Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Menangis Bersama


__ADS_3

Bibi Aisyah segera memandikan Fatimah dengan lembut, sepanjang ia memandikannya, Fatimah terus merintih kesakitan, namun matanya masih tertutup rapat. Bibi Aisyah pun hanya bisa menangis, sambil terus menyabuninya. Ia tak ada pilihan lain selain menuruti perintah Tuan Ray. Andai ia bisa atau boleh memilih, ia ingin membawa Fatimah ke rumah sakit agar semua lukanya itu bisa segera terobati. Dan Fatimah tak lagi merasakan sakit seperti ini.


Setelah memandikan Fatimah, dengan susah payah Bibi Aisyah memindahkan Fatimah lagi ke atas ranjang kasur, lalu ia memakaikan baju milik mendiang Nona Felisha. Tak ada baju tertutup, yang ada hanya baju terbuka. Dan mau gak mau, Bibi Aisyah memakaikan baju yang kurang bahan itu ke tubuh Fatimah.


Baju tertutup yang pernah di pakai oleh Nona Felisha untuk menutup luka dari perbuatan Nyonya Anita dan Tuan Alex, sudah di bakar habis. Hingga tak menyisakan satu baju pun. Hanya ada baju terbuka yang tetap berada di dalam lemari, baju itu adalah baju kesukaan Nona Felisha yang sering kali di pakai sehari-hari.


"Maafin Bibi, Nak. Bibi gak punya kuasa untuk membantah ucapan Tuan Ray." Bibi Aisyah meminta maaf berulang-ulang. Dengan tubuhnya yang tak lagi muda, dan tangan yang sudah mulai keriput, Bibi Aisyah mulai merias wajah Aisyah dengan make up, yang lagi-lagi milik Nona Felisha. Bibi Aisyah juga memakaikan parfum milik Nona Felisha ke tubuh Fatimah.


"Ayah ... ampun, Yah. Tolong jangan pukul aku dan Ibu lagi yah. Sakit yah ... jangan siksa Ibu lagi yah, sakit yah ... sakit hiks hiks .... " Fatimah mengigau dan menangis dengan mata yang masih tertutup.


Lagi, Bibi Aisyah hanya bisa menangis melihat Fatimah yang mengigau seperti itu. Bibi Aisyah menghapus air mata yang terus mengalir dari mata yang tertutup itu.


"Yah, jangan jual aku Yah. Aku harus jaga Ibu, Yah. Aku harus jaga Ibu. Ibu sakit, siapa yang akan merawatnya jika aku gak ada. Tolong ampuni aku, Yah. Jangan jual aku. Ampun yah, ampun yah ... sakit yah, sakit hiks ... Ibu ... Ibu ... sakit, Bu .... " Fatimah terus mengigau membuat Bibi Aisyah memeluk Fatimah dengan erat.

__ADS_1


"Oh Tuhan, apa yang sudah di alami wanita ini. Penderitaan semacam apa yang sudah ia lalui sepanjang hidupnya?" ucap Bibi Aisyah dengan bibir yang bergetar.


Tak lama kemudian, Fatimah pun membuka matanya, ia kaget saat ia berada dalam pelukan wanita tua.


Melihat Fatimah sadar, Bibi Aisyah pun tersenyum. Dengan lembut, ia menghapus air mata Fatimah.


"Nenek siapa?" tanyanya dengan takut.


Bibi Aisyah pun memperkenalkan dirinya dan mengajak Fatimah untuk ngobrol agar bisa mengurangi rasa takutnya.


"Jadi, sekarang aku ada di mension oran jahat itu?" tanyanya dengan bibi bergetar menahan tangis.


"Iya, sebenarnya Tuan Ray itu orang baik, tapi masa lalu yang kelam membuat dirinya menjadi jahat seperti ini. Kamu harus bisa membuat dia kembali seperti dulu, Nak. Bibi yakin, kamu pasti bisa melakukannya." ucap Bibi Aisyah dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku merubahnya, Bi. Jika aku bahkan gak kenal dengannya. Dia orang yang sudah membeli aku dari ayah tiriku. Oh Tuhan, bagaimana dengan keadaan Ibuku saat ini. Bibi, tak bisakah Bibi bantu aku keluar dari rumah ini. Saat ini Ibuku tengah sakit, dia tidak bisa turun dari ranjang, siapa yang akan memandikannya, menggantikan popoknya, menyuapinya, dan merawatnya. Aku takut, Bi. Aku takut, Ayah tiriku akan menyiksa Ibuku dan membunuhnya. Ayah tiriku sangat jahat, Bi. Dia suka mukul aku dan Ibu. Aku takut, Ayah tiriku akan menghabisi nyawa Ibuku. Bagaimana aku harus menolongnya, Bi. Aku takut ibuku kenapa-napa. Hanya dia yang aku punya saat ini." Fatimah menangis dan menceritakan masalahnya.


Bibi Aisyah kembali menangis mendengar cerita pedih Fatimah.  Bibi bingung, bagaimana ia bisa membantu Fatimah sedangkan ia sendiri tak punya kekuasaan.


Tak lama kemudian pintu terbuka. Tuan Ray datang dan menatap tajam ke arah Fatimah dan Bibi Aisyah yang sedang menangis.


"Bibi, boleh keluar sekarang!" ucapnya dingin. Bibi Aisyah hanya bisa memandang wajah Fatimah yang penuh ketakutan, namun ia lagi-lagi hanya bisa melihat wajah sedih itu. Bibi keluar dengan hati yang sakit. Ada orang yang membutuhkan pertolongannya, namun Bibi gak bisa membantunya sama sekali.


Bibi Aisyah keluar dari kamar itu dengan sesekali masih melihat ke arah Fatimah, yang seperti memohon agar Bibi Aisyah jangan pergi dari sana.


"Bibi, cepat!" teriak Tuan Ray.


Bibi Aisyah pun segera pergi dari sana, meninggalkan Fatimah berdua dengan Tuan Ray di kamar itu. Saat Bibi Aisyah sudah keluar, Tuan Ray pun menutup pintu itu dengan keras sampai membuat Bibi Aisyah  yang tak jauh dari pintu itu merasa kaget. Ia hanya bisa mengelus dada, melihat Tuan Ray yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri mempunyai watak yang sangat kejam seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2