Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Jika Takdir Sudah Berkehendak


__ADS_3

Kehamilan Fatimah sudah sembilan bulan, hanya hitungan hari, dia akan melahirkan. Saat-saat seperti ini, Fatimah berharap ada Rayyan yang menemaninya. Namun ia tak punya keberanian untuk meminta Rayyan menemuinya.


Sedangkan Dokter Ratih dan Rio tengah berdebat, di satu sisi Dokter Ratih ingin membawa Rayyan untuk menemui Fatimah, lagian beberapa bulan ini, Rayyan sudah menunjukkan perubahannya dan Dokter Ratih yakin, Rayyan bener-bener sudah berubah.


Sedangkan Rio, dia bukan tidak mempercayai perubahan Rayyan, hanya saja ketakutan itu masih ada.


Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya mereka sepakat, akan pergi bertiga menemui Fatimah, karena jika di hitung kemungkinan dua atau tiga hari lagi, Fatimah akan melahirkan, tapi bisa aja lebih cepat atau mundur.


Dokter Ratih dan Rio pun mendatang Rayyan.


"Ray, ayo siap-siap," ucap Rio.


"Mau kemana?" tanya Rayyan.


"Menemui Fatimah, dia sudah mau melahirkan, tentu kamu harus ada di sampingnya, bukan?" ujarnya dengan berat


Mendengar kata Fatimah mau melahirkan, Rayyan merasa bahagia sekaligus takut, takut jika Fatimah masih trauma padanya, tapi juga bahagia karena bentar lagi, dia akan mihat Fatimah dan buah hatinya.


"Ayo jangan lama-lama, kasihan Fatimah sendirian di sana. Alfian juga belum bisa ke sana karena sibuk menyiapkan pernikahannya dengan Nana," ucapnya. Ya, Alfian dan Nana akhirnya jadian, entah kapan mereka PDKT, Tak ada yang tau, karena tau-tau mereka sudah dalam undangan yang akan di selenggarakan dua Minggu lagi.


Rayyan sudah tau keterlibatan Alvian, yang ikut menyembunyikan Fatimah, bahkan bisa dibilang, dialah orang utama yang membawa Fatimah kabur darinya. Namun sekali lagi, Rayyan gak akan memarahi mereka, karena Rayyan menganggap jika apa yang menimpa dirinya selama ini, adalah hukuman untuknya.


Rayyan hanya membawa beberapa baju, laptop, hp dan beberapa barang penting lainnya, bagaimanapun ada pekerjaan penting yg harus dia selesaikan. Seharusnya Rayyan tidak bisa pergi saat ini juga, sebagai pimpinan perusahaan, dia banyak pekerjaan yang tidak semudah itu di cancel. Tapi demi Fatimah, Rayyan bahkan rela rugi puluhan milliar.


Mereka bertiga memilih untuk naik pesawat pribadi, agar lebih cepat dan nyaman. Selama di perjalanan, Rayyan merasa sangat gugup sekali. Ada banya pertanyaan yang ada dal fikirannya.


__ADS_1


Apakah Fatimah masih trauma akan dirinya?


Apakah Fatimah senang, dirinya datang?


Apakah Fatimah berharap dirinya datang?


Apakah Fatimah mau memaafkan dirinya, setelah apa yang dirinya perbuat?


Bagaimana reaksi Fatimah saat dirinya datang nanti?


Apakah Fatimah mau melanjutkan pernikahan ini?


Apakah Fatimah mengizinkan dirinya untuk menemaninya saat proses lahiran nanti?


Apakah Fatimah selama ini bahagia tanpa ada aku di hidupnya?


Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya.



Setelah berjam-jam berada di pesawat, mereka akhirnya tiba juga di bandara, mereka langsung memesan mobil untuk mengantarkan mereka ke tujuan.


Namun saat di perjalanan, Rio mendapatkan telfon bahwa Fatimah sudah ada di rumah sakit dan siap untuk melahirkan.


Mendengar hal ini, Rio tentu terkejut. Akhirnya mereka tidak jadi ke tempat dimana selama ini Fatimah tinggal, melainkan ke rumah sakit.


Rio bersyukur, Alfian menempatkan orang-orangan yang menjaga Fatimah selama ini, tanpa sepengetahuan Fatimah.

__ADS_1


Dan di saat darurat seperti ini, mereka langsung sigap membawa Fatimah pergi ke rumah sakit.


Fatimah akan menjalani proses melahirkan secara normal, karena memang itulah yang diinginkannya, bahkan Fatimah sudah menyampaikan mental dan fisiknya selama ini, dengan banyak olahraga, makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup dan membaca tentang hal-hal yang berkaitan dengan melahirkan secara normal.


Sepanjang jalan Rayyan merasa gugup, ia terus berdoa untuk keselamatan anak dan istrinya. Rio dan Dokter Ratih pun memilih diam dan berdoa di hati mereka masing-masing.


Setelah hampir dua jam, akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat Farm di rawat, Dengan tergesa-gesa, Rayyan langsung menanyakan dimana Fatimah dirawat.


Rayyan bahkan lupa dengan barang-barang miliknya, untung ada Rio yang sigap sehingga tak perlu risau dengan barang yang akan ketinggalan di mobil.


Sesampai di ruangan di mana Fatimah di rawat, Rayyan ternyata di beri izin untuk menemani Fatimah setelah memberitahu tentang statusnya.


Rio dan Dokter Ratih memilih menunggu di luar, Dokter Ratih tak lupa memberitahu Nana, Alfian dan semua orang-orang yang menyayangi Fatimah agar mereka bantu doa, semoga Fatimah dan bayinya baik-baik aja.


Rayyan melihat Fatimah yang sedang menahan tangis, "Mas," panggil Fatimah dengan nahan sakit.


"Iya, Sayang. Maaf, Mas baru datang," ujarnya sambil memeluk Fatimah dan memberikan banyak ciuman di wajah Fatimah.


Fatimah senang akhirnya suaminya datang menemani proses lahirannya, ia tak menyangka jika Allah akan mengabulkan doanya.


Fatimah merasa kekuatannya bertambah berkali-kali lipat. Rayyan sesekali menyeka keringat sang istri.


"Maafin aku ya, Sayang. Aku mohon, kamu harus kuat, kamu harus terus dampingi aku, okay," ujarnya dan Fatimah hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sampai akhirnya dokter memberikan instruksi, Fatimah pun mulai mengejan dengan kuat.


Rayyan menangis melihat perjuangan Fatimah, setelah rasa sakit yang ia biarkan untuk Fatimah, sekarang Fatimah harus berjuang, mempertaruhkan kehidupannya untuk melahirkan buah hatinya.

__ADS_1


Rayyan sangat berdosa sekali, karena selama ini dia sudah dzolim terhadap Fatimah.


"Tuhan, semoga Engkau ampuni dosa-dosaku, dan selamatkanlah anak dan istriku Ya Rabb," gumam Rayyan sambil terus memberikan semangat untuk Fatimah


__ADS_2