Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Bulan Madu


__ADS_3

Dua bulan lebih sudah mereka melewati hari-hari bersama dan selama itu pula, Fatimah dan Rayyan semakin akrab dan romantis. Bahkan kini mereka akan berangkat ke Bali untuk bulan madu. Mereka berangkat menggunakan pesawat ekonomi, bukan pesawat pribadi ataupun pesawat bisnis. Dan itu semua atas permintaan Fatimah yang ingin bulan madu seperti masyarakat biasa. Bukan seperti seorang sultan yang apa-apa harus di layani dan serba ada.


Bahkan tak ada yang mengikuti mereka berdua, termasuk Asisten Rio yang merupakan asisten pribadinya.


Selama perjalanan, seperti pasangan lainnya. Fatimah akan sedikit bermanja, tapi tidak sampai berlebih yang bikin orang ilfil melihatnya. Bagaimanapun Fatimah tau batasan-batasannya dan ia tak mungkin mempermalukan diri sendiri dengan memperlihatkan dirinya seperti seorang yang haus akan bela-ian.


Sesampai di Bali, mereka menginap di penginapan biasa aja, tidak di hotel bintang lima atau tempat tempat mewah lainnya. Fatimah ingin membuat pengalaman yang berbeda, jika selama ini Rayyan selalu di layani, tapi tidak dengan sekarang. Fatimah ingin mereka melakukan semuanya berdua, agar lebih romantis dan lebih menyenangkan tentunya.


Saat sampai di penginapan pun, Rayyan tidak mengeluh atau apa. Dia menikmati apa yang ada dan menuruti semua permintaan istrinya tanpa adanya sebuah penolakan. Rayyan ingin membahagiakan istrinya dan menebus kesalahan yang pernah dia lakukan.


Sedangkan Fatimah, ia melakukan semua ini, karena ingin membuat kencan sederhana tapi  penuh makna. Dan dia berharap, jika kelak Rayyan mengingat semuanya dan masih membenci dirinya, Fatimah ingin Rayyan bisa mengingat kenangan manis yang pernah terjadi di antara mereka.


Saat sampai di kamar, Rayyan dan Fatimah langsung istirahat lebih dulu untuk melepas rasa lelah. Mereka duduk santai sambil melihat pantai, mengobrol berdua dan saling  menggoda satu sama lain.


Setelah merasa cukup barulah Fatimah membuka kopernya dan memindahkan baju yang ada di koper ke lemari yang ada di kamar penginapan mereka.


"Mau mandi bareng?" tanya Fatimah.


"Emang boleh?" tanya Rayyan dengan sangat antusias sekali.


"Boleh," balas Fatimah tersenyum manis.


"Kamu gak takut lagi sama aku?" tanyanya memastikan.


"Enggak, asal jangan kasar lagi."


"Iya, aku janji."


Dan akhirnya mereka pun pergi ke kamar mandi bersama, hanya mandi, tanpa melakukan hubungan badan. Walaupun Rayyan sangat ingin, tapi dia berusaha untuk menahannya karena ia masih takut jika Fatimah masih trauma akan kejadian dulu.

__ADS_1


Rayyan akan menunggu, sampai Fatimah yang mengatakan sudah siap. Maka saat itu juga, dirinya tidak akan bimbang lagi untuk melakukannya, memuaskan Fatimah sampai dia bisa menikmati surga dunia. Tak akan ada lagi kekerasan, ia ingin memperlakukan Fatimah dengan lembut dan pakai hati.


Selesai mandi dan bersiap-siap, barulah mereka pergi ke pantai dan bergabung dengan yang lain. Berjalan di pesisir pantai dan sesekali main air.


Kadang Fatimah sengaja menyimpratkan air ke tubuh Rayyan hingga membuat tubuh atas Rayyan basah, dan saat Rayyan ingin membalasnya, Fatimah akan segera lari menjauhinya. Akhirnya mereka lari-lari di sekitar pantai hingga nafas mereka ngos-ngosan.


Setelah mendapatkan Fatimah, Rayyan langsung menarik tangan Fatimah hingga Fatimah menubruk badan kekar Rayyan.


Setelah itu, Rayyan memegang pinggang Fatimah dan mengangkat Fatimah. Fatimah pun langsung tertawa sambil merentangkan kedua tangannya.


Mereka terlihat sangat romantis sekali, bahkan orang-orang di sekelilingnya pun sampai di buat iri melihat keromantisan dan kebahagiaan Rayyan dan Fatimah.


Namun Rayyan dan Fatimah tidak memperdulikannya, karena Rayyan dan Fatimah memilih fokus untuk bersenang-senang dan menikmati kebersamaan mereka berdua.


