Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Perlakukan Rayyan Yang Semakin Parah


__ADS_3

Pagi harinya, Fatimah merasa tubuhnya begitu lemas. Bagaimana tidak lemas, jika semalaman ia di gempur oleh sang suami, terlebih suaminya juga  meminta Fatimah olah raga di atasnya. Semua badannya juga pada bengkak, karena Rayyan melakukan hubungan badan sambil terus memukul Fatimah, layaknya samsak.


Rayyan baru pergi setelah adzan subuh tiba. Setelah Rayyan pergi ke kamarnya, barulah Fatimah berani menangis. Tak lama kemudian, diam-diam pintu terbuka kembali, dan itu membuat Fatimah merasa takut karena ia berfikir suaminya kembali untuk terus melanjutkan penyiksaan yang di lakukan hampir semalaman.


Namun untungnya, yang masuk kali ini bukan Rayyan, melainkan Bibi Aisyah. Yah, sejujurnya, Bibi Aisyah sudah dari setengah jam yang lalu berdiri di depan kamar Fatimah. Namun ia tidak berani mendekat dan sembunyi di balik dinding. Baru setelah memastikan Rayyan balik ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Bibi Aisyah langsung melangkahkan kakinya menemui Fatimah di kamarnya.


Lagi, Bibi Aisyah di buat menangis dengan penampilan Fatimah yang selalu mengerikan setelah Rayyan keluar dari kamar Fatimah. Bibi Aisyah langsung memeluk Fatimah dengan erat. Mereka menangis bersama.


"Sakit, Bibi. Badan aku rasanya sakit semua," keluh Fatimah dengan suara lemahnya.


"Bibi tau, Nak. Bibi tau." Ya, tanpa Fatimah cerita pun, Bibi Aisyah bisa mengetahuinya hanya dengan sekali melihat.


"Aku gak sanggup, Bibi. Aku bisa mati kelelahan jika seperti ini terus menerus. Tuan Ray, bukan hanya meminta haknya, ia juga terus menerus memukul aku semalaman. Aku sakit, tapi gak berani menangis. Dia menggampar pipi aku, menjambak rambut aku, meremas kedua susu aku dengan sangat keras, hingga rasanya aku ingin mati, dia memukul perutku berulang-ulang, aku bahkan sampai muntah beberapa kali. Maaf, aku mengotori lantainya," ucap Fatimah. Bibi Aisyah bahkan baru sadar jika di samping tempat tidur, ada banyak muntahan di sana. Tadi karena terlalu fokus sama Fatimah, Bibi Aisyah bahkan tidak menyadari jika di lantai dasar ada banyak muntahan Fatimah.


"Jika ada waktu untuk bisa kabur, kaburlah, Nak," bisik Bibi Aisyah dengan suara sangat kecil sekali. Ia memeluk sambil ngomong berbisik. Karena ia tau, jika di kamar ini ada CCTV dan perekam suara yang terhubung di hp Rayyan.


"Bagaimana caranya?" tanya Fatimah juga dengan berbisik.

__ADS_1


"Sebulan lagi, sahabat Tuan Rayyan yang dari luar negeri akan datang. Bibi akan meminta bantuannya untuk bisa menolong kamu keluar dari sini. Bersabarlah selama sebulan ke depan. Kamu kuat, kan?" tanyanya.


"Aku gak tau, apakah aku masih hidup sampai bulan depan. Saat ini aja, rasanya aku ingin mati," ucapnya dengan tangisan.


Bibi Aisyah memeluk Fatimah semakin erat.


"Kamu gak boleh mati. Kamu harus kuat, demi ibumu. Bukankah kamu mau bertemu ibumu. Hmm?" tanyanya.


Mendengar kata Ibu, Fatimah menganggukkan kepala.


"Jangan sampai kamu lemah. Kamu harus kuat demi ibumu. Bibi juga akan bantu kamu buat ketemu sama Ibumu kelak. Saat ini, berpura-pura lah untuk menjadi wanita lemah dan turuti semua kemauannya. Sampai waktunya tiba, kamu bisa segera keluar dari neraka ini," tuturnya membuat Fatimah pun kembali tenang.


Bibi Aisyah membantu Fatimah untuk berdiri, namun baru aja berdiri, kaki Fatimah seperti bergetar. Ia bahkan tidak bisa bertumpu pada  dirinya sendiri.


"Aku gak bisa berdiri, Bi. Aku lemas," ucapnya dengan nada sedih.


Bibi Aisyah mengerti, lalu ia keluar untuk meminta bantuan Sofi. Bagaimanapun Bibi Aisyah sudah tua, tenaganya tidak sekuat saat ia masih muda dulu.

__ADS_1


Saat Sofi melihat keadaan Fatimah, ia bahkan hampir saja menangis histeris. Karena tak tega, Bibi Aisyah menceritakan semuanya dengan suara kecil. Agar tidak terdengar oleh Rayyan. Mungkin Rayyan tau jika saat ini, di kamar Fatimah ada Bibi dan Sofi. Tapi setidaknya mereka tidak mendengar karena mereka berbicara bahkan seperti orang berbisik. Sangat kecil sekali. Bibi Aisyah sudah mengingatkan Sofi, untuk bersikap biasa aja, dan menahan kesedihannya dan jangan bicara yang aneh-aneh, karena bisa jadi, saat ini mereka semua sedang di pantau.


Sofi pun berusaha untuk tenang, walau air mata terus mengalir bercucuran.


Dengan bantuan Sofi dan Bibi Aisyah, mereka pun berhasil membawa Fatimah ke kamar mandi dan membantu Fatimah untuk membersihkan diri. Saat Sofi membuka selimut yang sedari tadi membungkus tubuh Fatimah, ternyata bukan hanya wajah aja yang bengkak, tapi seluruh tubuh terutama bagian perut yang lebam parah.


"Tuan Ray, semoga Tuhan memberikan adzab yang setimpal pada Tuan, semoga kelak Tuan merasakan sebuah kepedihan yang teramat sangat, sampai Tuan sendiri lebih memilih mati dari pada bertahan hidup," ucap Sofi dalam hati. Ia sudah merasa geram, jika bukan karena takut akan kekuasaannya, Sofi pasti akan memilih menghujam Rayyan dengan senjata tajam sampai tubuh Rayyan tak dapat di kenali lagi.


Sesama wanita, Sofi juga ikut merasakan sakit walau bukan dia yang di siksa semalaman. Tapi ia seakan ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Fatimah.


Saat tubuh menyentuh kulit Fatimah, Fatimah terus menangis dan merintih kesakitan. "Sakit, perih," ucapnya sambil menangis. Sofi dan Bibi Aisyah pun juga turut menangis pedih.


Mereka memandikan Fatimah dengan air hangat, tak lama, hanya sepuluh menit saja, setelah itu, barulah Fatimah mengambil wudhu.


Selesai ambil wudhu. Sofi dan Bibi Aisyah membantu Fatimah memakai baju dan memakai mukenah. Fatimah sholat dengan duduk, karena ia masih belum kuat untuk berdiri. Bahkan sholat sambil duduk pun, sesekali tubuh Fatimah seakan mau roboh. Untungnya, Fatimah seakan berusaha untuk bertahan hingga akhir.


Setelah itu, Fatimah langsung berdoa, mengangkat tangannya dan dengan memejamkan mata, ia berdoa dalam hati. Ia menangis, mengungkapkan ketidak berdayaannya saat ini.

__ADS_1


Bibi Aisyah dan Sofi mengamini, walaupun mereka tidak tau, doa apa yang kini di panjatkan oleh Fatimah.


__ADS_2