
Rayyan menyapa Alfian dengan tatapan cerianya. Alfian adalah sahabatnya sama seperti Rio. Tapi sayangnya, Alfian memilih untuk tinggal di luar negeri ketimbang di negaranya sendiri.
Namun Rayyan tak mempermasalahkannya, toh selama ini komunikasi mereka tetap lancar.
"Kenapa baru nongol sekarang?" tanya Rayyan sambil memeluk Alfian, pelukan seorang sahabat.
"Iya, sibuk banget aku," balasnya berbohong. Karena kenyataannya, dulu dia pernah pulang saat Rio dan Ratih meminta tolong padanya untuk membawa istri Rayyan ke negara tempat dirinya berada.
Hanya saja, waktu itu semuanya tertunda karena Rio sudah mengambil langkah lebih cepat dengan memberkati Rayyan sebuah obat yang membuat Rayyan lupa segalanya.
Akhirnya Alfian pun kembali ke negaranya, dan baru kemaren ia tiba di Indonesia lagi, setelah Rio mengabarkan jika Rayyan mulai ingat masa lalunya dan kini nyawa Fatimah terancam.
Selama ini Alfian hanya melihat foto dan vidio Fatimah. Yah, Rio mampu meretas cctv di kamar Fatimah untuk memberikan bukti pada Alfian, bahwa apa yang dibicarakannya bukanlah omong kosong.
Karena awalnya susah untuk membuat Alfian percaya dengan apa yang disampaikan oleh Rio maupun Ratih. karena Alfian berfikir, Rayyan tak mungkin sejahat dan sekejam itu.
Namun kenyataannya, setelah Alfian melihat langsung vidio yang diberikan oleh Ratih dan Rio, akhirnya Alfian pun mempercayainya dan berjanji akan membuat Rayyan jera.
Alfian akan membawa Fatimah pergi dari kehidupan Rayyan. Bagaimanapun, Alfian tak akan membiarkannya Fatimah dan bayinya mati di tangan sahabatnya sendiri.
Jujur, sampai detik ini, Alfian masih tak menyangka jika sahabatnya berubah menjadi monster yang mengerikan.
__ADS_1
Bahkan Rayyan sangat keji saat menyiksa Fatimah.
"Gimana kabarnya?" tanya Rayyan.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri?"
"Baik, juga."
"Katanya kamu sudah nikah?" Pancing Alfian.
"Sudah, tapi istriku meninggal." Jawabnya.
"Ya, namanya Felisha. Dia sudah meninggal."
Alfian hanya manggut-manggut, dia sedikit banyak tau tentang Felisha, dia adalah istri pertama Rayyan, yang meninggal karena bunuh diri.
"Gak nikah lagi?" tanyanya sekali lagi.
"Enggak, kamu sendiri? Sudah nikah?" tanya Rayyan, walaupun sering komunikasi, mereka jarang bahas masalah pribadi. Keseringan yang di bahas masalah bisnis, perusahaan, tukar ide dan yang lainnya yang berkaitan dengan kekuasaan dan bagaimana agar perusahaan semakin maju dan berkembang pesat di beberapa negara.
"Belum, masih nyari."
__ADS_1
"Emang belum nemu?"
"Belum."
"Type kamu seperti apa? Jangan lama mencari, nanti bisa jadi perjaka tua," godanya terkekeh.
"Haha, gak papa perjaka tua. Asal sekali nikah, dapat yang yang pas dan sesuai," jawabnya.
"Kamu gak ketemu Rio?"
"Belum, dia sibuk kerja terus. Jarang chat aku, bahkan kalau bukan aku duluan yang chat, dia gak akan chat. Kamu jangan kasih dia kerjaan trus dong, bisa mati muda dia, kerja siang malam," sindirnya. Padahal sejak kejadian dimana Rayyan membeli Fatimah ke Ayah tirinya, sejak saat itu, Rio seringkali mengirim pesan. Tentu yang mereka bahas adalah keadaan Fatimah, dan bagaimana cara menyelamatkan Fatimah.
"Haha, itu kan sudah kerjaan dia."
"Iya sih, tapi ya jangan gitu-gitu jugalah, biarkan dia istirahat dulu walaupun bentar. Setiap aku telfon, setiap aku vidio call, setiap aku chat, pasti dia selalu terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan saat dia pulangpun, dia masih membawa pekerjaan dari kantornya untuk diselesaikan di apartemennya."
"Tapi itu sebanding dengan gaji dan fasilitas yang dia dapatkan."
"Iya juga sih" Alfian sudah tak bisa berkata-kata jika Rayyan membalas seperti itu.
Tak lama kemudian, dua pelayan datang membawakan minuman dan kue kering untuk Alfian dan Rayyan. Setelah itu, mereka berdua pun pergi dari sana, karena tak berani juga berada di dekat Rayyan terlalu lama, karena rasanya takut dan gemetar juga. Takut jika mereka melakukan kesalahan dan berakibat fatal.
__ADS_1