Fatimah juga mengambil foto dirinya dan Rayyan dengan memakai Hp Rayyan. Sengaja memakai hp suaminya, agar kelak Rayyan bisa melihat kebersamaan mereka berdua di hp miliknya.


Karena saat ini, Rayyan menjadi baik karena efek obat hingga melupakan masa lalunya. Namun, jika Rayyan ingat kembali siapa dirinya dan bagaimana dulu ia menjadi pria yang kasar dan kejam, tak menutup kemungkinan, jika tubuh Fatimah akan kembali dijadikan samsak. Dan bisa jadi, Fatimah akan mati di tangan Rayyan.


Setelah puas bermain-main, Rayyan pun mengajak Fatimah untuk makan. Fatimah tak menolaknya karena ia juga merasa perutnya sudah perih.


Mereka memilih makan di warung yang ada di pinggir pantai. Nasi, ikan bakar, sambal, lalapan dan kerupuk. walaupun menunya sangat sederhana, tapi rasanya seperti bintang lima. Rayyan sendiri bahkan sampai harus nambah nasi karena sangking enaknya.


Melihat Rayyan makan dengan lahap, tentu Fatimah merasa bahagia. Karena suaminya mau makan makanan kaum rendahan seperti dirinya. Rayyan tak malu untuk makan bersama  dengan pengunjung yang lain, makan lesehan dan menggunakan tangan.


"Kamu kok gak makan?" tanya Rayyan karena melihat Fatimah hanya menatap dirinya sedari tadi.


"Entahlah, mendadak aku kenyang melihat Mas Rayyan makan."


"Kenapa? Aku rakus ya?" tanyanya.

__ADS_1


"Bukan. Tapi aku seneng lihat suamiku yang tampan ini  makan dengan sangat lahap."


"Iya, mungkin efek lapar, terus suasananya juga mendukung, terlebih rasanya juga nikmat, jadi bikin aku ingin nambah terus. Tapi masakan kamu jauh lebih enak kok," puji Rayyan membuat Fatimah terkekeh.


"Iya aku tau, buktinya aku bisa bikin Mas Ray gemuk," ujarnya tertawa, membuat Rayyan pun akhirnya ikut ikutan tertawa.


"Benar, gara-gara kamu masak banyak setiap hari, berat badan aku sampai nambah lima kilo. Bahkan perutku yang rata pun  mulai sedikit buncit," balas Rayyan membuat Fatimah terkekeh.


"Enggak papa, bagaimanapun bentuknya Mas Rayyan, aku tetap cinta kok." akunya.


"Emang kamu cinta aku?" tanya Rayyan.


"Tentu, Mas Rayyan kan suamiku. Jadi sudah seharusnya kan aku mencintai Mas Rayyan. Emang Mas Ray gak cinta aku?" tanyanya.


"Cinta dong. Mana mungkin aku tidak mencintai istri secantik kamu, sebaik kamu, se-sholehah kamu. Bagi aku, kamu itu paket lengkap. Cantik, iya. Body bagus, iya. Putih, iya. Manis, iya. Sholehah, iya. Pinter masak, iya. Dan banyak lagi deh kelebihannya. Jadi, mustahil jika aku tidak mencintai wanita sesempurna kamu. Malah aku selama ini berfikir, apakah kamu mencintai aku?"


"Pastinya. Aku pasti akan mencintai Mas Ray, apapun yang terjadi nanti, bahkan jika aku harus mati di tangan Mas Ray, aku ikhlas," balas Fatimah dengan mata yang berkaca-kaca, melihat hal itu, membuat hati Rayyan seakan berdenyut sakit.


Rayyan pindah posisi, yang tadinya di depan Fatimah, kini berada di samping Fatimah. Lalu ia memeluk Fatimah dengan hati-hati karena tangannya kotor dan belum cuci tangan, karena  memang dirinya belum selesai makan.


"Jangan ngomong gitu," ucap Rayyan dengan suara serak.


"Kita gak tau apa yang akan terjadi di masa depan, Mas. Jika kamu ingat semuanya, kamu pasti akan kembali seperti dulu, menjadikan tubuh aku samsak dan akhirnya membuat aku harus bertaruh nyawa lagi."


Mendengar ucapan Fatimah, membuat dada Rayyan semakin sesak.


"Setiap habis melakukan hubungan badan, pada akhirnya aku akan berakhir di rumah sakit, entah aku yang tiba-tiba koma, kritis, harus di operasi, kadang sampai muak,  dan malu sendiri sama dokter di sana." imbuh Fatimah dengan mata berkaca-kaca.


"Maafin aku. Maaf," hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Rayyan. Karena ia bingung harus ngomong apa lagi, mengingat dosa-dosanya pada Fatimah memang banyak dan entah bagaimana caranya agar ia bisa menebus semua kesalahannya di masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2