Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Ingin Membunuhnya


__ADS_3

Fatimah sudah selesai di operasi, dan sudah di pindahkan ke ruang pasien VVIP. Setelah di pindahkan, barulah Bibi Fatimah dan Mbak Nana langsung melihatnya, sedangkan Dokter Ratih, ia baru mau buka baju yang khusus buat operasi, namun tiba-tiba, rumah sakit di hebohkan dengan kedatangan Tuan Ray yang tidak sadarkan diri dengan kepala yang sudah penuh darah.


Dokter Ratih pun kaget, dan langsung berjalan menuju Rayyan yang ada di atas brankar dan di masukkan ke dalam ruang ICU.


"Dia kenapa?" tanya Dokter Ratih.


"Ngamuk-ngamuk di kantor," sahut Rio.

__ADS_1


Dokter Ratih menganggukkan kepala, lalu ia dan dokter yang lainnya pun akhirnya masuk kembali ke ruang ICU. Bedanya kalau tadi mengoperasi istrinya, Fatimah. Kalau sekarang yang harus mereka operasi adalah suaminya, Rayyan.


"Baru juga beberapa jam yang lalu aku berdoa, eh Tuhan langsung mengijabahnya," ucap Dokter Adrian.


"Terus gimana? Mau di jahit gak nih lukanya?" tanya Dokter Alan. Jujur aja, dia merasa keberatan membantu Rayyan mengobati luka-lukanya. Dia masih sakit hati dan masih dendam karena Rayyan sudah membuat Fatimah harus masuk ruang ICU sampai tiga kali. Dan kini, pelaku utama yang membuat Fatimah menderita ada di hadapan mereka. Haruskah mereka membunuhnya?


"Aku sih malas banget sebenarnya, ngobatin dia. Takutnya nanti kalau dia sembuh, malah bikin ulah lagi dan bikin Fatimah masuk ruang ICU lagi," ucap Dokter Rini.

__ADS_1


"Pengennya sih gitu, aku malah ingin memukul dia dengan keras dan bikin dia sakit luar dalam. Tapi masalahnya kita adalah dokter dan kita sudah di sumpah buat mengobati pasien, bukan membunuh atau menyakiti pasien. Jika kita melakukan kejahatan, selain kita melanggar kode etik, kita juga pasti akan masuk penjara, terlebih kita juga akan kehilangan pekerjaaan kita dan nama baik kita pasti akan tercemar. Kita akan jadi pengangguran untukĀ  selamanya, kita tidak lagi bisa menjadi dokter seperti sekarang," ucap Dokter Ratih, bagaimanapun ia gak mau karena satu kesalahan, ia kehilangan semuanya.


"Iya juga ya, iya sudahlah, kita selamatkan Rayyan tapi kita kasih dia obat, biar tidurnya agak lama. Setidaknya sampai kondisi Fatimah kembali pulih dan dia bisa melupakan kesalahannya itu," ujar Dokter Adrian dan yang lain pun setuju.


Akhirnya mereka pun mengobati RAyyan dengan setengah hati karena mereka masih tidak rela mengobati pria yang sudah hampir membunuh Fatimah berkali-kali.


Di saat luka-luka Rayyan di jahit, Rio menunggu di luar. Ia bahkan tidak merasa panik sama sekali, ia mengangkat telfon dari Pak Chris dan mengatakan meeting akan kembali di tunda karena Rayyan masuk rumah sakit. Untungnya Pak Chris pengertian banget dan dia malah mendoakan untuk kesembuhan Rayyan.

__ADS_1


Setelah selesai mengangkat telfon, Rio menanyakan ruangan di mana Fatimah di rawat, ia ingin melihat keadaan Fatimah secara langsung, sudah tiga kali Fatimah masuk rumah sakit, baru kali ini ia bisa menjenguknya. Karena yang dulu-dulu, ia terhalang oleh Rayyan yang tidak memberikan dirinya izin.


Setelah tau ruangan Fatimah, barulah ia berjalan ke arah sana dengan tubuh yang tegak dan wajah datar.


__ADS_2