
Beberapa hari berada di Bali, Fatimah bener-bener sangat menikmatinya. Tinggal di penginapan pinggir pantai membuat Fatimah betah berlama-lama di sana.
Setiap pagi, habis sholat subuh. Fatimah dan Rayyan akan duduk santai di balkon sambil melihat ke pantai. Melihat matahari terbit di pagi hari, membuat suasana hati mereka seperti menghangat. Begitupun saat sore hari, mereka akan duduk di sana sambil melihat pantai dan melihat matahari terbenam.
"Mas," panggil Fatimah.
"Iya," balas Rayyan sambil menoleh ke arah Fatimah.
"Kamu gak kepengen?" tanya Fatimah.
"Kepengen apa?" tanya balik Rayyan.
"Itu," jawab Fatimah dengan raut wajah memerah menahan rasa malu.
"Hah? Itu apa?" Rayyan masih tidak connect .
"HB," sahutnya. Rayyan masih mikir, apa itu HB.
Melihat suaminya seperti memikirkan sesuatu, membuat Fatimah gemes sendiri.
"Hubungan badan," tutur Fatimah dengan jelas, sejelas-jelasnya.
"Oh," Rayyan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun beberapa detik kemudian, "Apa? Apa kamu bilang?" tanyanya dengan suara agak tinggi.
"Hubungan badan," ulang Fatimah.
__ADS_1
"Kalau aku sih kepengen, jangan di tanya. Tapi bagaimana dengan kamu? Apa sudah siap?" tanyanya.
Fatimah menganggukkan kepala. "Ya, tapi harus hati-hati dan jangan kasar lagi."
Sesungguhnya Fatimah masih trauma, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak mungkin membiarkan suaminya menahannya lebih lama lagi.
Fatimah tidak akan setega itu. Terlebih sudah kewajiban dirinya untuk melayani sang suami.
"Kamu yakin mau melakukannya? Kamu gak takut lagi?" tanyanya.
"Enggak, aku sudah gak takut lagi. InsyaAllah aku sudah siap."
Mendengar jawaban Fatimah, Rayyan pun akhirnya tersenyum senang.
Rayyan terus membuat Fatimah mende-sah sampai meracau tidak jelas. Setelah milik Fatimah benar-benar basah, Rayyan mulai memasukkan miliknya.
Dengan hati-hati, Rayyan terus membuat Fatimah benar-benar merasakan kenikmatan. Ia ingin Fatimah merasa bahagia indahnya surga dunia.
Jika selama ini, Rayyan melakukannya tanpa pakai hati tapi berbeda dengan sekarang, Rayyan bener-bener lebih fokus ke Fatimah dari pada dirinya sendiri.
Setelah cukup lama dan Fatimah keluar beberapa kali, barulah mereka ganti posisi.
Ada banyak posisi yang mereka lakukan, dan Fatimah sangat menikmati semua permainannya.
"Mau di atas?" tanyanya.
__ADS_1
Fatimah yang tidak mengerti, hanya diam.
Akhirnya Rayyan menjelaskannya dan Fatimah yang mempraktekkannya.
Dan kali ini desa-han Fatimah semakin keras, apalagi Rayyan, ia sampai meracau dan menyebut nama Fatimah beberapa kali. Di saat Fatimah tengah olah raga di atas Rayyan, Rayyan memegang dan sedikit meremas dua gunung kembar milik Fatimah.
Mereka terus melakukannya hingga akhirnya dua duannya mencapai kenikmatan yang tiada tara.
Fatimah langsung ambruk di atas tubuh Rayyan. Rayyan membiarkannya, ia malah mendekap Fatimah yang berbaring di atasnya.
Walaupun pagi masih sangat dingin, tapi mereka sudah berkeringat.
"Mas, aku ngantuk," ucapnya dengan mata terpejam.
"Tidurlah."
Dan setelah itu Fatimah pun langsung tidur dengan nafas yang mulai beraturan.
Rayyan sendiri, ia masih tidur terlentang dengan Fatimah berada di atasnya.
Tadi sungguh sangat luar biasa, ia senang dan puas. Puas karena ia berhasil membuat Fatimah mende-sah nikmat. Puas pada akhirnya ia melakukannya tanpa adanya sebuah kekerasan lagi.
Tak lama kemudian, Rayyan pun ikut terlelap. Mungkin karena capek juga.
Tidur habis melakukan hubungan badan adalah hal yang sangat di butuhkan. Karena tenaga mereka sudah terkuras habis. Dan dengan istirahat, maka tenaga mereka akan pulih kembali.
__ADS_1