
"Fatimah! Fatimah!" Rayyan menggedor pintu kamar Fatimah dengan keras hingga membuat para ART ketakutan. Ini pertama kalinya, mereka mendengar suara Rayyan yang meninggi setelah berbulan-bulan lamanya rumah adem ayem.
Fatimah semakin gemeteran, ia sengaja mengunci pintu dari dalam karena takut jika Rayyan akan menyakiti dirinya lagi.
Fatimah memegang perutnya yang mulai membuncit, ia terus memohon pertolongan Tuhan agar, bisa melindungi dirinya dan anak yang tengah ia kandung.
"Fatimah! buka breng'sek!" maki Rayyan dengan emosi yang tak terkendali. Ia seakan lupa dengan semua kenangan indah dengan Fatimah selama ini, ia juga seakan lupa dengan anak yang kini ada di perut Fatimah.
"Fatimah! Aku hitung sampai tiga, jika tidak dibuka, aku habisi kamu!" ancamnya.
Mendengar suara itu, tentu Fatimah semakin ketakutan. Ia tau, Rayyan akan berbuat sesukanya, karena Rayyan sudah pernah membunuh kakek dan kedua orang tuanya sendiri. Mungkin membunuh sekali lagi, tidak akan membuat dia menyesal.
Sebenarnya, tak masalah jika Fatimah harus mati di tangan suaminya, karena Fatimah sudah pasrah dan rela jika dirinya mati di tangan pria yang dia cintai.
Tetapi masalahnya sekarang, ada anak yang harus ia lindungi. Anak hasil buah dari kisah cinta Fatimah dan Rayyan. Lalu bagaimana mungkin, Fatimah akan membiarkan anak yang ia tunggu selama ini juga harus mati di tangan Ayah kandungnya sendiri.
Tidak, Fatimah tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Anaknya harus tetap hidup, apapun yang terjadi.
__ADS_1
"Oh, Tuhan. Kenapa ujian Engkau berat sekali," keluh Fatimah dalam hati.
"Satu .... Dua ... Jika kamu tidak juga buka pintu ini, habis kamu di tangan aku wanita murah-an," teriak Rayyan.
Tepat saat berbicara seperti itu, suara pintu terbuka. Dan ...
Plak
Plak
Plak
"Ngapain aja dari tadi? Kamu sengaja bikin aku berdiri lama di di sini!" murka Rayyan, tak ada lagi rasa cinta seperti kemaren-kemarennya. Yang ada hanya rasa benci, muak, marah dan jijik kepada Fatimah.
Jijik saat mengingat kebersamaan dirinya dan Fatimah selama ini. Ia tak menyangka akan melakukan hal serendah itu dengan Fatimah.
Enggak, Fatimah tidak akan lagi mendapatkan hatinya, tidak akan pernah! Hatinya hanya untukku Felisha, hanya untuk dia seorang.
__ADS_1
Fatimah hanya bisa diam, ia bahkan berusaha sekuat mungkin agar tidak menangis di depan suaminya. Ia tak ingin membuat Rayyan semakin murka padanya
Saat ini Fatimah bukan berhadapan dengan suaminya yang lemah lembut, melainkan ia tengah berhadapan dengan laki-laki yang tengah di kuasai amarah, dendam dan rasa sakit akan masa lalunya.
Rayyan melihat ke arah perut Fatimah, Fatimah yang sadar akan tatapan Rayyan, langsung mundur beberapa langsung sambil memegang perutnya.
Rayyan menyeringai, "Tak seharusnya kamu hamil anakku. Tidak ada yang boleh mengandung anakku kecuali Felisha. Hanya dia yang pantas buat hamil dan melahirkan keturunan aku. Bukan kamu, wanita yang aku beli lalu aku nikmati layaknya barang. Kamu itu hanya boneka s'e'x untukku. Jadi, jangan berharap kamu bis melahirkan dia!"
Rayyan lalu ingin menendang perut Fatimah, untungnya Fatimah menghindar setelah melihat ada gerakan dari Rayyan. Ia menjadikan punggungnya sebagai tameng untuk melindungi perutnya. Apapun yang terjadi, ia harus menyelamatkan anak yang tengah ia kandung, tak apa jika harus menahan rasa sakit, Fatimah akan berusaha untuk bertahan sebisanya.
Saat Rayyan terus menendang dan memukul tubuh Fatimah, Fatimah terus berusaha membungkuk agar kaki Rayyan tak sampai mengenai Fatimah.
Untung saja tiba-tiba Pak Han datang dan mengatakan ada Alfian yang berkunjung ke rumahnya.
Rayyan pun akhirnya pergi begitu saja, dan langsung pergi ke ruang tamu untuk menemui sahabat lamanya.
Pak Han yang melihat keadaan Fatimah, langsung mengirim pesan pada Rio dan diam-diam memvidiokan Fatimah. Bagaimanapun saat ini, Rio harus tau keadaan Fatimah. Pak Han berharap, Rio bisa membantu Fatimah untuk keluar dari mension ini. Bagaimanapun Fatimah saat ini tengah mengandung anak dari keturunan Alexander Abraham. Dan anak itulah yang kelak akan menjadi pewaris dari semua harta keluarga Alexander Abraham Danendra.
__ADS_1