Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Rayyan Menggila


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Rayyan sadar, ia menoleh kanan kiri dan melihat dirinya berada di ruangan yang asing. Setelah memastikan kembali, dia sadar kalau dirinya saat ini berada di rumah sakit.


Sejenak, ia seakan lupa dengan apa yang terjadi sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri.


Tiba-tiba, ia mulai mengingat apa yang sudah terjadi, "Fatimah?" gumamnya.


"Kamu sudah sadar?" tanya Rio santai. Kini ia dalam mode sebagai sahabat, bukan bawahan Rayyan.


"Fatimah mana?" tanya Rayyan tanpa membalas pertanyaan Rio.


"Dia ... " Rio menggantung ucapannya, membuat Rayyan semakin gusar.


"Tadi aku mimpi buruk, aku mimpi mension aku terbakar, dan aku melihat seorang wanita yang hangus terbakar api. Fatimah gak mungkin ninggalin aku, kan? Dia baik-baik saja, kan? Jawab aku, Rio! Bilang sama aku, jika Fatimah masih hidup, dan dia gak ninggalin aku! JAWAB!" bentak Rayyan kesal, karena Rio hanya diam menundukkan kepalanya.


"Bukan kata Maaf yang ingin aku dengar, aku ingin kamu bilang jika Fatimah masih ada. Aku gak mau dengar apapun selain, Fatimah masih hidup dan dia ada di mension."


"Tapi kenyataannya, Fatimah benar-benar sudah pergi meninggalkan kita semua," tutur Rio dengan nada sedih. Benar, bukan. Fatimah emang meninggalkan mereka, tapi bukan ke surga, melainkan ke negara Y. Jadi, Rio tidak berbohong saat ini.


"ENGGAK! KAMU BOHONG, FATIMAH SANGAT MENCINTAI AKU, DIA GAK MUNGKIN NINGGALIN AKU SENDIRIAN. ENGGAK, AKU GAK PERCAYA. FATIMAH PASTI LAGI NUNGGU AKU SEKARANG, AKU HARUS NYUSUL FATIMAH!" Rayyan turun dari brankar dan segera keluar dari ruangannya.


Ia tak mau mempercayai ucapan Rio, yang mungkin hanya ingin membohonginya. Rayyan sangat yakin, Fatimah masih hidup dan tidak meninggalkannya.


Rio hanya mengikutinya dari belakang, "Dimana mobilnya?" tanya Rayyan dingin dan terkesan buru-buru.


"Disana." Rio menunjuk ke arah mobilnya.


Setelah itu Rayyan pun segera masuk ke dalam mobil tersebut, karena takut Rayyan kenapa-napa di jalan, jadi Rio memaksa untuk dirinya aja yang menyetir.


Awalnya Rayyan tak mau, tapi karena mendapatkan sedikit ancaman dari Rio, akhirnya Rayyan menurut aja.

__ADS_1


"CEPETAN!" bentaknya karena ia merasa Rio menyetir dengan sangat lelet


"Ini udah kecepatan tinggi, lagian ini waktunya jam berangkat kerja, wajar jika sedikit macek."


"Kamu bisa pakai jalan lain, tidak harus jalan ini," gerutunya dengan kesal.


"Iya." Tak ingin berdebat, Rio mengalah dan memilih jalan lain, sedikit jauh tapi jalannya tidak macek seperti jalan utama.


"Aku yakin seratus persen, istri dan anakku masih hidup," gumamnya. Rayyan terus berbicara sendiri, Rio yang mendengarnya hanya diam dan fokus menyetir.


Setelah hampir satu jam, Rayyan segera membuka pintu mobilnya, dan ia kaget melihat mensionnya benar-benar sudah hangus, bahkan hanya sisa sedikit yang tidak terkena api. Sekitar 15-20% saja yang tidak tersentuh api, tapi bukan itu fokusnya saat ini. Tapi Fatimah.


"Istriku dimana?" tanya Rayyan sambil pergi ke kamar Fatimah. Namun di sana sudah tidak ada siapa-siapa.


"Mana istriku?" tanya Rayyan. Rio menelfon Pak Han dan meminta Pak Han datang.


Tak lama kemudian, Pak Han pun datang dengan tergopoh-gopoh.


"MANA ISTRIKU?!" tanyanya dengan nada tinggi.


"Non Fatimah sudah kami makamkan satu jam yang lalu, Tuan." ucapnya dengan sedikit ketakutan.


"Apa maksudmu? Fatimah masih hidup, kenapa kamu bilang, Fatimah dimakamkan!" tanyanya dengan suara getir, air mata sudah mengalir dengan sendirinya. Dadanya sesak, hatinya begitu nyeri, ia masih ingat dengan jelas, wanita yang tadi pagi terbakar, bahkan akan sulit di identifikasi karena memang benar-benar hancur.


