
Keesokan harinya, saat sarapan pagi, Fatimah dan Rayyan sudah kembali romantis, membuat Bibi Aisyah merasa lega dan tak lagi merasa cemas.
Semaleman Bibi Aisyah bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan keduanya. Bibi Aisyah takut, takut jika Fatimah akan kembali disiksa oleh Rayyan seperti dulu lagi.
Tetapi melihat mereka kini kembali harmonis, membuat Bibi Aisyah benar-benar merasa lega. Bahkan Sofi yang melihat Rayyan dan Fatimah saling suap-suapan saat makan, juga ikut merasa lega. Sama seperti Bibi Aisyah, Sofi juga tidak bisa tidur karena memikirkan Fatimah.
Sedangkan Fatimah dan Rayyan, mereka tidak menyadari jika saat ini ada Bibi Aisyah dan Sofi yang tengah melihat ke arah mereka berdua.
"Sayang, ini kan Hari Minggu, enaknya ngapain ya?" tanya Rayyan di sela-sela makannya.
"Entahlah, Mas. Tapi aku males kalau harus keluar," balasnya jujur. Bukan apa-apa, Fatimah masih trauma dengan kejadian tadi malam. Takutnya jika mereka keluar, akan ada kejadian tak mengenakkan seperti tadi malam, dan itu bisa membuat Rayyan terpancing emosi lagi. Dan Fatimah gak mau itu terjadi. Bagaimanapun suaminya masih belum bisa mengontrol emosinya dengan baik.
"Hmmm, bagaimana kalau hari ini kita berenang aja."
"Boleh." Fatimah mengangguk setuju.
Selesai makan, mereka tidak langsung berenang. Melainkan duduk santai dulu di ruang keluarga sambil nonton tivi, sekitar setengah jam.
Baru setelah itu, mereka bersiap-siap ganti baju dan pergi ke kolam renang.
Fatimah, bisa berenang tapi tidak Sejago Rayyan. Untuk itu, Rayyan akan mengajari cara berenang dengan baik dengan berbagai gaya.
Fatimah pun sangat menikmati weekend seperti ini, menghabisi waktu berdua dengan suaminya. Apalagi sesekali Rayyan mencari-cari kesempatan untuk mencium sang istri bahkan memeluknya serta memegang hal sensitif yang membuat Fatimah hanya geleng-geleng kepala.
Fatimah hanya bisa mengelus dada, melihat tangan suaminya yang gak mau diam. Bukan tak suka, tapi Fatimah takut jika ada yang melihatnya. Memang benar, tidak akan ada yang berani mendekati area kolam renang itu, tetapi tetap saja, rasanya risih bermesraan di tempat terbuka seperti ini.
"Mas, kita mau bermesraan atau mau berenang?" tanya Fatimah setelah ia merasa panas dingin akibat ulah suaminya.
"Dua-duanya," jawab Rayyan cengengesan.
"Hueftt nanti ada yang lihat, Mas."
"Enggak akan, Sayang. Enggak akan ada yang berani ke sini. Percaya deh sama aku," ucapnya berusahalah meyakinkan Fatimah agar Fatimah rileks dan tak perlu takut di intai atau dilihat oleh orang lain.
"Tetep aja Mas, aku kurang nyaman kalau bermesraan di tempat buka seperti ini. Gimana kalau kita udahin aja renangnya, kita ke kamar aja, kalau pengen bermesraan?" tawarnya.
__ADS_1
"Enggak deh, nanti aja kita ke kamar. Sekarang kita fokus belajar renang aja. Nanti kalau sudah puas main air, baru kita ke kamar," ucapnya membuat Fatimah menganggukkan kepalanya.
"Baiklah."
Akhirnya mereka kini hanya berenang saja tanpa melakukan hal-hal yang memancing hawa naf-su.
Rayyan mengajari Fatimah renang dengan gaya dada (gaya katak), gaya punggung dan gaya kupu-kupu. Sedangkan untuk gaya bebas, Fatimah sudah bisa menguasainya sendiri.
Jam setengah sepuluh, mereka memilih menyudahi berenangnya karena Fatimah mulai kedinginan karena terlalu lama berada di air.
Mereka segera mandi bersih dan segera memakai baju agak tebal tapi nyaman untuk di pakai di dalam rumah.
Mereka tak jadi melakukan hubungan suami istri, karena Fatimah sudah kelelahan lebih dulu akibat terlalu banyak main air, apalagi mereka sempat lomba renang, dan sayangnya Fatimah kalah terus. Tapi setidaknya dia bahagia karena ada banyak moments yang bisa mereka abadikan menggunakan hp Rayyan.
"Sayang, aku tinggal ke ruang kerja dulu ya, atau kamu mau ikut aku ke ruang kerja?" tanyanya. Rayyan ingat ia masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini, karena besok mau di pakai untuk meeting dengan beberapa klien penting.
"Aku mau ngobrol sama Bibi Aisyah aja, Mas. Sama yang lain juga. Enggak papa kan?" tanya balik Fatimah.
