
Setelah berjuang hampir dua jam lamanya, kini kondisi Fatimah sudah stabil dan gak lama lagi, ia akan sadar. Dokter Ratih dan dokter lainnya pun tersenyum bahagia. Mereka masih tidak percaya jika Tuhan memberikan kehidupan sekali lagi kepada Fatimah untuk melanjutkan hidupnya yang masih panjang.
Mbak Nana yang ada di depan pun, akhirnya bisa masuk setelah Fatimah sudah di pindahkan ke ruang rawat. Tak lagi berada di ICU. Mbak Nana langsung memeluk Fatimah yang masih menutup mata.
"Terima kasih, terima kasih sudah kembali. Aku yakin, kamu adalah wanita yang kuat, kamu gak akan mudah pergi begitu saja," bisik Mbak Nana di telinga Fatimah.
Dokter Ratih juga masih ada di sana, ia begitu enggan meninggalkan Fatimah begitu saja, karena takut jika Fatimah akan kembali drop dan pergi selamanya. Jadi Dokter Ratih memutuskan untuk tetap di situ bersama Mbak Nana.
Sedangkan Bibi Aisyah masih ada di ruangan yang lain dan belum sadarkan diri, mungkin faktor usia yang tak lagi muda dan mendapatkan informasi yang membuatnya sok, membuat Bibi Aisyah tak sadarkan diri dan mengalami gagal jantung ringan. Ya, masih ringan dan masih bisa diobati. Hanya saja untuk ke depannya, Bibi Aisyah tak boleh lagi mendapati informasi yang membuatnya terkejut karena itu bisa berakibat fatal.
"Aku bersyukur, Fatimah bisa kembali pada kita lagi," ujar Dokter Ratih.
"Iya, apakah kamu sering mendapati pasien yang sudah meninggal hidup kembali?" tanyanya.
"Tidak, tapi dokter senior pernah. Bahkan dua kali selama sepuluh tahun terakhir."
"Itu penyebabnya apa?" tanya Mbak Nana penasaran.
"Ada banyak hal, ada yang bilang, orang yang mati lalu hidup kembali, termasuk mati suri. Iya kan? Namun dalam dunia medis, ada dua macam kematian. Kematian klinis dan kematian biologis." Lalu Dokter Ratih pun mulai menjelaskan secara garis besarnya.
"Ah gitu ya," ucap Mbak Nana mengerti.
"Iya."
__ADS_1
Saat mereka mengobrol, tiba-tiba Fatimah membuka matanya.
Dokter Ratih yang ada di sana pun langsung memeriksa keadaan Fatimah dan Alhamdulillah kini keadaan Fatimah sudah kembali lagi.
"Fatimah," panggil Mbak Nana.
"Apakah aku sudah mati?" tanyanya.
"Kenapa nanya kayak gitu?" ucap Dokter Ratih tak suka.
"Aku fikir aku sudah mati. Kenapa aku gak mati aja?" tanyanya dengan suara lemahnya. Padahal ia sudah berharap, kematian datang padanya, namun siapa sangka, kini ia kembali bernafas dan masih bisa menatap dunianya lagi.
"Kamu mau mati langsung masuk neraka. Kamu lupa, kalau mati bunuh diri adalah hal yang paling di benci Allah. Jangan fikir, kamu mati kamu bisa bebas. Ingat! Kalau kamu mati, siksaan yang kamu dapatkan akan jauh lebih pedih dari pada yang kamu terima di dunia. Dan jika itu beneran terjadi, kamu akan menyesal dan mungkin berharap bisa di kasih kesempatan kedua." ucap Mbak Nana mengeluarkan ceramahnya.
"Maafin aku, aku bukannya gak tau apa yang kamu rasakan. Aku ingin bantu kamu, tapi aku gak bisa. Aku takut, jika Ray akan menyakiti keluarga aku. Aku gak bisa, walaupun aku sangat ingin membawa kamu kabur dari mension terkutuk itu," tutur Dokter Ratih menangis. Ia merasa bersalah karena ia tak bisa melindungi ataupun membawa kabur Fatimah dari kejahatan Ray.
"Aku pun sama, aku cuma bisa mendoakan dan menguatkan kamu saja. Maafin aku Fatimah, tapi aku harap, kamu bisa bersabar sedikit lagi. Aku yakin Tuhan itu tidak tidur dan dia akan selalu mendengar setiap doa yang kamu panjatkan. Aku yakin, suatu saat kamu pasti akan bahagia," ujar Mbak Nana.
Dan Fatimah pun hanya bisa diam mendengarkan.
Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba Bibi Aisyah datang dengan kursi roda, karena tubuhnya masih lemas.