"Maaf!"


"ENGGAK! AKU GAK BUTUH KATA MAAF. DIMANA ISTRIKU SEKARANG?!" bentaknya sekali lagi.


Pak Han pun segera mengantarkan Rayyan dan Rio ke malam yang masih baru, makam yang tak jauh dari mension dan masih kawasan milik Alexander.

__ADS_1


Kaki Rayyan seperti tak bertenaga saat melihat nama Fatimah di batu nisan.


"Ini bukan istriku! Ini orang lain. Istriku gak mungkin meninggal dalam waktu cepat! Dia gak mungkin meninggalkan suaminya sendiri!" teriak Rayyan histeris. Ia menjauh dari makam itu dan trus menggelengkan kepalanya.


"Itu bukan Fatimah, itu bukan istriku," itulah kata-kata yang terus keluar dari mulutnya.


"Maaf, karena kami gagal menyelamatkan Non Fatimah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mengeluarkan Non Fatimah dari kamarnya, namun pintunya terkunci dari dalam, kami sudah berusaha membuka pintu dan jendela tapi gagal hingga api mulai menyebar kemana-mana. Kami terpaksa keluar, dan ... " belum selesai Pak Han bicara, Rayyan langsung memukulnya.


"Kalian pembunuh! Aku sudah bayar kalian semua, seharusnya kalian menyelamatkan istriku, bukan malah pergi dan meninggal istriku sendirian di dalam." Rayyan terus memukuli Pak Han tanpa henti..


Rio berusaha untuk menahan Rayyan, namun ia terkena pukulan juga di baian pipi, dan perutnya.


Namun Rio tak mau nyerah gitu aja, Rio berusaha untuk memegang tangan Rayyan dan menyuruh Pak Han untuk segera pergi dari sana.


Bagaimanapun saat ini, Rayyan lagi emosi. Dia bisa saja membunuh siapapun yang dikehendakinya. Untuk itu, lebih baik semua orang menjauh, dan biarkan dirinya yang akan menenangkan Rayyan, bagaimanapun saat ini Rayyan hanya dekat dengannya.


"AAaaaa ... Kenapa semuanya seperti ini? Kenapa Fatimah harus pergi di saat aku berusaha menyembuhkan diri aku sendiri. Ini gak adil buat aku, kenapa orang yang aku cintai, mereka selalu pergi meninggalkan aku. KENAPA?!" Rayyan berteriak bak kesetanan. Jika tadi dia menghindar dari makam, saat ini ia mulai mendekat lagi dan memeluk gundukan tanah itu sambil terus menangis dan berteriak memanggil Fatimah.


Dadanya begitu sesak, ia bahkan sedikit kesulitan bernafas. "Kamu kenapa pergi, Sayang? Kenapa? Apakah kamu sudah lelah punya suami aku, yang terus menyiksa kamu. Maafin aku, seharusnya kamu pukul aku balik, aku ikhlas, aku gak akan balas, karena aku emang pantas mendapatkan itu semua.


Seharusnya kamu pukul aku sampai kamu puas, Sayang. Aku benar-benar gak akan melawan, asal kamu tetap di samping aku. Aku menyayangimu Fatimah, aku mencintaimu. Aku benar-benar gak ingin kehilangan kamu, aku gak ingin kamu pergi seperti Felisha yang meninggalkan aku sendirian. Aku butuh kamu, Fatimah. Aku butuh kamu!" Rayyan terus menangis sambil memeluk gundukan tanah. Ia juga mengusap batu nisan dengan tangan yang satunya.


Sungguh, ia tak menyangka jika mimpi buruk itu, adalah kenyataan yang benar terjadi.


Rayyan terus menangis, sedangkan Rio hanya diam membiarkan Rayyan menyesali semuanya. Ia tak perlu ikutan nangis, apalagi menangisi wanita yang bahkan tidak dia kenal.


Mungkin jika itu beneran Fatimah, akan beda ceritanya, tapi karena Rio tau, itu bukan Fatimah. Jadi Rio tak perlu menangisi hal hal yang tidak ada hubungannya dengannya.


Namun, walau bagaimanapun ia harus bisa memperlihatkan wajah sedihnya, Ia tak ingin Rayyan curiga padanya. Jadi, dia harus bisa acting senatural mungkin agar Rayyan percaya dan tidak menyelidiki semuanya.

__ADS_1


Bisa aja kelak akan terbongkar jika Rayyan sampai menyelidikinya sampai sedetail mungkin.


__ADS_2