"Enggak papa dong, tapi jangan capek capek ya."
"Ya siapa tau, iya sudah Mas ke ruang kerja dulu."
Sebelum pergi, Rayyan mencium kening Fatimah, setelah itu baru ia melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.
Setelah Rayyan pergi, Fatimah langsung mencari keberadaan Bibi Aisyah.
Setelah tanya sana-sini, ternyata Bibi Aisyah lagi ada di taman, lagi fokus melihat tanaman yang di rawat oleh tukang kebun.
Di usianya yang tak lagi muda, tidak banyak pekerjaan yang Bibi Aisyah lakukan, sehingga ia lebih banyak waktu luangnya ketimbang yang lain.
"Bibi," panggil Fatimah sambil menghampiri Bibi Aisyah.
"Nak Aisyah, kok ada di sini. Tuan Ray mana?" tanya Bibi Aisyah kaget.
Fatimah tidak langsung menjawabnya, melainkan berjalan ke arah Bibi dan duduk di samping Bibi Aisyah.
__ADS_1
"Mas Ray ada di ruang kerja. Katanya banyak pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini."
"Kamu sudah izin?"
"Sudah dong, sebelum ak menemui Bibi, aku sudah bilang kalau aku mau ngobrol sama Bibi."
"Syukurlah, Bibi takut Tuan Ray marah misal kamu ke sini dan tidak menemani suamimu."
"Enggak kok, sejak Mas Ray hilang ingatan, dia gak pernah marah-marah lagi apalagi sampai menyakiti aku."
"Alhamdulillah, Bibi ikut senang mendengarnya."
"Aku minta maaf ya, Bi. Selama ini kita jarang ada waktu ngobrol berdua. Sungguh sebenarnya aku ingin banyak menghabiskan waktu berdua ngobrol panjang lebar sama Bibi, tapi aku gak bisa. Aku juga gak enak sama yang lain, takut mereka berfikir aku sombong karena tak lagi ngobrol bersama sama mereka seperti dulu."
"Jangan berfikir seperti itu. Bibi dan yang lainnya sangat memahami kondisi kamu. Bibi tau jika saat ini, kamu tengah berusaha menggapai cinta suami kamu. Untuk itu, Bibi serta yang lain tidak mempermasalahkan jika kamu jarang ada waktu seperti dulu lagi. Malah bibi berharap bahwa apa yang kamu lakukan sekarang, bisa menimbulkan benih benih cinta di hati Tuan Ray, sehingga saat ingatannya kembali pulih, dia tak lagi menyakiti kamu seperti dulu."
"Terimakasih, Bi. Terimakasih karena Bibi sangat mengerti aku. Andai Sofi dan yang lainnya pekerjaannya sudah selesai, ingin rasanya aku juga mengajak mereka mengobrol. Sayangnya, pekerjaan mereka belum selesai sehingga aku hanya bisa mengobrol dengan Bibi saja."
"Iya, pekerjaan mereka hari ini memang lebih banyak dari biasanya. Kemungkinan habis dhuhur baru selesai. Oh ya, maaf sebelumnya jika Bibi terkesan ikut campur. Tapi tadi malam, Bibi melihat kamu dan Tuan Ray pulang. Tapi yang bikin Bibi kefikiran, kenapa Tuan Ray kembali bersikap dingin dan berwajah datar? Apa kalian ada masalah tadi malam?" tanya Bibi pelan, bukan ingin ikut campur masalah Fatimah dan Rayyan, hanya saja Bibi Aisyah ingin tau, setidaknya misal ada masalah, Bibi Aisyah bisa bantu.
Mendengar pertanyaan Bibi Aisyah, Fatimah pun akhirnya menceritakan kejadian tadi malam.
"Ya Allah, jadi seperti itu?"
"Iya, Bi. Sebenarnya wanita itu juga gak sengaja menumpahkan minumannya di baju aku. Tapi Mas Ray yang terlanjur emosi langsung memarahinya, Wanita itu bahkan sampai terlihat gugup dan ketakutan. Aku langsung membawa Mas Ray pulang karena takut bikin kekacauan di pesta orang. Apalagi saat itu, banyak mata yang melihat ke arah aku, Mas Ray dan wanita itu."
"Tapi wanita gak sampai dipukul kan?" tanyanya cemas.
"Enggak kok, ak juga tidak mungkin membiarkan Mas Ray main tangan di depan banyak orang," jawabnya membuat Bibi mengenal nafas.
"Syukurlah."
Mereka terus mengobrol hingga akhirnya Pak Han datang meminta Fatimah untuk menemui Rayyan di ruang kerjanya.
Fatimah pun langsung bangkit dari tempat duduknya, dan tak lupa pamit pada Bibi Aisyah. Sebelum pergi ke ruang Rayyan, Fatimah menyempatkan waktu untuk buat teh hangat dan membawakan camilan untuk Rayyan.
__ADS_1