Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Keajaiban Itu Ada


__ADS_3

Kabar kematian pada akhirnya sampai juga di telinga Asisten Rio dan Tuan Ray. Bahkan Pak Han dan semua ART di mension pun juga sudah mengetahuinya. Mereka menangis berjamaah, tak menyangka jika pada akhirnya Fatimah akan pergi secepat ini.


Bibi Aisyah sendiri sampai detik ini belum juga sadarkan diri, setelah dokter memberitahu jika Fatimah sudah tiada, Bibi Aisyah langsung pingsan seketika. Mbak Nana pun yang tau dari Dokter Ratih jika Fatimah sudah meninggal, langsung meluncur ke rumah sakit.


Asisten Rio menatap ke arah Ray yang masih belum bereaksi apa-apa, walaupun sudah mendengar jika Fatimah sudah tiada. Asisten Rio ingin datang ke rumah sakit, tapi ia tidak mungkin pergi begitu saja. Ia sudah berjanji akan selalu menemani Ray kemanapun ia pergi, terlebih Asisten Rio sudah terikat kontrak.


Akhirnya, Asisten Rion hanya bisa duduk diam di kursi dengan raut wajah gelisahnya.


Di rumah sakit, Mbak Nana sudah datang dan langsung melihat keadaan Fatimah. Dokter Ratih masih ada di ruangan itu dan masih menangis tersedu-sedu.


"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Mbak Nana dengan suara bergetar, ia menatap Fatimah yang sudah ia anggap adiknya itu, kini sudah tak lagi bernyawa.

__ADS_1


"Aku gak tau, tapi sepertinya tadi malam Ray, memperko-sanya lagi. Ada luka lecet di alat kemalu-annya. Dan mungkin Fatimah sudah frustasi sehingga memilih untuk mengakhiri hidupnya, luka di lenganya terlalu besar dan dalam, bahkan sampai mengenai urat nadinya," ucap Dokter Ratih menjelaskan dengan air mata yang terus bercucuran.


Mbak Nana juga melihat ada banyak bercak merah di leher dan dada Fatimah. Mbak Nana memeluk Fatimah, ia menangis meraung-raung. Ia fikir, Fatimah sudah bahagia, tapi kenyataanya Fatimah masih mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari Ray.


"Kenapa sih dia jahat banget, emang Fatimah salah apa?" tanya Mbak Nana dengan tangisannya. Ia masih memeluk Fatimah dengan erat, seakan tak rela jika Fatimah pergi untuk selamanya.


Saat Mbak Nana memeluk Fatimah, ia seakan menyadari jika tangan Fatimah bergerak. Mbak Nana pun langsung kaget dan langsung menjauhkan dirinya dari tubuh Fatimah.


"Tih, Ratih .... " panggilnya berteriak.


"Tih, lihat itu!" Mbak Nana menunjuk ke arah jari Fatimah yang masih bergerak.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Dokter Ratih.


"Itu tangan Fatimah bergerak."


"Kamu jangan bohong deh," ucapnya kesal. Dalam keadaan seperti ini, Nana masih ingin bercanda.


"Aku gak bohong, sumpah! Coba kamu lihat dulu," ujarnya. Dan Dokter Ratih pun melihat jari-jari tangan Fatimah dan benar saja, jari Fatimah bergerak walaupun sangat pelan sekali, bahkan jika tidak lihat secara teliti, mungkin tidak akan ada yang menyadari itu.


Dokter Ratih pun langsung mengecek keadaaan Fatimah, dan detak jantungnya kembali walaupun sangat lemah.


"Allahuakbar, ini keajaiban." Dokter Ratih pun kaget namun juga merasa begitu bahagia. Ia memencet bell yang ada di atas kepala Fatimah, bell yang langsung menghubungkan ke beberapa ruangan dokter.

__ADS_1


"Kamu keluar dulu ya, aku harus menangani Fatimah dulu," ucapnya. Dan Mbak Nana pun langsung menganggukkan kepalanya, ia pergi keluar, namun sebelum itu, ia menatap ke arah Fatimah dan berdoa, semoga kali ini Fatimah mau berjuang sekali lagi.


Tak lama kemudian, beberapa dokter datang menemui Ratih. Dan Ratih pun langsung menjelaskannya. Saat itu juga, mereka langsung ambil tindakan untuk menyelamatkan nyawa Fatimah. Dan mereka berharap kali ini, Fatimah tidak menyerah begitu saja.


__ADS_2