Tadi saat ia bangun, ia cukup histeris karena ingat jika Fatimah sudah meninggal. Namun untungnya salah satu dokter yang merawatnya mengatakan jika Fatimah hidup kembali. Mendengar hal itu, Bibi Aisyah pun sangat senang, dan akhirnya ia meminta untuk di antarkan ke tempat Fatimah.
__ADS_1
Awalnya dokter menolaknya karena kondisi Bibi Aisyah yang tidak memungkinkan, tapi karena melihat tekat bulat Bibi Aisyah, sang dokter pun mengambil kursi roda dan membantu Bibi Aisyah bertemu dengan Fatimah.
"Fatimah, kamu akhirnya sadar, Nak," ucap Bibi Aisyah. Dokter Ratih dan Mbak Nana pun segera menyingkir dan memberikan kesempatan buat Bibi Aisyah berdekatan dengan Fatimah. Melihat Bibi Aisyah pakai kursi roda dan infus di tangannya. Fatimah pun terkejut.
"Bibi kenapa?" tanya Fatimah sambil menatap sang Bibi yang tengah menangis. Bibi Aisyah tidak menjawabnya melainkan ia berdiri dengan susah payah lalu memeluk Fatimah. Sang dokter yang tengah memegang infus Bibi Aisyah pun mendekatkannya agar Bibi Aisyah bisa leluasa memeluk Fatimah.
"Tadi Dokter memvonis kamu itu sudah meninggal, dan ketika tau kamu sudah pergi untuk selamanya, Bibi Aisyah kaget dan tidak sadarkan diri. Setelah di periksa, Bibi Aisyah kena serangan jantung ringan. Tapi tak apa, masih awal. Tapi yang penting ke depannya tidak boleh kaget lagi, atau mendengar sesuatu yang membuatnya sok, harus rajin olah raga seperti jalan kaki di sekitar mension, menjaga pola makan sehat dan istirahat yang cukup," ucap Dokter Ratih menjelaskan.
Mendengar hal itu, Fatimah pun merasa bersalah, ia membalas pelukan Bibi Aisyah dan meminta maaf berulang-ulang.
"Maafin aku ya, Bi. Maaf sudah bikin Bibi kayak gini. Maaf karena aku sudah membuat Bibi sok," ucapnya menyesali perbuatanya. Padahal selama ini Bibi Aisyah sangat baik padanya dan sudah menganggap dirinya seperti putrinya sendiri. Namun Fatimah malah membuat Bibi Aisyah seperti ini.
"Ini bukan salah kamu. Mungkin memang tubuh Bibi yang sudah tua renta ini tak lagi bisa seperti dulu. Dan mudah kaget. Kamu gimana, Nak? Apa ada yang sakit?" tanyanya.
"Enggak, Bi. Aku sudah mulai merasa enakan sekarang," jawabnya tersenyum ramah. Bibi Aisyah melepaskan pelukannya dan kembali duduk di kursi roda.
"Aku sebenarnya tadi sempat bermimpi," tutur Fatimah.
"Mimpi apa?" tanya Mbak Nana.
"Aku mimpi Ayah kandung aku. Ayahku sangat tampan sekali. Aku sempat mengobrol sama Ayah dan Ayah juga mengajak aku keliling, tempatnya sangat luas dan indah. Aku senang berada disana. Dan ketika Ayah ingin mengajak aku pergi ke suatu tempat, tiba-tiba Ibu datang. Dan memanggil namaku. Ibu terus memanggil aku, di mimpi aku, Ibu tak lagi sakit. Dia sangat cantik terawat. Lalu Ayah menyuruh aku memilih, ikut Ayah atau ikut Ibu. Aku awalnya ingin ikut Ayah tapi karena melihat Ibu terus menangis memanggil namaku, aku gak tega. Akhirnya aku memilih ikut Ibu dan meninggalkan Ayah sendirian di sana. Namun sebelum aku pergi, Ayah memelukku dan mengatakan, 'Jangan sedih anak cantik Ayah. Bersabarlah, kelak kamu akan bahagia.' Itulah kata-kata yang Ayah sampaikan sebelum akhirnya Ayah pergi dari sana dan menghilang. Lalu Ibuku menarik tanganku pergi dari sana." Fatimah pun akhirnya selesai bercerita.
"Syukurlah, kamu gak ikut ayah kamu. Kalau kamu sampai ikut, maka orang yang menyayangi kamu di sini pasti akan sangat terluka sekali," tutur Mbak Nana.
__ADS_1
Fatimah hanya diam mendengarkan, kalau boleh jujur ia saat ini merindukan sang Ibu. Hanya saja, jangankan bertemu dengan Ibunya, Fatimah bahkan tidak bisa lepas dari cengkraman Tuan Ray.