesekali boleh, tapi kalau keseringan malah akan terasa biasa aja."


"Kalau gitu, Sabtu-Minggu nanti, kamu mau ke mana?"


"Ke panti asuhan yuk Mas," ajak Fatimah.


"Boleh."


"Baiklah, berarti itu akan jadi agenda kita selanjutnya ya."


"Iya, Sayang."

__ADS_1


Mereka trus berjalan hingga tak terasa sudah jam lima lewat, mereka pun segera pergi dari sana untuk pergi ke mushola, melaksanakan sholat Maghrib. Dan setelah itu, mereka akan cari penginapan untuk istirahat agar besok bisa bangun lagi dan pulang ke mension, karena besok, Rayyan ada jadwal meeting jam delapan pagi.


__ADS_2